Belalang Kembara Serang Ketapang

Belalang Kembara Serang Ketapang

  Rabu, 3 Agustus 2016 10:01
HAMA BELALANG : Seorang petani sedang memperhatikan ribuan belalang yang datang dan menyerang di lahan pertanian milik warga di Sungai Awan. AFI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

KETAPANG - Hama belalang Kembara kembali menyerang lahan pertanian di Ketapang. Ribuan, bahkan jutaan belalang menyerang tanaman padi di Kecamatan Muara Pawan.

Serangan hama ini sudah berlangsung beberapa pekan terakhir. Akibatnya, tamanan padi milik petani rusak dan terancam gagal panen. Belalang yang memiliki nama latin Locusta Migratoria ini sudah sering menyerang lahan pertanian di beberapa daerah di Ketapang. Tidak hanya padi, tanaman seperti jagung juga tidak luput dari serangannya. Dampak yang dirasakan sangat besar. Petani bisa mengalami kerugian karena setiap tanaman yang diserang belalang ini selalu rusak dan gagal panen.

Salah satu petani di Desa Sukamaju, Adi Suryadi (43), mengatakan, belalang tersebut datang dan merusak lahan pertanian sekitar sebulan lalu. Pertama kali kemunculannya jumlahnya tidak terlalu banyak.

"Dua pekan lalu belalangnya semakin banyak. Beruntung saat ini sudah banyak padi yang usai di panen," kata salah satu kelompok tani Pematang Menggiris ini, kemarin (2/8).

Ia menjelaskan, belalang tersebut memakan tanaman padi milik warga. Setiap kali makan, tanaman padi rusak bahkan habis. Namun, karena banyak tanaman padi milik warga sudah panen, belalang tersebut memakan rumput. "Tapi, masih ada padi yang belum panen, jadi itulah yang dimakan. Rumput dan sayur juga dimakan," jelasnya.

Ia mengungkapkan, serangan belalang kali ini tidak banyak merusak tanaman padi. Selain karena sudah banyak yang dipanen, petani juga rutin mengusir setiap kali datang menyerang. Akan tetapi, petani tetap saja khawatir, selain jumlahnya yang banyak, kedatangannya juga sulit diprediksi.

Petani pun khawatir jika belalang tersebut masih ada bahkan terus bertambah. Mengingat pada November mendatang, petani mulai menanam padi. "Kalau tidak segera ditanggulangi kita khawatir apa yang kita tanam naniti akan gagal panen. Karena hama belalang ini sangat rakus kalau makan," ungkapnya.

Ia dan petani lainnya berharap agar pemerintah segera memberikan penanggulangan terhadap hama belalang itu. Jika memang tidak dapat dimusnahkan, minimal jumlahnya dapat dikurangi. Karena jumlah saat ini sangat banyak.

"Belalang ini cepat beranak. Jika tidak dimusnahkan, jumlahnya bisa lebih banyak lagi dalam waktu yang sekejap," harapnya.

Petani lainnya, Yudo Sudarto (49), juga mengatakan, serangan hama belalang kembara ini cukup berbahaya. Selain jumlahnya sangat banyak, belalang ini juga terbilang rakus.

"Tidak tanggung-tanggung, sekali makan satu petak tanaman padi bisa habis," kata Yudo.

Mantan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) ini menjelaskan, hama belalang kembara sangat cepat berkembangbiak. Belalang ini berkembangbiak di lahan yang lembab, tidak kering dan juga tidak tergenang. "Yang kita khawatirkan populasinya semakin membesar karena musim panas diprediksi masih terjadi sampai beberapa pekan kedepan," jelasnya.

Apalagi, lanjutnya, jika tidak segera ditanggulangi dengan cepat, maka bukan tidak mungkin populasi belalang semakin banyak. Untuk itu ia meminta Dinas Pertanian untuk segera mengambil langkah. Terlebih serangan hama belalang ini bukan kali ini saja menyerang. Otomatis cara penanggulangannya sudah paham.

Ia mengungkapkan, tidak lama lagi petani akan mulai tanam padi. Ia berharap jangan sampai petani mengalami gagal panen dan berdampak pada produksi yang turun akibat hama belalang ini. "Sebagian petani sudah panen dan tidak lama lagi akan segera tanam, jadi diharapkan saat musim tanam belalang sudah dapat ditanggulangi," harapnya.

Penanggulangan diharapkan tidak hanya pengusiran, namun lebih kepada pemusnahan. Karena jika hanya diusir, maka bukan tidak mungkin akan datang lagi. "Selagi belalang ini masih hidup, mereka akan mencari makan. Dan makanan mereka ini adalah tanaman milik petani. Makanya harus dimusnahkan," pintanya.

Plt Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Ketapang, P Devie Frantito, mengatakan, pihaknya sudah turun dan mengecek ke beberapa lokasi. Tidak hanya di Sungai Awan, namun belalang juga menyerang beberapa daerah seperti Desa Sukamajau dan Desa Mayak Tanjungpura. "Kita sudah turun kelapangan dan melakukan penanggulangan," kata Devie.

Ia menjelaskan, pihaknya akan terus melakukan penanggulangan terhadap hama ini. Saat ini kendala dalam penanggulangan terletak pada minimnya ketersedian peralatan untuk membasmi hama. "Kendala lainnya juga musim panas yang merupakan musimnya belalang kawin dan cepat berkembang biak," jelasnya.

Namun, kendala tersebut bukan berarti pihaknya berhenti melakukan penusnahan. Dinas Pertanian dan Peterenakan Ketapang tetap melakukan langkah-langkah penanggulangan. Di antaranya menyemprotkan racun saat belalang tidur di malam hari. "Kami berkomitmen untuk membasmi hama belalang ini," tegasnya.

Diakuinya, penanggulangan hama belalang ini berbeda dan cukup sulit dibandingkan dengan hama lainnya. Selain jumlahnya banyak, belalang ini dapat berpindah tempat begitu cepat dengan terbang mengikuti arah angin. Oleh karena itu, pengendalian yang efektif adalah malam hari saat belalang tidur.

Selain itu, melalukan penanggulangan, pihaknya juga membagikan racun kepada petani untuk ikut membantu membasmi belalang. "Kita berharap masyarakat pro aktif melaporkan kepada kita jika ada serangan hama. Sekecil apapun kita langsung melakukan pengendalian, jangan sampai menunggu banyak, sehingga pengendalian menjadi sulit," pintanya.

Iapun meminta para petani tidak menganggap remeh hama belelang lantaran belalang dapat berkembang biak dengan cepat dan dalam jumlah banyak. Terlebih pada tahun 1990 sempat terjadi serangan hama belalang yang sangat besar sehingga bisa dikatakan Kejadian Luar Biasa (KLB).

Sementara bagi petani yang tanamannya rusak akibat serangan hama ini, pihaknya akan memberikan bantuan. "Untuk petani yang mengalami kerugian akibat hama belalang tentu kita bantu sesuai prosedur yang ada seperti bantuan bibit," pungkasnya. (afi)

Berita Terkait