Belum Terapkan Kebijakan Belanja Plastik Berbayar

Belum Terapkan Kebijakan Belanja Plastik Berbayar

  Rabu, 24 February 2016 09:05
Gambar dari JawaPos

Berita Terkait

PONTIANAK - Kepala Badan Lingkungan Hidup Kalimantan Barat Darmawan mendukung kebijakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar memberlakukan plastik berbayar meskipun Kalbar belum menerapkan kebijakan itu. "Kebijakan di provinsi belum ada. Tapi kami dukung," kata Darmawan, kemarin.

Dalam kebijakan Meteri LHK tersebut setiap penggunaan kantong plastik harus membayar Rp200 perlembar. Menurutnya, hal itu dinilai efektif untuk mengurangi peredaran kantong plastik."Plastik ini kan elemen yang sulit diurai. Saya kira ini bukan soal nilai uangnya, tapi lebih mendidik masyarakat agar tidak tergantung pada kantong plastik. Jika ingin berbelanja, lebih baik membawa kantong dari rumah. Sehingga peredaran kantong plastik semakin lama akan semakin berkurang," ujarnya.

Menurut Darmawan, larangan untuk menggunakan kantong plastik sebenarnya sudah lama diberlakukan di negara-negara luar. Bahkan, Indonesia sendiri kesadaran akan tidak lagi menggunakan kantong plastik sudah ada beberapa tahun lalu. Namun sifatnya baru individu."Sebenarnya larangan menggunakan kantong plastik sudah lama diterapkan di negara luar. Di Indonesia baru sekarang, itu pun melalui kebijakan plastik berbayar.  Tapi pemahaman soal itu, ada individu yang sudah paham," bebernya.

Terkait dengan kebijakan tersebut, pihaknya mengimbau agar masyarakat ikut terlibat dalam pengurangan sampah plastik dengan membawa kantong plastik saat berbelanja, baik di pasar modern maupun di pasar tradisional.Saat ini sebanyak 22 pemerintah kota berkomitmen menerapkan kebijakan kantong plastik berbayar guna mengurangi pencemaran lingkungan dari sampah plastik.Berdasarkan data yang dikeluarkan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Pontianak, 17 persen sampah plastik merupakan penyumbang sampah di TPA Batu Layang. Di jelaskan dia, pada dasarnya plastik yang beredar di masyarakat merupakan plastik yang sulit diolah. Bahkan sulit hancur.

Baru-baru ini pemerintah pusat membuat kebijakan pendistribusian plastik yang gampang diolah. Plastik olahan itu dapat hancur dalam waktu 1-2 tahun. Pencanangan pempus tidak itu saja, saking serius dalam hal pengurangan jumlah sampah plastik, mereka (pempus) juga canangkan pemberlakukan plastik berbayar di 23 kota seluruh Indonesia.Nanti distribusi plastik berbayar melalui retail atau toko-toko modern. Contohnya, beli barang, plastik yang digunakan juga mesti dibayar.

Di Pontianak, volume sampah terus bertambah tiap tahun. Salah satu penyumbang adalah sampah plastik. Di hari peduli sampah nasional, pihaknya akan membuat gebrakan demi pengurangan penggunaan plastik. Gerakan itu dinamakan “diet tas kresek”.Dalam pelaksanaan nanti, akan merebut tas kresek dan mengganti dengan tas daur ulang, berbahan kain serta lainnnya yang dibuat bank sampah.Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Kota Pontianak Haryadi S Wibowo mendukung peraturan pemerintah terkait pengurangan volume sampah plastik. “Komitmen kami mengubah pola pikir masyarakat dalam menggunakan kantong plastik sebagai tempat belanjaan,” kata Haryadi, Selasa (23/2).

Pihaknya akan melakukan sosialisasi untuk mengurangi pemakaian kantong plastik dengan membagikan tas belanja di pasar tradisional. “Kami akan turun ke pasar tradisional. Tempatnya belum ditentukan, tapi yang pasti dalam dua atau tiga hari program ini akan kami laksanakan,” katanya.Pembagian tas belanja berbahan rotan, keladi dan kain bekas ini tentunya akan mendukung produksi UMKM untuk berkembang. Perlahan perilaku dan pola pikir masyarakat akan berubah jika ada yang memulai. Walaupun Kota Pontianak tidak ditunjuk secara langsung, kami menyambut dan mendukung pemerintah untuk melaksanakan peraturan ini.

Menurut Haryadi, peraturan seperti ini tidak akan berjalan dengan baik jika pola pikir masyarakat untuk terus menggunakan kantong plastik tetap ada. Masyarakat akan tetap membayar plastik tersebut karena mereka butuh. Justru akan menguntungkan pihak supermarket sebagai penyedia kantong plastik tersebut. “Mestinya diberikan diskon kepada konsumen yang membawa tas belanjaan sendiri dari rumah. Saya kira itu akan lebih efektif,” tuturnya.“Seperti saat masyarakat ingin membeli bubur atau es cendol, akan lebih baik jika membawa tempat sendiri dari rumah. Selain lebih sehat, tentunya dapat mengurangi pemakaian kantong plastik,” ujarnya.(arf/mif)

Berita Terkait