Belasan Tahun Ketergantungan, kini Berusaha Melawan

Belasan Tahun Ketergantungan, kini Berusaha Melawan

  Minggu, 14 Agustus 2016 10:20
Ilustrasi

Berita Terkait

Sejak usianya 13 tahun, dia sudah mengecap narkoba. Di usia remaja, saat semua

mempersiapkan masa depan, dia justru baru mulai memupuk harapan, berjuang keras melepas belenggu hitam barang haram. Setelah belasan tahun bergelut dengan zat adiktif, tak ada yang tersisa dari dirinya. Keluarga, harta benda juga masa depannya.

AGUS PUJIANTO, Pontianak

Sebut saja namanya Ani. Usianya 26 tahun saat ini. Dia seorang mantan pecandu narkoba, juga mantan pengedar. Dia bersedia berbagi kisahnya dengan Pontianak Post tentang pengalaman pahitnya selama bergulat dengan narkoba.

“Dunia ini memang menjanjikan. Kalau kita makai (narkoba), seks bebas pasti. Hampir semua jenis kriminal dilakukan. Semua itu, untuk memenuhi kebutuhan, menjual (pengedar) juga cenderung,” kata Ani menyimpulkan semua apa yang didapatkannya selama mulai berkenalan dengan narkoba.

Usianya baru 13 tahun waktu itu, saat seorang lelaki paruh baya menyodorinya ‘vitamin’ di sebuah klub malam di tempat kelahirannya, Kampung Ambon, Cengkareng, Jakarta Barat, pertengahan 2003 silam.

“Mau nggak? Ini vitamin, enak dibawa goyang, daripada minum,” kata Ani menirukan tawaran orang yang disebutnya Om-om yang sama sekali belum dikenalnya saat itu. 

Di tanah kelahiran Ani, kompleks Permata atau sebutan Kampung Ambon, dikenal sebagai sarang narkoba. Di lingkungannya itu, Ani bisa dengan mudah menuju klub malam. Sekadar menghabiskan jam malam, atau bahkan menjajakkan badan. 

“Awalnya penasaran, katanya enak. Abis nyoba, terus ke hotel, seks bebas dengan kawan-kawan. Begitu setiap hari kerjaanya,” katanya mengenang masa kelam.

Ani muda kurang mendapatkan kasih sayang dari orang tua. Dia korban perceraian ayah dan ibunya. Bahkan, saat itu dia sama sekali tidak mengenal siapa ayahnya. Pernah suatu ketika, dia mencari informasi, siapa dan di mana ayahnya. Tiga tahun sejak mengenal narkoba, Ani baru mengetahui, bahwa orang tuanya juga seorang pengedar. ”Kadang kami makai sama ibu. Keluargaku identik dengan narkoba. Bapak juga bandar gelek (ganja, Red),” ungkapnya.

Di usianya yang ke 16 tahun, Ani sudah bergulat dengan dunia malam. Mulai dari mengonsumsi obat-obatan, minuman keras, hingga seks bebas. Hingga pada akhirnya, sekitar 2016, dia beranjak meninggalkan kampung halamannya menuju Pontianak.

Saat tiba di Pontianak, yang dicari Ani bukannya pekerjaan. Justru dia ingin tahu, di mana letak tempat dugem terkenal di kota ini. Dia menyebut salah satu nama diskotek terkemuka di Kota Pontianak. Di sanalah tujuan Ani menjejakkan kakinya, berlenggang menghabiskan malam. Ani menyebut sempat bingung dengan cara pengedar di Pontianak.

“Itu masuk ke situ (diskotek dimaksud, Red) langsung ditawari. Kayak jualan kacang, main tawar gitu, main kasih di mulut orang. Beda penawarannya. Kalau di Jakarta, lewat manajer yang punya diskotek. Kalau di sini, mungkin setiap ketemu ditawarin,” ujarnya.

Untuk mencukupi kebutuhannya selama di Pontianak, Ani pun menjajakkan diri kepada setiap orang yang ingin berhubungan badan dengannya. Jika di Jakarta, dalam satu malam dia meletakan harga Rp800 ribu, maka di Pontianak hanya Rp500 – Rp600 ribu. Uang yang terkumpul dalam satu malam pun langsung habis hari itu juga, tanpa sisa. Semuanya, dia habiskan untuk membeli narkoba. Adapun sisanya, untuk asupan makan dan tempat tinggalnya.

Dalam satu hari, Ani biasa membeli narkoba hingga 1,25 gram. Jika hasil ‘kerja’ malamnya lumayan, Rp1 juta pun langsung ludes. “Hasil menjajakkan badan, menjual diri dengan om-om dapat duit untuk beli itu. Nggak ada disisain abis semua. Habis hari itu juga. Ramai makainya. Kadang aku sendiri lagi butuh, jual diri sendiri dan beli sendiri,” ungkapnya.

Saat Ani masih bergelut dengan candu narkoba, tak pernah terlintas sedikit pun untuk bisa lepas dari belenggu ketergantungan. Bertahun-tahun, dia hidup dengan siklus yang sama setiap harinya, seks dan narkoba. “Abis selesai, langsung beli. Abis dapat duit pengen badan seger, beli obat lagi. Besoknya pengen dan biar dapat barang lagi. Itu yang dipikirkan tiap hari. Yang dipikirkan oleh pengguna narkoba, bagaimana bisa mendapatkan duit untuk besoknya lagi? Begitu seterusnya,” tuturnya.

Jadi Pengedar

Bapak Ayam, begitu Ani menyebut pria yang menawarkannya menikah dengan seorang pengedar narkoba. Saat itu, dia berfikir, jika menikah dengan pengedar sabu, maka kebutuhan ‘candunya’ akan terpenuhi. Tahun 2009, dia resmi menikah siri dengan pria yang sebelumnya tak dikenal itu.

Apa yang dia impikan tercapai. Setelah menikah, kebutuhan narkobanya terpenuhi. Ia tak perlu lagi harus menjajakkan diri. Hingga pada akhirnya, dia memutuskan untuk ikut dalam lingkaran hitam peredaran narkoba, dengan menjadi penjual, di bawah payung hitam suaminya. Alasannya, untuk membeli perhiasan.

Suami Ani tak banyak menyetok sabu untuk dijual. Biasanya, hanya satu gie. Modal awalnya hanya kisaran Rp800 ribu. “Suamiku bilang terserah mau jual berapa? Aku jual pakai paket 100 sampai 150 ribu (rupiah). Kotornya dapat dua juta (rupiah),” sebut Ani memperkirakan.

Ani tidak lantas banyak berjalan ketika menjadi pengedar. Dia memilih membuka lapak dagangannya di rumah. Kepada setiap calon pembeli, dia menyebutnya sebagai pasien. Semenjak dia membuka lapak, rumahnya tak pernah sepi kedatangan tamu dari berbagai daerah di Kalbar, untuk sekadar mengisap narkoba.

Cukup lama dia memasarkan sabu-sabu membantu suaminya. Untuk lolos dari sergapan aparat, Ani dibantu oleh oknum kepolisian yang menyuplai informasi jika ada razia. Informasi ini, tentu saja tidak gratis. Ada imbalan yang harus diberikan terhadap oknum tersebut.

“Kami ngasih uang ke mereka. Kalau dia pemakai, kita kasih sabu sekitar 1,4 gram. Kalau ndak, uang, sekitar Rp200 – 300 ribu sekali informasi,” ungkapnya.

Selama membantu suaminya mengedarkan narkoba, Ani tidak pernah dikenalkan dengan atasannya. Sepengetahuan dia, ada sebuah kesepakatan antarsindikat. Isinya, apabila tertangkap, kebutuhan keluarga akan terpenuhi. “Intinya jangan bernyanyi. Jangan ngomong, siapa dan dari mana barangnya?” sebut Ani.

Jaya, 56, mantan pecandu lainnya mengungkapkan, jika keberadaan sindikat

narkoba sulit untuk dilacak. Sindikat besar, menurut dia, umumnya tidak memakai narkoba, melainkan hanya memiliki barang haram tersebut.

“Permasalahan barang itu sulit diberantas karena ada oknum anggota ketergantungan dengan barang itu sebagai pengguna. Kalau memang mau berantas masalah ini, aparat penegak hukumnya dulu yang diberantas. Kalau mulai dari pengguna, itu hanya korban,” jelasnya.

Sindikat juga sebut Jaya, seperti sistem jaring laba-laba. Satu jaringan dan terorganisir. Awalnya pengguna, kemudian jadi pengecer. Apabila ada informasi ‘bos besar’ sudah menjadi target operasi (TO), maka akan dilakukan ‘tukar guling.’

“Kalau ada pengecer tertangkap, itu korban sindikat yang besar. Dia mungkin TO dari polisi, ya udah mungkin kata orang sini tukar guling. Anak buahku aja, gue bayar deh berapa? Nggak adil kan? Narkoba itu kejam,” kata Ani diselingi logat Jakarta.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Mimpi Ani untuk membeli perhiasaan dari jual barang haram terhenti, saat aparat menyamar menjadi pembeli. Ani tertangkap pada 2010 di rumahnya, dengan sejumlah barang bukti berupa sabu-sabu 1,5 gram beserta timbangan, juga lengkap dengan alat hisabnya. Dia didakwa dengan hukuman penjara 5 tahun tiga bulan.

“Suami ndak kena tangkap. Cuma aku sendiri, soalnya aku ndak bilang. Kalau kami tertangkap berdua, anak aku sama siapa?” ujarnya lirih. Ani sudah menikah untuk yang ketiga kalinya. Di Bandung dan di Pontianak, dia melahirnya dua anak. Selama mendekam di tahanan, suaminya tidak pernah menjenguknya. “Mudah-mudahan dia selamat,” kata dia.

Nyabu Bersama Teman Baru

Mendekam di balik jeruji, bukannya membuat Ani jauh dari narkoba. Justru sebaliknya. “Di penjara saya bisa on. Bisa nyabu sama teman baru,” ungkapnya. Dia juga menyebut, jual beli narkoba dalam Rutan dan Lapas sudah bukan hal baru.

Peredaran narkoba dalam penjara, kata Ani, justru lebih mudah mendapatkannya. Bukan itu saja kepada penghuni baru, sesama tahanan bahkan tanpa takut menawarkan barang.

“Satu penjara itu tahu semua, bandarnya mana? Ada blok ini (dan) itu. Lebih enak dapetin narkoba di sana. Ndak takut lagi sama sipir. Sangat kuat di sana, sampai handphone aja bergelimpangan,” ujarnya.

Lalu, kenapa saat razia bisa tidak ditemukan petugas? “Kami lebih licik lagi fikiran kami di dalam penjara. Kalau ada razia kami dapat omongan besok kalian harus simpan handphone, kalau ada yang bingal ndak mau simpan, pasti dapat. Ada nyimpan di dalam tanah, dimasukin plastikc dibungkus terus kubur, nanti kalau udah selesai dibongkar lagi, gitu,” ungkapnya.

Bagaimana dengan peredaran narkoba dalam penjara? Ani menceritakan, peredaran narkoba di Rutan maupun Lapas, transaksi jual beli maupun penggunaan termasuk mudah didapat, bahkan mudah dijumpai. Selama dia ditahan di Lapas, Ani mengaku tidak tahu menahu asal muasal barang haram tersebut. Namun, dia menduga ada oknum yang membantu memasoknya dari luar.

“Bandarnya ramai. Ada blok-blok sendiri. Biasa ada sipir masuk, lihat pada nyabu. Kadang malah minta. Mau tak mau ya dikasih,” bebernya. “Di penjara ada bandarnya sendiri-sendiri. Justru keluar dari penjara makin kuat. Semakin masok penjara, semakin bagus jaringan keluar dar Lapas punya jaringan baru,” kata Jaya membenarkan.

Ani kembali mengungkapkan, apabila ada informasi razia akan digelar, narkoba akan dikemas sedemikian rupa, kemudian disembunyikan ke suatu tempat yang paling aman dari penyisiran. “Barang gitu juga dalam tanah. Di sana kan mereka ada lapangan bola, ada juga nanam-nanam sayur pasti ditumpukan di situ. Berkilo-kilo (gram) di dalam sana tu,” ungkapnya.

Awal tahun 2014, Ani bebas dari penjara. Namun, dia belum terbebas dari narkoba. Setelah keluar, dia mengenal seorang pecandu putau. “Saya jadi ingin coba juga, apa rasanya?”

Saat mengonsumsi putau, Ani tidak lagi menjajakkan dirinya. Dia beralih profesi membantu rekannya melakukan sejumlah aksi kriminal, seperti menjambret, mencuri, hingga membobol rumah warga. 

Tiga bulan bergaul dengan putau dan kriminal, Ani memutuskan berhenti setelah memikirkan pesan terakhir sahabatnya yang juga pengguna putau. 

“Detik terakhir dia bilang kalau aku (dia, Red) nggak ada, kamu harus berhenti dari semuanya. Jadi pas dia ndak ada, sempat drop. Aku putuskan berhenti,” kata Ani yakin. Harapan baru tumbuh setelah ia memutuskan hubungan dengan narkoba. Semenjak itu, emosi dan ketergantungan terhadap candu mulai ia kuasai. (*)

Berita Terkait