Belajar dari Masyarakat Dayak Iban

Belajar dari Masyarakat Dayak Iban

  Rabu, 20 April 2016 09:14
Tokoh masyarakat Dayak Iban Apai Janggut.

Berita Terkait

DESA Sungai Utik, Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu ini tentunya sudah tak asing lagi. Cerita tentang desa ini mendunia seiring tekat masyarakatnya untuk tetap menjaga kearifan lokal dan hutan adat di wilayah mereka.

Mumpung berada di Putussibau, rasanya tidak sempurna jika tidak mengunjungi Desa Sungai Utik. Saya pun memutuskan berkunjung ke desa yang berada sekitar 70 kilometer sebelah utara Kota Putussibau.

Saya pun tak sabar ingin kesana. Pukul delapan pagi, saya berangkat dari kantor Forina, tempat saya menginap menuju Sungai Utik, dengan menggunakan sepeda motor. Jalan menuju ke Sungai Utik merupakan jalan lintas utara atau jalan internasional karena dari jalan tersebut bisa menuju PLB (Post Lintas Batas) Indonesia-Malaysia di Badau.

Waktu yang diperlukan untuk sampai ke desa yang dihuni komunitas masyarakat adat Dayak Iban itu sekitar dua jam.  Jalan menuju ke sana sudah sangat bagus, beraspal. Hanya saja perlu sedikit hati-hati, karena banyak tajakan dan tikungan tajam. Laiknya jalan menuju puncak.

Di sepanjang jalan, kita akan disuguhi rimbunnya pepohonan yang tentunya akan membuat kita terpesona akan keindahannya.  Pohon-pohon itu menjulang tinggi. Sekelilingnya ditumbuhi semak-semak.

Sekitar hampir dua jam perjalanan, di sebelah kiri jalan terdapat plang yang bertuliskan “Anda memasuki hutan adat Sungai Utik”. Plang itu membuat hati saya berdebar-debar. Maklum, Ini kali pertama saya memasuki perkampungan masyarakat adat Dayak Iban.

Tiga ratus meter di depan, sebelah kiri terdapat sebuah gapura terbuat dari kayu yang bertuliskan “Selamat Datang di Sungai Utik”. Setibanya di pintu gerbang desa, tanpa ragu lagi saya masuk ke desa itu.

Saat tiba di sana, kebetulan masyarakat penghuni rumah panjang Sungai Utik sedang menjemur gabah hasil panen tahun ini. Gabah-gabah itu dijemur di pelataran rumah panjang itu. Dan tiba-tiba seorang ibu bertanya “Mencari siapa?”

“Apai Janggutnya ada?”  jawabku.

“Oh, langsung aja ke bilik 16,” katanya sambil menunjukan arah.

Saya pun langsung menuju bilik yang ditunjuk sang ibu tadi. Di teras rumah panjang itu, Apai Janggut sedang menyerut rotan bakal anyaman. Saya pun menjabat tangannya sembari memperkenalkan diri.

Dengan ramah, Apai Janggut alias Bandi, yang merupakan kepala Rumah Panjang Sungai Utik itu mempersilahkan saya masuk ke ruang tengah. Apai lalu menyiapkan tikar dan meminta saya duduk.

Tak lama kemudian, datang seorang perempuan parobaya membawakan minuman dan Apai pun menuangkannya ke sebuah cangkir kecil. “Mari silahkan diminum,” kata Apai.

Dengan duduk santai dan telanjang dada, laki-laki yang tubuhnya berhias tato itu lantas bercerita bagaimana masyarakat Adat Dayak Iban di Sungai Utik mempertahankan Hutan Adat meraka. Hingga akhirnya Sungai Utik merupakan desa adat pertama yang meraih penghargaan sertifikat ekolabel dari Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) tahun 2008 silam. (arief nugroho)

Liputan Khusus: 

Berita Terkait