Beras Langka, Harga Melonjak, Siap OP

Beras Langka, Harga Melonjak, Siap OP

  Selasa, 18 Oktober 2016 09:30

Berita Terkait

PUTUSSIBAU – Badan urusan logistik (Bulog) Putussibau terus melakukan monitor harga beras di pasar Kota Putussibau. Langkah tersebut dilakukan mereka untuk mengantisipasi terjadinya lonjakan dan kelangkaan beras di pasaran. Sebab, jika terjadi lonjakan atau harga di atas harga normal dan terjadi kelangkaan, mereka akan menggelar operasi pasar (OP). Dengan demikian, harapannya stok dan harga beras di masyarakat tetap stabil.

“Kami menggelar OP bila harga beras di pasaran dianggap sudah melebihi harga normal penjualan,” terang kepala Bulog Putussibau, Halpid Handi Agus, Senin (17/10) di Putussibau. Dikatakannya, saat ini harga beras di pasaran masih stabil. Beras premium, disebutkan dia, dijual dengan kisaran harga Rp13 – Rp15 ribu perkilogram. Sedangkan beras medium, menurut dia, dijual dengan harga Rp11 – Rp12 ribu perkilogram, di mana harga ini juga dianggap masih normal.

Agus mengatakan, untuk mengantsipasi terjadinya kenaikan harga jual beras di pasaran, mereka menggelar OP dengan menjual beras komersil, dengan harga yang rendah yakni Rp9.900 perkilogram. Dalam melakukan OP tersebut, pihaknya juga melibatkan para pedagang yang ada. "OP biasanya kami lakukan di hari besar nasional, seperti Idulfitri, Iduladha, serta Natal,” ungkap dia.

Sebab, kata Agus, pada momen hari besar tersebut harga beras cenderung naik. Untuk OP, menurut dia, biasanya dilakukan sampai ke kecamatan. Ini, dilakukan mereka, dengan tujuan agar harga beras di kecamatan stabil. Saat ini pihaknya bahkan sudah mengadakan kerja sama dengan salah satu pemilik toko di Kecamatan Badau. Itu dilakukan mereka untuk mengantisipasi terjadinya lonjakan harga dan kelangkaan beras di daerah perbatasan negara.

"Kami tidak hanya melakukan oprasi pasar di Putussibau saja, tapi sampai ke kecamatan," katanya. Diterangkannya, saat ini stok beras di gudang Bulog Putussibau jumlahnya sekitar 1.100 ton. Jumlah tersebut, menurutnya, terdiri dari beras yang berasal dari dalam negeri sebanyak 500 ton dan beras dari luar negeri sebanyak 600 ton. Dengan jumlah stok tersebut, ia optimistis Kapuas Hulu tak akan mengalami krisis pangan.

Agus menjelaskan, untuk beras yang dari dalam negeri berasal dari Sulawesi Selatan, dan untuk persediaan beras yang berasal dari luar negeri itu terdiri dari beras Vietnam 300 ton dan beras dari Thailand, 300 ton. “Kualitas berasnya bagus, sama dengan beras umumnya,” terang dia.

Karenanya dia yakin kebutuhan beras di Kapuas Hulu untuk tahun 2016 ini tetap cukup sampai akhir tahun ini. (aan)

 

Berita Terkait