Belum Bisa Nyalip di Tikungan Belakang

Belum Bisa Nyalip di Tikungan Belakang

Senin, 30 November 2015 08:38   984

Oleh Dahlan Iskan

Awal tahun lalu kita masih sangat optimistis: Ekonomi tahun 2015 masih akan sangat baik. Para capres masih menjanjikan tumbuh 7 persen.Awal tahun ini kita begitu pesimistis, terutama setelah melihat rupiah terus merosot. Rupiah sempat menyentuh 15.000 per dolar AS. Bahkan, ada yang mengira, pada akhir 2015 kita akan begitu hancurnya.Akhir tahun ini ternyata kita bisa sedikit bernapas lega: memang tidak bagus, tapi ternyata tidak hancur. Padahal, perpolitikan kita begitu gonjang-ganjingnya.
Kesimpulannya, kita masih harus bersyukur karena ekonomi kita baik-baik saja. Pemutusan hubungan kerja (PHK) memang ada, tapi tidak sedahsyat yang dibayangkan. Nilai rupiah memang masih rendah, tapi mulai stabil: stabil-rendah. Harga komoditas memang masih jatuh, tapi tidak lebih jatuh lagi. Bahkan, harga minyak sawit sedikit bergerak. Naik, walau sedikit. Bahkan, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dengan bangga mengumumkan produksi beras kita naik sampai 5 juta ton. Dan, menurut beliau, kita akan ekspor beras. Sampai hampir setengah juta ton.
Banyak yang meragukan angka itu (terutama karena terjadinya kemarau panjang dan tidak adanya strategi yang berubah drastis). Tapi, Pak Menteri meyakinkan kita bahwa ”beda sopir, beda hasilnya”. Metromini yang sama bisa berlari lebih cepat dengan menteri yang berbeda.
Gebrakan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti juga menunjukkan hasil nyata. Bahkan, saat ini industri galangan kapal panen raya. Semua galangan kapal penuh order. Membuat kapal-kapal baru. Kerja 24 jam. Galangan kapal yang khusus membuat tongkang pun tidak jadi mati. Padahal, mereka sempat waswas: Anjloknya harga batu bara membuat perdagangan batu bara lesu. Ekspor mati kutu. Angkutan transhipment yang biasa memerlukan banyak tongkang menurun drastis. Tapi, banyaknya order pembuatan kapal baru nontongkang akhirnya tumpah ke galangan tongkang. Memang tidak lagi memproduksi tongkang, tapi bisa menjadi penyangga galangan kapal.
Saya juga bersyukur Jawa Pos Group tidak terlalu terkena krisis. Memang pabrik kertas Jawa Pos Group menderita (tidak bisa ekspor kertas lagi). Namun, koran-koran Jawa Pos Group masih terus berkibar. Manajemen Jawa Pos Group, setelah delapan tahun tanpa saya, ternyata kian kukuh. Saya kaget, saat krisis ekonomi koran-koran seperti Manado Post, Malang Post, Kaltim Post, Radar Lampung, Padang Ekspres, Batam Pos, Riau Pos, Radar Cirebon, dan lain-lain sesekali justru terbit 100 halaman.
Memang kita berhak iri melihat Filipina dan India. Dua negara itu tumbuh 7 persen tahun ini. Luar biasa. Filipina, yang begitu ruwetnya, bisa tumbuh 7 persen. Filipina memang beruntung. Punya presiden yang kuat sekali: Ninoy Aquino. Mungkin karena dia bujangan. Tidak punya istri dan anak. Mungkin karena dia memang bersih. Mungkin karena dia satu-satunya presiden yang ibunya juga presiden. Yang jelas, dia memang hebat. Tahun lalu saya diterima sebagai tamunya di Istana Malacanang dan saya akui kehebatannya. Pokoknya, orang Filipina berkesimpulan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi itu murni faktor kekuatan presidennya. Faktor-faktor di luar itu hampir tidak ada bedanya dengan kita.Tapi, kita juga tidak usah terlalu iri. Setinggi-tinggi pertumbuhan ekonomi Filipina, masih jauh dari kita. Secepat-cepat Filipina mengejar kita, masih tertinggal jauh di belakang kita. Asal kita juga terus berlari.
Kita masih bersyukur karena banyak negara yang tumbuhnya lebih jeblok daripada kita: Brasil, Malaysia, Thailand, dan banyak lagi.Memang ada gemesnya. Coba tahu pertumbuhan ekonomi Malaysia begitu buruknya, kita bisa nyalip di tikungan. Sayang, saat negara pesaing kita itu sangat melambat, kita sendiri juga melambat.Hope-nya: Masih akan ada tikungan lain di depan. Yuk kita salip di tikungan itu. (*)Catatan: bagi koran yang merasa dirinya harus disebut tapi belum tersebut, silakan tambahkan sendiri di baris yang dimaksud.Trims

 

Dahlan Iskan

Dahlan Iskan (lahir tanggal 17 Agustus 1951 di Magetan, Jawa Timur), adalah CEO surat kabar Jawa Pos dan Jawa Pos News Network, yang bermarkas di Surabaya. Dahlan Iskan dibesarkan di lingkungan pedesaan dangan kondisi serba kekurangan. Orangtuanya tidak ingat tanggal berapa Dahlan dilahirkan. Dahlan akhirnya memilih tanggal 17 Agustus dengan alasan mudah diingat karena bertepatan dengan peringatan kemerdekaan Republik Indonesia.