Belajar tentang Disiplin, Kebersamaan dan Kekompakan

Belajar tentang Disiplin, Kebersamaan dan Kekompakan

  Minggu, 24 April 2016 10:27
Kapal bandong

Berita Terkait

Sembilan Hari Bersama Orang-Orang Bandong

 

Menyusuri Sungai Kapuas bersama Kapal Bandong KM Cahaya Borneo menjadi pengalaman tersendiri bagi saya. Sembilan hari bersama mereka, seperti menemukan keluarga baru. 

ARIEF NUGROHO, Pontianak

KAPAL Bandong KM Cahaya Borneo milik juragan Anai mengantarkan saya menyusuri Sungai Kapuas dari Pontianak hingga Putussibau, kota terujung di jantung Kalimantan.

Namun sayangnya, kami pun harus berpisah di Kecamatan Jongkong, karena Bandong yang saya tumpangi tidak sampai ke sana. 

Bandong KM Cahaya Borneo berawakkan empat ABK, Faisal, Beni, Yoga dan Kurni. Ditambah Juanda sang juru mudi. 

Mereka berasal dari kecamatan berbeda di Kabupaten Kapuas Hulu. Yoga dan Kurni, pemuda asal Kecamatan Selimbau, sedangkan Faisal dan Beni dari Kecamatan Jongkong. Sementara Juanda, sang juru mudi berasal dari Kecamatan Jongkong yang kini pindah ke Singkawang. Anai sendiri merupakan warga Jongkong yang memperistri seorang perempuan asal Selimbau. 

Mereka semua memiliki ikatan keluarga antara satu dengan yang lainnya. Sedangkan saya, adalah satu-satunya orang luar yang kemudian dianggap seperti keluarga sendiri oleh mereka.

Sembilan hari berada di atas Bandong tentu bukan waktu yang sebentar. Bagi saya yang belum terbiasa, Sembilan hari merupakan waktu yang cukup lama. Tapi dengan persaudaraan yang mereka bangun, membuat saya betah di kapal itu. Bercanda dan berbagi.

Untuk mengisi kekosongan dan mengusir kejenuhan, kami biasa main game (tebak kata, semacam TTS) dari masing-masing HP milik mereka. Kami saling menebak setiap pertanyaan yang diajukan. Jika ternyata jawaban kami tidak tepat, kami pun tertawa terbahak-bahak. Seperti tak memiliki beban.  Hanya itu yang bisa kami lakukan selama perjalanan.

 Perjalanan menyusuri Sungai Kapuas, kami melintasi beberapa desa dan perkampungan yang hidup di pinggiran Sungai Kapuas. Mereka memanfaatkan air sungai sebagai sumber kehidupan mereka. Mulai dari mandi, mencuci, hingga urusan "buang hajat". 

Di Kapal Bandong saya belajar tentang kebersamaan dan kekompakan dari mereka. Maklum, segala sesuatu mereka kerjakan bersama-sama. Seperti di dalam sebuah keluarga, saling bahu membahu, dan membantu satu sama lain.

Di sana, saya juga belajar tentang disiplin. Terutama jadwal bangun pagi dan jadwal makan. Peraturan itu memang tidak tertulis, namun bagi mereka seperti sudah tertanam secara otomatis. 

Untuk urusan masak memasak, Faisal dan pak Juanda jagonya. Mereka berdua bergantian memasak di dapur dengan menu andalan mereka masing-masing. 

Setiap pagi, setelah bangun tidur, Faisal langsung menuju dapur, menyiapkan bahan-bahan yang akan dimasak.  Dia memasak sesuai kebutuhan. Untuk lauknya, bervariatif, kadang sayur bening, ikan asin, cumi atau sotong, kadang juga daging.

Masakan yang disajikan disantap bersama-sama. Tidak ada yang istimewa. Anai sang juragan kapal pun makan apa yang disajikan oleh sang juru masaknya. Kami menikmati kebersamaan itu. Duduk melantai dan tanpa jarak. (*)

Juru mudi

 

Bongkar muat

 

Ibadah

 

Bersantap

 

Lahir di bandong

Liputan Khusus: 

Berita Terkait