Belajar Tertib Lalu Lintas dari Singapura , Rogoh Rp800 Juta Hanya untuk Izin Kepemilikan Mobil

Belajar Tertib Lalu Lintas dari Singapura , Rogoh Rp800 Juta Hanya untuk Izin Kepemilikan Mobil

  Jumat, 4 December 2015 08:06
SEPI: Jalan raya di Singapura sangat luas dan mulus. Namun kendaraannya sangat sedikit. Pemerintah membikin aturan ketat untuk kepemilikan mobil di negara ini.ARISTONO/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Di Singapura lalu lintasnya sangat tertib. Jarang ada orang melanggar aturan. Apalagi kebut-kebutan. Memang jalan raya terlihat sepi. Kebanyakan kendaraan yang berseliweran adalah bus-bus umum. Untuk punya kendaraan pribadi, bukan hal mudah di sini. Aristono, Pontianak

Entah ada berapa bangkai mobil bertumpuk di Propel Auto Parts, kawasan industri Kranji, yang berbatasan dengan Johor Bahru, Malaysia. Dari kejauhan pun, sudah terlihat mobil-mobil dari berbagai merek dan jenis menggunung. Bahkan merek-merek mewah macam BMW, Marcedes dan lainnya ada di situ.Ya, Singapura memang memberlakukan pembatasan umur izin kepemilikan mobil. Di negara ini izin punya mobil hanya berlaku 10 tahun. Setelah itu pemilik harus memilih untuk tidak memperpanjang izin atau tidak. Jika tidak maka mobil-mobil tersebut akan dihancurkan. Tidak heran, banyak warga Singapura yang menjual mobilnya sebelum masa izin habis.

“Biasanya kami menjual ke Bangladesh, India dan negara-negara Afrika. Banyak juga yang dikirim ke Batam, karena dekat,” sebut Harbans Kaur (55), seorang waraga Singapura.Lantas berapa biaya untuk izin mempunyai kendaraan pribadi di sini? Harga izin atau Certificate of Entitlement (COE) roda empat hampir Sin$80.000 atau Rp800 juta. Sedangkan motor sekitar Sin$1800 atau Rp18 juta. Itu hanya izinnya saja, dan berlaku cuma 10 tahun.

Jika ingin memperpanjang izin, biaya yang dikeluarkan untuk kepemilikan mobil sekitar Sin$60.000, dan motor Sin$1.500.Tak heran, mereka yang mengantongi izin biasanya punya kendaraan yang berkelas premium. Izinnya saja mahal, masa mobilnya lebih murah dari izinnya. Walaupun punya kendaraan bermesin kencang dan berbodi aduhai, jarang terlihat ada aksi kebut-kebutan.
Selama tiga hari di Singapura, Pontianak Post tidak pernah melihat seorang polisi pun di sekitar jalan raya.

Harbans mengatakan, Pemerintah Singapura memaksimalkan kamera pengintai atau CCTV untuk mengetahui aktivitas di jalan-jalan. Ada ratusan CCTV yang dipasang khusus untuk memantau pergerakan kendaraan di jalan raya. “Jangan berani-berani melanggar aturan di sini. Memang tidak ada polisi yang mengejar. Tetapi besok di rumah, surat tagihan denda sudah ada di depan pintu apartemen. Dendanya besar sekali,” katanya.

Tidak hanya denda, apabila melanggar aturan, maka SIM pengemudi bisa dicabut. Setiap pelanggaran akan diberikan poin kesalahan. Jumlah poinnya ditentukan berdasarkan tingkat kesalahan. Apabila sudah mencapai 24 poin, maka seseorang tidak boleh mengemudi lagi.Manager Training Singapore Safety Driving Centre, Gerrad Brian Pereira menerangkan, denda bagi sebagian orang kaya di Singapura adalah persoalan kecil. Tetapi dengan tambahan hukuman pencabutan SIM maka mereka akan jauh lebih takut.

“Dia harus ikut sekolah mengemudi lagi dari awal. Paling cepat setahun. Itu pun apabila lulus semua ujian teori dan praktiknya”.  Pengetatan kepemilikan kendaraan ini mau tak mau harus dilakukan Singapura. Betapa tidak, negara pulau ini hanya punya luas wilayah sekitar 700 kilometer persegi. Jaringan infrastruktur tak lebih dari 3.500 km persegi. Apabila izin mengemudi semudah di Indonesia, negara ini akan macet total.

Kendati demikian, warga Singapura sangat mobile. Mereka bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan mudahnya. Ada empat moda transportasi publik, yaitu mass rapid transit (MRT), light rail transit (LRT), bus rapid transit (BRT), dan taksi. Untuk MRT, telah terbangun jaringan rel sepanjang 153 km dengan 105 stasiun. Sedangkan jaringan rel LRT telah terbentang sepanjang 29 km dengan 35 stasiun. Setiap harinya, MRT dan LRT melayani 2,8 juta perjalanan warga Singapura.Transportasi publik berbasis bus rapid transit (BRT) di Singapura telah melayani 300 rute dengan armada sebanyak 4.500 bus. Ribuan bus ini melayani 3,6 juta perjalanan warga per hari. Sedangkan armada taksi ada sebanyak 28.000 unit dengan pelayanan 1 juta perjalanan per hari. (habis)

Berita Terkait