Bencana Film Bencana: Geostorm Diperkirakan Keok di Box Office

Bencana Film Bencana: Geostorm Diperkirakan Keok di Box Office

  Sabtu, 21 Oktober 2017 12:31
KEREN: Film ini bergantung kepada efek spesial ketimbang akting atau dialog cast. (WARNER BROS.)

Berita Terkait

Bujet tinggi dan cast A-list tidak menjamin sebuah film sukses di box office. Begitulah nasib proyek terbaru Warner Bros., film tentang bencana badai dahsyat, Geostorm. Film berbujet USD 120 juta (Rp 1, 6 triliun) itu diperkirakan harus puas di posisi kedua box office pekan ini.

Para kritikus menjagokan film berbujet hanya USD 25 juta (Rp 337 miliar) Tyler Perry's Boo 2! A Madea Halloween sebagai pemuncak untuk Amerika Utara.

Prediksi tersebut seakan mengulang catatan pekan lalu. Film horor remaja Happy Death Day menggeser jawara box office sebelumnya, Blade Runner 2049. Bahkan, memaksa pendapatan sekuel Blade Runner itu mengalami penurunan pendapatan hingga 51 persen. Padahal, dari segi bujet dan cast, kedua film tersebut bak langit dan bumi.

Geostorm diperkirakan hanya mencatat USD 10 juta–12 juta (Rp 135 miliar–Rp 162 miliar) di akhir pekan pertama alias separo pendapatan Boo 2!. Catatan itu tentu mencoreng debut produser film bencana Dean Devlin sebagai sutradara layar lebar.

Di sisi lain, tak banyak review soal film yang mendapatkan rating 38 persen dari Rotten Tomatoes serta 7 dari IMDb tersebut. Hanya ada beberapa dari media Asia dan Australia. Di antaranya, The Straits Times. Media yang berbasis di Singapura itu memberikan 1,5 bintang buat Geostorm.

John Lui, kontributor The Straits Times, mengungkapkan, film tersebut mirip dengan Independence Day (1996) dan sekuelnya Independence Day: Resurgence (2006) yang diproduseri Devlin. ’’Film itu terasa retro dan memaksakan diri. Tiap karakter menampilkan perasaannya tanpa emosi, seperti reporter membacakan berita,’’ papar Lui.

Sementara itu, media Australia Daily Review memberikan bintang tiga di antara lima. Luke Buckmaster, jurnalis media tersebut, menyatakan, film itu punya sisi politis. Dia menjelaskan, dalam film, Amerika Serikat digambarkan sebagai pahlawan sekaligus kucing tukang acak-acak. ’’Intinya, individualisme. Semua masalah diselesaikan pahlawan tunggal dan konservatif, Jake (nama tokoh utama Gerard Butler dalam film, Red),’’ tulisnya.

Padahal, Devlin berambisi menjadikan Geostorm sebagai film yang relatable dengan kondisi sekarang. Terutama dengan kasus badai besar yang saling susul di kawasan Amerika. ’’Menurutku, perubahan cuaca tersebut tidak akan membaik dengan sendirinya. Kita harus beraksi secepat-cepatnya. Itu adalah film popcorn (ringan, Red). Namun, kurasa pesan yang disampaikannya sangat relevan,’’ tuturnya dalam event world premiere di TCL Chinese Theatres, Hollywood, Senin (16/10).

Meski demikian, Warner Bros. bisa berharap banyak dari pasar mancanegara. Hingga kemarin (20/10), film tersebut memuncaki film asing di delapan negara di Asia. Film itu juga mulai dipasarkan di 50 negara per pekan ini. Termasuk pasar besar film Hollywood seperti Jerman, Rusia, Korea Selatan, Brasil, Inggris, dan Meksiko. (*)

(fam/c22/ayi)

Berita Terkait