Bendungannya Jebol, Tak Pernah Dioperasikan

Bendungannya Jebol, Tak Pernah Dioperasikan

  Rabu, 10 Agustus 2016 10:18
PROYEK GAGAL: Warga Desa Sungai Abau, Kecamatan Batang Lupar menunjukan bangunan PLTMH oleh EBTKE, Kementerian ESDM kerjasama dengan PLN yang nyaris jebol. MUSTA’AN/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Proyek gagal yang menyedot dana pusat melalui kementerian terkait kembali ditemukan di Kapuas Hulu. Kali ini menyangkut, Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hydro (PLTMH)  di desa Sungai Abau kecamatan Batang Lupar, Kapuas Hulu.

Mustaan, Kapuas Hulu

PROYEK yang melibatkan Dirjen EBTKE (Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi) dibawah Kementerian ESDM ini dibangun tahun 2012 hingga kini tidak difungsikan.

Tidak difungsikannya proyek dengan nilai Rp 2,4 miliar itu ditengarai kuat karena proyek tersebut gagal dan tidak dirawat. Karena saat ini bendungan sudah jebol, demikian juga dengan peralatan lain dibiarkan di lokasi. Akibatnya, sejak dibangun sekitar tahun 2012, pembangkit listrik tersebut sampai sekarang tidak beroperasi.

Sementara, masyarakat tetap berharap PLTMH itu digunakan masyarakat.

“Jangankan menikmati listrik, melihat kabelnya saja tidak pernah,” ungkap Kilat, warga Desa Sungai Abau, Selasa (9/8) kemarin.

Padahal, kata dia lagi, berdasarkan keterangan dari berbagai pihak yang pernah ia dengar PLTMH yang dibangun dilokasi air terjun Sungai Sedik itu mampu membangkitkan tegangan berkapasitas tinggi, sehingga mampu mengaliri listrik di seluruh Kecamatan Batang Lupar.

Bahkan, kata Kilat, dana yang digunakan sangat besar, yakni miliaran rupiah, sampai saat ini belum pernah dihidupkan mesin pembangkitnya. Karena tak pernah beroperasi dan pelihara, menyebabkan bendungan air retak dan hampir jebol. Sementara masyarakat sekitar hanya menikmati listrik pada malam hari.Dan listrik tersebut bersumber dari PLN di Desa Lanjak ibu kota kecamatan Batang Lupar.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Dusun Sungai Abau, yakni Nyaring, berharap proyek tersebut dapat dilanjutkan, karena masyarakat mengharapkan desa mereka bisa dialiri listrik siang dan malam dari potensi alam di desa mereka.

“Kami sangat berharap PLTMH itu bisa berfungsi sesuai rencana awal. Sayang tidak dilanjutkan, karena sudah banyak menghabiskan uang negara,” paparnya singkat.

Saat wartawan mengkonfirmasi kepada Yuniardi Kepala Bidang Energi, Distamben Kabupaten Kapuas mengaku dirinya tidak mengetahui persis pembangunan PLTMH di Desa Abau tersebut. Karena jika ada proyek dari kementerian (pusat), jarangan di koordinasikan ke kabupaten.

“Tahun 2012 saya belum masuk, kalau pun ada proyek dari Kementerian jarang koordinasi ke ditamben ini,” terangnya.

“Mereka  tidak ada kasi tau. Tiba-tiba kami lihat sudah dibangun, tapi pengelolanya diinstansi lain,” ujar Yuniardi. Dia berharap jika ada program pembangunan dari pusat hendaknya dikoordinasikan terlebih dahulu ke Pemda melalui dinas teknis. Sehingga jika ada masalah bisa diketahui dan dicari solusinya.

“Kalau program yang diusulkan dari daerah kami tahu lokasi dan prosedurnya,”ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama, mantan Kasi Listrik dan Pemanfaatan Energi, Distamben Kapuas Hulu Yusnaini menjelaskan, pembangunan PLTMH di Desa Sungai Abau tersebut menelan biaya sekitar Rp 2,4 milyar langsung dari dana pusat. Melalui Dirjen EBTKE (Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi) dibawah Kementerian ESDM. “Yang kami tahu itu proyek dari kemanterian ESDM,” paparnya.

Menurut dia, jaringan listrik dari bendungan sungai tersebut tidak berfungsi karena debit air sungai tersebut tidak memadai.

“Pekerjaannya benar, cuma masalah debit air yang tidak cukup. Maksimal daya air di bendungan tersebut hanya 25 Kw. Lokasinya dulu itu bekas bendungan air bersih,” kata Yusnaini. Saat bersamaan proyek EBTKE tahun 2012 itu juga dibangun di Kalteng dan disana berhasil.

“Dikalteng listriknya beroperasi hingga sekarang,” jelasnya. Dijelaskan Yusnaini lagi, pembangunan proyek tersebut menggunakan skema On-grid system yang terkonek ke PLN, maka pembangunannya dilimpahkan kepada PLN untuk selanjutnya mencari pelaksana pekerjaan. Hanya saja dia tidak tahu persis siapa sebenarnya pelaksana proyek tersebut karena koordinasi dengan Ditamben tidak lancar.

Sementara manager PLN Rayon Putussibau Mario Martua Gultom juga mengaku dirinya tidak tahu persis prosedur pembangunan PLTMH tersebut. Kendati demikian, usai pembangunan PLN pernah melakukan comissioning (uji coba) dan berhasil. “Pernah uji coba, selanjutnya kami tidak tahu lagi. Saya pernah datang kesana, bendungan sudah jebol, mesin dan pipa masih bagus,” terang dia. (*)

Berita Terkait