Ben Budiman dan Idealisme Menjaga Keindonesiaan via Tempe di AS

Ben Budiman dan Idealisme Menjaga Keindonesiaan via Tempe di AS

  Sabtu, 12 December 2015 08:36
CITA RASA INDONESIA: Ben Budiman bersama istrinya Claudia Budiman menunjukkan berbagai produk olahan makanan mereka. Dokumen Ferdinand Benjamin Budiman

Bagi Ben Budiman yang sudah berstatus warga AS, usaha tempe miliknya adalah medium ”diplomasi” memperkenalkan negeri kelahiran. Karena itu, dia menolak berkompromi soal cita rasa. DINARSA KURNIAWAN, San Jose.

PESANAN dari sejawatnya asal Indonesia itu seperti mengetuk kepala Ben Budiman. Dengan segera dia tersadar: ada peluang usaha yang terbuka di depan mata.Peluang tersebut bernama tempe. ”Pesanan dari Marvell Technology itu menyadarkan saya, ternyata banyak yang suka tempe bikinan mama saya,” ujar Ben.Marvell Technology adalah perusahaan di Santa Monica yang didirikan orang Indonesia Sehat Sutarja. Mereka memesan tempe untuk konsumsi para karyawan.

Praktis, jumlah pesanan yang diawali pada 2000 itu tidak sedikit. Dari sanalah Ben yang bernama lengkap Ferdinand Benjamin Budiman tersebut lalu tergerak mendirikan pabrik tempe.Usaha makanan yang di AS dilafalkan ”tempeh” itu diberi brand Budiman Food. Pabriknya berlokasi tak jauh dari kediaman keluarga Ben di San Jose, California, Amerika Serikat (AS).

Lima belas tahun berselang, Ben yang awalnya datang ke AS untuk belajar ilmu komputer itu justru akhirnya lebih dikenal berkat tempe produknya. Jaringan pembeli tetap sudah dia miliki.

Tidak kurang 12 tempat di seantero Negara Bagian California menjual tempe buatan Ben dan istrinya, Claudia Budiman, tersebut. Mulai resto di San Jose dan Berkeley, toko makanan Asia di Hayward, sampai distributror individual di Sacramento.    

Ben yang sehari-hari bekerja sebagai software engineer di IBM kerap membawa barang jualannya tersebut ke sejumlah festival dan gathering. Selain itu, dia membuat website khusus untuk Budiman Food yang berisi cara pemesanan tempe serta berbagai informasi mengenai makanan tersebut. Di situs itu, dia menyebut tempenya sebagai ”Tempe Malang”.

Dalam sebulan pria bernama lengkap Ferdinand Benjamin Budiman itu mampu menjual tempe sampai 3 ribu potong. Berat satu potong 300 gram. Berarti dalam sebulan dia menjual sampai 900 ribu gram atau 900 kilogram tempe.

Budiman Food juga menyediakan mi serta bakso buatan Claudia. Namun, pembuatannya murni berdasar pesanan. Jadi, dalam sebulan setiap produk itu terjual sekitar 50 kg.

Kendati kelasnya masih home industry, yang diraihnya bersama tempe produknya itu sama sekali tak pernah dibayangkan Ben. Maklum, tempe produk sendiri tersebut awalnya hanya untuk konsumsi pribadi. Atau kadang saat menjamu para kolega, terutama yang berasal dari Indonesia.

”Ibu saya dari Malang dan mahir membuat tempe. Saat pindah ke sini pada 1985, dia tetap membuat tempe,” kenang pria yang telah 33 tahun bermukim di AS itu.

Tidak lama setelah Ben tinggal di AS, keluarganya memang menyusul ke Negeri Paman Sam. Termasuk orang tuanya. Tiga dekade di sana, Ben sekeluarga kini telah mengantongi status sebagai US citizen.

Negara Bagian California memang dikenal sebagai rumah besar yang nyaman bagi penduduk dari berbagai etnis. Semacam melting pot. Orang kulit putih dan hitam yang berbaur bersama warga Hispanik, Eropa Timur, serta orang-orang keturunan Asia mudah ditemukan di sana.

Namun, Ben mengungkapkan, status kependudukan itu sama sekali tak melunturkan keindonesiaannya. Pria kelahiran Lampung, 30 Mei 1963, tersebut masih sangat fasih bertutur dalam bahasa Indonesia.

Begitu juga dengan menu makanan. Lidah ayah dua anak, Benson Budiman dan Gabriel Budiman, tersebut masih sangat akrab dengan menu dari tanah kelahiran. Bagi dia, itu salah satu cara untuk tetap terhubung dengan akarnya: Indonesia. Tempe pun kemudian dijadikan medium ”diplomasi” untuk memperkenalkan negeri kelahiran yang tak pernah ingin dia lupakan.

Sejatinya tanpa berbisnis tempe pun, hidup Ben sekeluarga sudah berkecukupan. Maklum, dia bekerja di sebuah perusahaan teknologi besar yang telah hadir di 170 negara.

”Tapi, saya memang punya misi lebih memperkenalkan Indonesia melalui tempe di Amerika. Sekaligus juga menjaga warisan keluarga sebagai pembuat tempe,” katanya.

Tempe sebenarnya sudah dikenal lama di AS. Berdasar publikasi ilmiah berjudul Possible Sources of Proteins for Child Feeding in Underdeveloped Countries yang termuat dalam American Journal of Clinical Nutrition disebutkan, tempe diketahui di AS sejak 1946.

Pada 1960 Cornell University melakukan riset tentang tempe. Setahun berselang, Mary Otten menjadi orang AS pertama yang membuat tempe. Lalu, tempe pertama dijual di negeri yang dipimpin Barack Obama itu oleh Gale Randall di Undadilla, Nebraska, pada 1975.

Dalam perjalanannya, tempe di AS sudah sering dimodifikasi untuk disesuaikan dengan taste setempat. Di antaranya, dicampur dengan gandum, biji bunga matahari, wijen, atau campuran lainnya. Kebanyakan tempe diolah menjadi aneka menu untuk orang-orang vegetarian.   

Tapi, sesuai misinya memperkenalkan Indonesia, Ben menghindari kompromi seperti itu. Dia tidak tertarik untuk memodifikasi produk buatannya. Dia tetap bertahan pada idealisme bahwa tempe adalah produk asli Indonesia yang hanya dibuat dari hanya kedelai yang difermentasi.

”Kalau mau makan tempe, ya yang original. Ini adalah warisan keluarga saya,” ujar Ben. 

Keaslian itu pula yang lantas mengikat konsumennya. Ari Sufiati, perempuan asal Indonesia yang tinggal di San Francisco, mengaku selalu memesan makanan buatan Ben untuk dikonsumsi sendiri bersama keluarga. Juga, ketika ada acara-acara dengan komunitas warga Indonesia di AS.

”Taste-nya sangat Indonesia. Keluarga dan teman-teman saya cocok dengan rasanya,” terang perempuan asal Surabaya itu.Kendati usahanya berkembang pesat, Ben tidak mau menyebut nominal keuntungan yang dihasilkan dari bisnis kuliner khas Indonesia tersebut. ”Pokoknya, keuntungannya sudah lumayan lah,” paparnya.

Sampai kini, usaha tersebut tetap dikelola sendiri oleh Ben dan Claudia. Biasanya mereka bekerja membuat tempe pada akhir pekan. Sedangkan sehari-hari, ketika Ben bekerja, Claudia-lah yang mengurusi pabrik milik mereka.Memang tebersit di benak Ben untuk membesarkan usahanya tersebut. Namun, itu terbentur ongkos tenaga kerja yang mahal di AS. Dia membuka tangan jika ada pihak yang mau bekerja sama dengannya untuk meningkatkan skala bisnis.”Asal setuju dengan syarat utamanya: tetap mempertahankan cita rasa Indonesia,” katanya. (*/c10/ttg)