Belajar dari Masjid Jogokariyan yang Mendunia

Belajar dari Masjid Jogokariyan yang Mendunia

  Minggu, 1 November 2015 11:09

Berita Terkait

Mengembalikan fungsi masjid seperti zaman Rasulullah SAW membuat Masjid Jogokariyan mendunia. Dengan manajemen pendekatan kesejahteraan masyarakat, masjid yang dulunya sepi kini jemaah subuhnya sama ramai dengan salat Jumat.

IDIL AQSA AKBARY, Pontianak

Usai peristiwa G30SPKI, sebuah kampung di Yogyakarta yang terkenal sebagai basis PKI dijadikan target operasi penumpasan oleh Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKAD). Setelah operasi tuntas pada 1966, dalam rangka penanggulangan agar paham tersebut tidak muncul kembali dibangunlah sebuah masjid.

Sama dengan nama masjidnya, kampung itu bernama Jogokariyan. Kini beralamat di Jalan Jogokariyan No.36, Kampung Jogokariyan, Kecamatan Mantrijeron, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). “Sengaja dibangun oleh para tokoh Islam di sana untuk pembinaan umat,” ungkap Ustaz Muhammad Jazir ASP dari Manajemen Masjid Jogokariyan saat menghadiri silaturahmi dan dialog menuju Masjid Ideal bersama DMI Kota Pontianak, Sabtu (31/10).

Maka pada 20 September 1966 diletakkan batu pertama pembangunan Masjid. Karena tidak ada yang mewakafkan tanah, lahan pun dibeli bersama-sama. Pembangunannya cukup memakan waktu, hampir satu tahun baru selesai dan mulai digunakan 20 Agustus 1967. Masjid itu berdiri di lingkungan mayoritas warga yang tak mengenal Islam.

“Waktu itu orang tua-tua yang lain belum banyak mengenal masjid bahkan belum mengenal Islam, justru lebih banyak dari anak-anak muda,” terang Yasir yang sempat menjadi pengurus pengajian anak-anak di Masjid Jogokariyan sampai 1970-an itu.

Kemudian anak-anak muda terus dibina hingga dewasa. Gerakan dakwah memang dimulai dari nol karena mereka umumnya mereka adalah anak-anak dari keluarga yang tak mengenal Islam. Terus dibina di masjid sampai jadilah para aktivis masjid. Orang tua yang melihat anaknya aktif di masjid hingga dewasa, bahkan menjadi ustaz, sejak itu mulai mengikuti jejak anak mereka. “Justru di sana orang tua yang ikut anaknya ke masjid,” tambahnya.

Kala itu pengurus masjid melihat problem sosial yang paling utama adalah kemiskinan. Untuk itu masjid harus bisa menjadi tempat, yang mana tidak hanya sebagai pusat ibadah atau dakwah, tapi juga solusi pemecahan masalah masyarakat. Pendekatannya kesejahteraan bersama.

Menurutnya sesuai penjelasan Rasullah SAW mengenai posisi masjid, dimana tempat paling dicintai Allah SWT adalah masjid-masjidnya dan tempat yang paling dibenci adalah pasar-pasarnya. Artinya di dunia ini ada dua peradaban besar pertama yang berbasis masjid dan kedua berbasis pasar.

Peradaban pasar dasarnya adalah materialisme yang dikuasai segelintir orang yaitu pemilik modal. Juga dikenal dengan istilah kapitalisme yang mana semua orang harus tunduk kepada pemilik kapitalis. “Dijajahnya Indonesia oleh bangsa Eropa membuat peradaban yang seburuk-buruknya ini muncul dan menguasai negeri,” terangnya.

Sampai saat ini kehidupan bangsa masih dikendalikan oleh pasar, akibatnya rakyat terus miskin karena tak mensejahterakan semua. Untuk itulah perlu adanya peradaban masjid. Sebab dari sana masyarakatnya akan dimuliakan Allah SWT. Masjid menjadi landasan baru peradaban masyarakat. Prinsip sosial yang dibangun adalah kesamaan dan kebersamaan, sistim ekonominya tolong-menolong dalam kebaikan.

Agar bisa tercapai masjid harus berfungsi sebagaimana mestinya. Adapun fungsi masjid di zaman Rasulullah SAW, pertama sebagai pusat pendidikan, pengajaran, dan pengembangan ilmu khususnya Al-Islam. “Ilmu itu harus dikuasai sebelum ucapan dan tindakan,” imbuhnya.

Kedua sebagai pusat peribadatan. Paling pokok seperti salat lima waktu yang sebenarnya wajib dilaksanakan berjemaah. Lalu ketiga sebagai pusat informasi masyarakat. “Belum banyak masjid yang menjalani semua itu, paling sebatas tempat shalat dan jemaahnya tidak ramai,” katanya lagi.  

Melalui fungsi di atas, dicetuskan berbagai program di Masjid Jogokariyan. Salah satunya membuat peta dakwah. Dalam hal ini masjid memiliki database jemaah, berapa banyak jumlah yang aktif dan tidak aktif ke masjid. Untuk yang belum aktif ada program yang dikenal dengan layanan mensalatkan orang-orang hidup. Tujuannya mengajak seluruh masyarakat di wilayah itu agar aktif salat berjemaah di masjid. Caranya mendatangi langsung masing-masing rumah.

Jazir menceritakan dalam melayani mereka yang belum mau salat di Masjid butuh pendanaan. Waktu itu sekitar Rp250 ribu perorang, untuk membeli perlengkapan salat dan biaya honor pembimbing. Dananya dihimpun dari para donator yang bersedia mendukung. “Biayanya tentu lebih murah dari umrah tapi pahalanya lebih besar karena membuat orang yang tidak salat jadi rutin salat berjemaah, dari sana banyak yang menyumbang,” katanya membandingkan.

Salian itu untuk meningkatkan zakat juga ada program jemaah mandiri. Dalam hal ini jemaah diberikan pengertian berapa besar yang harus mereka zakatkan per tiap kali jumatan jika dihitung dari pengeluaran masjid. Ditambah didukung melalui gerakan sosialisasi zakat sejak usia dini.

Akhirnya tiap tahun pendapatan dari zakat terus meningkat. Dapat dilihat dari perkembangan sistem pendanaan di Masjid Jogokariyan, sebelum tahun 1999 perolehan infak per jumat hanya Rp180 ribu, artinya setahun Rp8.640.000. Tahun 2000-2004 setelah ada gerakan infak mandiri berhasil mengumpulkan Rp43.200.000 per tahun, 2004-2006 Rp95.720.000 per tahun, 2006-2008 Rp225.000.000 per tahun dan 2008-2010 Rp354.280.000 per tahun. “Dimulai dari jemaah mandiri, anggaran masjid dikembangkan menjadi usaha lain seperti hotel dan penginapan, hingga berhasil membuat masjid mandiri,” imbuhnya.

Sampai saat ini kemakmuran masjid terus meningkat. Banyak program yang sifatnya mensejahterakan masyarakat. Seperti saat Ramadan ada salat taraweh yang dipimpin langsung imam dari Makah atau Madinah serta imam-imam besar dari negara lain. Juga ada kampung ramadan sebagai wadah bagi masyarakat yang ingin berdagang makanan berbuka. Omzetnya bahkan mencapai miliaran rupiah.

Sekarang untuk bisa itikaf di sana jemaah bahkan harus menunggu sampai dua tahun karena mengantre. “Fasilitas yang ada lengkap, jika ada yang kehilangan sandal saat salat di sana kami ganti baru dengan merek yang sama,” celetuknya.  

Peningkatan jemaah cukup pesat. Awalnya hanya sekitar empat kepala keluarga kini hampir 900-an. Di kampung dengan jumlah penduduk 2973 jiwa itu pemeluk islamnya sekitar 82 persen dan sebagian besar aktif salat berjemaah di Masjid. “Dulu di sana hanya ada Langgar ukuran tiga kali empat meter dan tak pernah penuh saat ramadan, Alhamdulillah sekarang masjid dengan kapasitas 1350 orang itu selalu penuh,” pungkas ustaz yang telah menjadi Ketua Takmir Masjid Jogokariyan mulai 1999 sampai 2015 itu.

Belajar dari Masjid Jogokariyan, Ketua DMI Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono berharap hal tersebut bisa diterapkan di Kota Pontianak. Diketahui kota ini memiliki 316 masjid. Ke depan melalui program-program DMI, Edi mengatakan masjid-masjid yang ada diupayakan tidak hanya sebagai pusat ibadah tetapi pemberdayaan masyarakat. “Bisa meningkatkan perekonomian, kecerdasan dan mewarnai kehidupan masyarakat,” harapnya.

Apalagi dilihat dari latarbelakang berdirinya Kota Pontianak yang terlahir dari Masjid Jami Kesultanan Kadriyah Pontianak. Hingga usia 244 tahun ini penting untuk mengembalikan peran masjid yang kian luntur. Karena itu perlu menggali kesuksesan Masjid Jogokariyan dalam mensejahterakan masjid dan masyarakat sekitarnya. “Manajemen di Jogokariyan sudah modern dan luar biasa baik, saya harap bisa sebagai inspirasi dan motivasi para pengurus masjid untuk lebih maju, mampu membuka diri dan lebih baik dalam pengelolaan masjid,” tutupnya. **

Berita Terkait