Berawal dari Kado Pacar, Sekarang Langganan Jenderal

Berawal dari Kado Pacar, Sekarang Langganan Jenderal

  Sabtu, 16 April 2016 09:10
TERAMPIL: Umar menunjukkan beberapa hasil karyanya di rumahnya.KHAFIDLUL ULUM/JAWA POS

Hobi yang ditekuni secara serius bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah. Misalnya, yang dilakukan Umar Siswanto, owner BIOart Handycraft. Keterampilan tangan yang awalnya hanya kesenangan kini berubah menjadi usaha sandaran hidup. Bahkan, banyak jenderal polisi yang jadi pelanggan. KHAFIDLUL ULUM

UMAR Siswanto hanya mendapatkan oleh-oleh pasir berwarna putih dari temannya yang baru pulang dari Pantai Balekambang, Malang, pada 2001. Meski hanya pasir, dia sangat senang. Pasir itu dimasukkan botol air mineral. Mungkin, benda tersebut tidak terlalu berharga bagi kebanyakan orang. Namun, bagi Umar, pasir itu sangat bernilai.

Material tersebut dijadikan salah satu bahan untuk membuat kerajinan tangan berupa kotak bungkus kado. Beberapa minggu dia sibuk memikirkan pembungkus kado yang menarik untuk dijadikan ulang tahun bagi sang pacar, Anik Rahayu. ’’Sekarang mantan pacar karena sudah jadi istri saya,’’ ujar pria kelahiran Desa Buduran, Kecamatan Buduran, itu. Dia memanfaatkan kardus bekas yang dibentuk menjadi kotak. Bagian atasnya ditaburi pasir dan dihias sisa karung goni. Kotak cantik tersebut dimanfaatkan sebagai pembungkus kaus untuk hadiah ulang tahun.

’’Isinya biasa, tapi bungkusnya yang bagus,’’ katanya, lantas terkekeh. Selain itu, Umar memanfaatkan botol kaca yang diisi pasir dan kertas ucapan selamat ulang tahun. Sang pacar sangat senang saat menerima hadiah itu. Anik juga kagum dengan karya Umar. Saking tertariknya, dia pun meminta Umar untuk membuat lagi guna dijual. ’’Nanti saya jualkan ke temen sekolah,’’ kata Umar menirukan perkataan Anik yang saat itu masih sekolah di SMA Hang Tuah 2 Sidoarjo.

Teman Umar pun siap menjual karyanya karena menganggapnya layak jual. Dengan modal Rp 200 ribu, dia membuat 25 buah kerajinan tangan. Yaitu, pigura dari kertas dan pesan dalam botol. Dia banyak memanfaatkan barang bekas dalam membuat produk tersebut. Ketika selesai, barang itu diserahkan ke Anik dan temannya. Ternyata banyak anak muda yang senang dengan hasil karya Umar.

Hobi itu pun terus ditekuni Umar. Banyak anak muda yang memesan kado ulang tahun, diary, pigura, jam hias, dan barang lainnya. ’’Tetangga dan teman-teman saya semakin banyak yang pesan,’’ ungkapnya. Saat berkuliah di UPN Veteran Jatim, Umar tetap menekuni hobi yang menghasilkan pundi-pundi rupiah itu.

Bahkan, dia mencoba menitipkan barang di gift shop di Waru. Dia juga berjualan di Alun- Alun Sidoarjo. ’’Tapi ditawar murah. Akhirnya, saya enggak teruskan jualan di alun-alun,’’ katanya. Selanjutnya, dia membuka toko bersama saudaranya di Pucang. Setelah dua tahun, Umar lantas membuka usaha di Perumahaan Gading Fajar 2, Siwalanpanji, Buduran. Pelanggannya pun semakin banyak. Bukan hanya tetangga dan teman, para pejabat di lingkungan pemkab pun banyak yang memesan suvenir darinya.

Pada 2009 Umar menikah dengan Anik. Dia lantas membuka toko di dekat rumahnya di Desa Buduran. Usaha kerajinan tangan milik Umar semakin berkembang. Bukan hanya dari pejabat pemkab, pejabat kepolisian juga banyak yang memesan. Dia masih ingat polisi yang pertama memesan produknya. Yakni, Tjuk Basuki yang ketika itu menjadi Kapolda Jogjakarta. Produk tersebut dipesan untuk suvenir pernikahan anaknya. Setelah itu, dari mulut ke mulut, semakin banyak polisi yang mengenal produk bikinan Umar.

’’Pejabat Polres Sidoarjo juga banyak yang pesan,’’ tuturnya. Begitu juga perwira Polda Jatim, Polda Metro Jaya, dan Mabes Polri.

Saat serah terima jabatan (sertijab) Komjen Pol Budi Waseso sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Umar juga mendapat or der membuat suvenir. Dia hanya diberi waktu dua hari untuk menyelesaikan pesanan. Jumat order datang, Sabtu harus selesai dan di kirim ke Jakarta. Dia pun mengerahkan 10 kar yawannya untuk merampungkan pesanan itu. Pria pencinta sambelan tersebut mengungkapkan, dia bisa menerima pesanan da ri 40 orang dalam sebulan. ’’Itu paling ba nyak,’’ paparnya. Kadang dia berusaha menolak pesanan karena sudah cukup banyak yang dikerjakan. Namun, karena orangnya ngotot, dia pun tidak bisa menolak. Kini Umar mempunyai rumah produksi sendiri di Perumahan The Taman Dhika, Jalan Kesatrian, Buduran. (lum/c15/tia)