Beratap Terpal, Siswa Bawa Bangku Sendiri

Beratap Terpal, Siswa Bawa Bangku Sendiri

  Rabu, 17 Agustus 2016 11:03
PEJUANG: Dahlia (51) sebagai guru honor yang memperjuangkan pendidikan di kampungnya. Murid di awal buka, harus bawa bangku sendiri. FAHROZY/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Nasib Dahlia; Honorer yang Mengajar Sejak Sekolah Belum Ada

Dahlia guru honor di SD Negeri 50 Sukadamai Dusun Pelanjau Desa Bukit Segoler layak berpredikat pahlawan tanpa tanda jasa. Meski tak kunjung jadi PNS, Ibu 51 tahun ini memiliki jasa luar biasa memajukan pendidikan di kampungnya.

FAHROZI- Sambas

MATAHARI meninggi. Cuaca kemarau memperparah panas yang dipancarkannya. Para murid terlihat bermain di halaman sekolah dengan riang. Menunggu jam masuk, serta 

menanti para guru mengakar.

"Baru Ibu Dahlia pak yang ada," kata Ida, seorang murid kelas dua yang kemudian kembali bergabung dengan teman-temannya. Selang beberapa waktu, para guru termasuk Kepala SD pun datang. Para murid dibariskan. Lantaran hari Sabtu, setelah berbaris bersama para guru. Seluruh murid memungut sampah yang berserakan agar bersih.

Dilanjutkan dengan kegiatan senam bersama. Menggunakan laptop serta sound sistem seadanya. Menggunakan jenset yang tak lagi bagus. Musik iringan senam pun dibunyikan. Dibimbing guru yang ada, para siswa menikmati senam bersama. Meski beberapa kali genset mati dan musik iringan senam pun berhenti.

Selain para guru yang mengikuti senam. Beberapa pengajar lainnya terlihat duduk sambil melihat anak-anak didiknya berolah raga. Satu diantaranya terlihat, guru yang paling tua duduk dibangku kayu depan ruang kelas.

Ya itu adalah ibu Dahlia. Satu dari dua guru honorer yang ada di sekolahan tersebut. Mengenakan jilbab, baju olah raga. Ibu sederhana tersebut, sekali-kali senyum ketika melihat kelucuan siswanya mengikuti gerakan senam.

“Bu Dahlia adalah guru senior di SD ini. Selain itu, beliau juga salah satu orang yang berjasa sehingga adanya sekolah di kampung ini,” kata Heri Kelana, Kepala SD Negeri 50 Sukadamai, Kecamatan Tebas. 

Usai senam, para murid pun kemudian masuk ke kelasnya masing-masing. Kelas yang cukup sederhana bahkan jauh dari kata bagus. Dahlia pun memulai proses belajar mengajar, suara lirih tapi tegas terdengar dari ruangan sebelah yang hanya dipisahkan dengan papan penyekat ruangan. 

Setelah meminta izin ke kepala SD. Dahlia kemudian berbincang mengenai cerita dirinya sebagai orang yang berjasa adanya SD Negeri 50 Sukadamai.

Dulu, Sekolah ini adalah cabang dari SD Negeri Pelanjau. Proses belajar mengajar saat itu, dilakukan di bangunan milik warga yang tak digunakan. Hanya berdinding dan berlantai kayu papan. Warga pun kemudian menambahkan terpal untuk atap agar belajar lebih nyaman. 

“Awalnya di 2007, masih menggunakan bangunan kosong, dan beratapkan

terpal,” kata Dahlia. Bahkan siswa yang akan bersekolah, harus membawa bangku (kursi) sendiri dari rumah.

Dahlia, saat itu sebenarnya adalah guru ngaji di kampung. Oleh warga diberi kepercayaan untuk mengajar seperti dalam sebuah sekolah. Karena berpikiran, kalau bukan warga kampung ini. Siapa lagi yang akan memajukan pendidikan anak-anak disini.

“Kebetulan saya juga masih ada anak usia SD. Jadi saya berpikir, kalau tidak dimulai dari saat itu, kapan lagi dan siapa lagi yang akan memperhatikan pendidikan anak-anak kampung ini. Jadi saya pun bersedia mengajar,” kata ibu empat anak tersebut.

Pertama kali, ada sekitar 20 muridnya. Dan kelas saat itu baru ada tiga, yakni kelas I, II dan III. Dirinya pun hanya sendirian mengajar di tiga ruang kelas tersebut. Dirinya pun masih ingat betul, para orang tua (setiap anak) membayar iuran Rp6 ribu per bulan.

Lama kelamaan, ibu yang telah ditinggal sang suami untuk selama-lamanya sejak 2005 ini pun merasa kewalahan. 

Dirinya pun mengajak anak pertamanya untuk membantu proses belajar mengajar. Saat itu bersedia, dan sampai sekarang putri pertama Dahlia, juga masih sebagai guru honorer di SD Sukadamai. Sejak saat itu, anak-anak ataupun mereka yang secara umur tak lagi duduk di bangku SD di kampong tersebut, bersekolah. Sehingga anak putus sekolah mulai berkurang. Sampai satu tahun berlangsung, keberadaan sekolah cabang ini, terus dipantau Kepala SD Pelanjau. Karena ada kemajuan, Dahlia diminta untuk terus melanjutkan. Dalam perjalanannya, keponakan Dahlia yang bekerja di Brunei. Saat itu, pulang kampung. Majikannya pun ikut (ke kampung). 

Saat berjalan-jalan, majikan dari keponakannya tersebut melihat tempat belajar mengajar. Dan bertanya itu tempat apa. Dan dijawab itu adalah sekolah. Karena prihatin, majikan keponakannya pun memberi bantuan berupa papan untuk memperbaiki sekolah dan meja kursi yang ada. 

Beberapa tahun kemudian, ada dari Dinas Pendidikan juga memantau keberadaan sekolah. Hingga akhirnya dibuatkan bangunan dua lokal. Karena masih kurang ruang kelas, saat ini disekat. Dan untuk dua kelas lainnya menggunakan bangunan lama yang kondisinya memperihatinkan dipindah dan disandingkan dengan bangunan baru.

Meski sekolah masih dalam kondisi yang serba kekurangan. Dahlia bersyukur, keberadaan sekolah ini membantu para orang tua dalam menyekolahkan anaknya. Karena RT 13 RW 6 Dusun Pelanjau. Adalah kampung yang dikelilingi sungai, jadi akses masuk melewati air. Kemudian harus menempuh bentangan kebun sawit yang memisahkan dengan dusun lainnya.

 “Kalau sekarang, karena sudah ada sekolah. Warga bisa mudah menyekolahkan anaknya. Anak putus sekolah pun berkurang (untuk tingkat SD),” katanya.

Dahlia pun sampai sekarang masih semangat mengajar. Meski dengan status honorer dengan gaji Rp400 ribu sebulan. Semangat mencerdaskan anak-anak kampung masih melekat dipundaknya. (*) 

Berita Terkait