Berawal dari Hobi Gambar dan Gemar Menulis Cerita

Berawal dari Hobi Gambar dan Gemar Menulis Cerita

  Sabtu, 26 March 2016 11:10
NOVEL: Hima saat menunjukkan novel karyanya berjudul Behind the Mirror yang akan diluncurkan April mendatang. DIL AQSA AKBARY/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Salah satu penulis muda asal Pontianak, Hima akan memperkaya koleksi sastra lokal dengan menerbitkan sebuah novel fiksi berjudul Behind The Mirror. Berawal dari hobi membuat cerita bergambar, novel setebal 177 halaman diselesaikan selama tiga bulan. IDIL AQSA AKBARY, Pontianak

KESENANGANNYA membuat cerita bergambar (komik) sejak duduk dibangku sekolah dasar, akhirnya mengantarkan gadis bernama Mar'atussalimah ini menulis sebuah novel. Ditambah ketertarikannya dengan cerita-cerita misteri, turut mempengaruhi kisah fiksi yang dituangkan dalam 177 halaman berjudul Behind The Mirror.

“Behind The Mirror jika diartikan ke bahasa Indonesia, dibalik kaca, kisah tentang seorang pengidap bipolar sindrom atau dua kepribadian,” terangnya saat menunjukkan hasil novelnya kepada Pontianak Post, Jumat (25/3).

Gadis berusia 23 tahun yang akrab disapa Hima ini menuturkan, novel yang ditulisnya berkisah tentang tokoh utama bernama Ciara. Ciara dalam bahasa yunani berarti hitam dan misterius. Sorang yang memiliki gangguan psikologi bipolar sindrom atau gangguan kejiwaan berperilaku ganda.

“Ciara seolah memiliki sorang teman ilusi yang diberi nama Sally. Latar belakang bipolar terjadi ketika tidak ada seseorang yang bisa mengerti dengan orang tersebut,” katanya.

Bergenre misteri dan dibumbui konflik persahabtan, novel ini menggunakan alur maju mundur. Sally sebagai tokoh ilusi ternyata merupakan bagian dari masa lalu Ciara, yaitu saat masih anak-anak.

Ciara juga merupakan korban bullying ketika remaja, hal itu berpengaruh pada kepribadiannya. “Saat masih kecil dia juga memiliki seorang kaka, sang kaka meninggal dan ayahnya sebenarnya menyalahkan Ciara atas kematian kakanya, tapi Ciara sendiri tidak tahu,” terangnya.

Hima melanjutkan, setelah tumbuh dewasa Ciara memiliki tiga orang sahabat bernama Abi, Devita dan Riani. Dari sana muncul konflik hingga terjadi kasus pembunuhan kepada Roy yang merupakan pacar Riani. “Konflik terjadi saat Roy terbunuh,” jelasnya.

Dari sana terjadi banyak kesalahpahaman antara Ciara dan Riani, karena terbukti ada perselingkuhan. Di dalam pemecahan masalah ini tokoh Devita dan Abi diposisikan sebagai penengah. “Banyak kejutan ditawarkan dari misteri terbunuhnya Roy,” katanya.

Menurut Hima, novel perdananya ini diselesaikan dalam kurun waktu sekitar tiga bulan. Ditulis mulai November 2015 hingga Januari 2016. Rencananya baru akan dilaunching pada 16 April mendatang.

Lulusan IKIP PGRI Jurusan Matematika tahun 2015 ini menceritakan proses kreatifnya membuat novel bermula dari hobi membuat cerita bergambar. Meski sudah banyak membuat penggalan-penggalan kisah dalam bentuk komik namuan dia merasa selalu kesusahan membuat secara utuh dari awal hingga akhir.

“Karena susah bikin komik tidak jadi-jadi, dicoba bikin novel malah bisa selesai,” ujarnya.

Kuncinya hanya satu yaitu konsistensi. Untuk itu selama proses menulis novel tersebut dalam sehari dirinya selalu menyempatkan diri menulis. Hima yang sejak kecil senang menonton kartun, lalu karena selalu tidak puas dengan akhir ceritanya, membuat dia memilih mengarang cerita dengan imajinsi sendiri. Dari sana justru membuat idenya semakin terasah. “Awalnya dari outline kemudian diimprovisasi, cerita berkembang sendiri,” papar anak pertama dari tiga bersaudara ini.

Selama proses penulisan, tak jarang rasa malas juga kerap menghantui. “Saat ide mentok kemudian malas menulis, biasanya berhenti dulu untuk mencari hiburan,” akunya.

Dari penulisan novel ini, dia pun mengaku banyak terbantu dari berbagai referensi. Mulai dari teman sendiri hingga menjajal dunia maya di internet. “Seperti saat ingin menggambarkan situasi di IGD saya harus tanya teman yang sudah pernah masuk IGD,” katanya lagi.

Walaupuan telah berhasil menulis novel dan cukup banyak diapresiasi berbagai kalangan, ke depan Hima masih ingin membuat cerita bergambar. “Mudah-mudahan dari bikin novel, bikin cerita bergambar bisa sampai selesai,” tandasnya.(*)

Berita Terkait