Bekas Lokalisasi Terbesar se-Asia Tenggara, Dulu Penghasilan dari Bisnis Esek-esek, Kini Populerkan Samijali

Bekas Lokalisasi Terbesar se-Asia Tenggara, Dulu Penghasilan dari Bisnis Esek-esek, Kini Populerkan Samijali

  Sabtu, 5 December 2015 08:50
OLEH-OLEH: Para perempuan yang tinggal di bekas lokalisasi Dolly menunjukkan kerupuk dari bahan singkong tumbuk atau samiler yang mereka produksi. MELLA DANISARI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Pasca ditutup, nama lokalisasi Gang Dolly dan Jarak sebagai kawasan eks pelacuran terbesar di Asia Tenggara tetap menjual. Ketenaran Dolly itu pula yang kini ‘dijual’ ibu-ibu yang memproduksi kerupuk Samijali, singkatan dari Samiler Jarak-Dolly. Mereka yang dulunya menggantungkan hidup dari bisnis esek-esek, kini berupaya bangkit dengan berwirausaha oleh-oleh khas Dolly. MELLA DANISARI, Surabaya

Suasana Gang Dolly siang itu terbilang sepi. Wisma-wisma yang dulunya tampil mencolok kini tertutup. Geliat bisnis di gang ini pun tak lagi seperti dulu. Yang masih buka hanya pemilik warung dan usaha-usaha kecil lain. Wisma Barbara 2 yang dikenal sebagai wisma terbesar dan termewah di Gang Dolly dengan tinggi enam lantai, misalnya. Bangunan ikonik itu sudah dibeli oleh Pemkot Surabaya dan telah direnovasi. Tak ada lagi terlihat kamar-kamar dan akuarium tempat memajang PSK, semuanya berubah jadi ruangan-ruangan berkeramik dengan selasar  lebar.

Lift yang biasa dipakai tamu-tamu Dolly berkocek tebal dulunya sudah tak dioperasikan lagi, sehingga untuk naik ke atas harus melalui tangga curam nan gelap.  Meski begitu, di beberapa ruangan sudah disulap menjadi pusat kerajinan sepatu yang dirintis warga kampung positif, dan tempat belajar anak-anak.  Dulu sejarah mencatat, Dolly merupakan kawasan pemakaman Tionghoa yang kemudian disulap jadi tempat prostitusi bagi tentara Belanda. Lalu dari mana nama Dolly? Saya pun baru tahu, ternyata Dolly itu adalah nama seorang noni asal negeri kincir angin yang menyediakan jasa esek-esek. Tak hanya tentara Belanda, warga pribumi dan saudagar yang sedang berdagang di Surabaya pun ikut menikmati layanan tersebut.  Kondisi tersebut berpengaruh pada meningkatnya kuantitas pengunjung dan jumlah PSK.

Dolly menjelma menjadi kekuatan dan sandaran hidup bagi penduduk di sana. Saat itu terdapat lebih dari 800 wisma, kafe dangdut, panti pijat plus yang berjajar rapi. Setidaknya, setiap malam lebih dari 9000 penjaja cinta, pelacur dibawah umur, germo dan ahli pijat yang siap menawarkan jasanya. Tak hanya itu, Dolly juga menjadi tumpuan hidup bagi ribuan pedagang kaki lima, tukang parkir dan calo prostitusi. Tak heranlah hingga tahun 2012, Dolly berkembang sangat pesat dan menjadi lokasi prostitusi terbesar se-Asia Tenggara.

Namun, itu Dolly yang dulu. Sekarang, sejak Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menutup lokalisasi tersebut pada Juni  2014, otomatis image Dolly sebagai tempat melampiaskan nafsu syahwat lelaki hidung belang pun sirna. Hal ini tentu berdampak pada warga sekitar yang selama ini terhidupi dengan keberadaan Dolly dan aktivitasnya.Termasuklah di dalamnya ibu rumah tangga yang membuka warung nasi maupun toko kelontong yang pendapatannya langsung turun drastis, bahkan akhirnya tutup karena ketiadaan pembeli lagi. Mereka mendadak kehilangan pendapatan dan pontang-panting cari pekerjaan. Berupaya mencari cara untuk tetap menyambung hidup.

Kesempatan itu datang ketika mereka mendapatkan inisiasi dari Gerakan Melukis Harapan yang punya ide dengan Inspira-Tripnya. Mereka warga eks lokalisasi diajak untuk kembali bergairah dalam memajukan perekonomian dan taraf hidup yang sempat mati suri karena penutupan Dolly.Dengan modal Rp453 ribu, ibu-ibu di sana memproduksi kerupuk dari bahan singkong tumbuk atau samiler. Putat Jaya Gang 4A kini berubah julukan menjadi kampung oleh-oleh.  Tugas mereka adalah menggoreng, menambah rasa, dan mengemas produk. 

Nah, kerupuk itu dinamai Samijali, singkatan dari Samiler Jarak-Dolly. Rasanya sungguh enak. Tak kalah dengan rasa kerupuk dalam kemasan yang biasa dijual di supermarket. Ada rasa original, balado, sapi panggang hingga keju.  “Samijali ini khan riwayat ya, jadi kami ingin meski Dolly sudah tutup, masih ada kehidupan lain di sini. Salah satunya kami populerkan dengan kerupuk Samiler Jarak dan Dolly ini,” ungkap Roro Dwi Prihatin, Ketua Usaha Samijali ketika ditemui tengah sibuk melayani pembeli di tempat produksinya.

Kerupuk renyah ini sudah terkenal sebagai oleh-oleh khas Dolly. Mereka pun sering ikut dalam berbagai pameran untuk memasarkan produknya. Bahkan demi mempermudah pemasaran, Samijali pun sudah mulai dijual secara online, dibantu oleh GMH.            Kelompok mereka terdiri dari 10 orang. Meski sebagian besar ibu-ibu rumah tangga, ada juga satu dua orang anak muda yang dilibatkan di keanggotaan usaha samiler ini.  “Bila misalnya ada keuntungan Rp4 juta, kami bagi dulu untuk masing-masing orang. Sisanya Rp2 juta kami putar lagi untuk modal.  Meski labanya sedikit,  tapi ibu-ibu senang karena ada aktifitas baru untuk menambah uang dapur,” jelasnya.

Diakui oleh ibu lainnya, Yayuk bahwa memang pendapatan mereka di usaha ini jauh nominalnya dibandingkan dulu saat praktek prostitusi Dolly masih berjaya. Namun semua itu disyukuri oleh mereka. “Kami ambil sisi positifnya. Penghasilan kami memang menurun drastis, harus merangkak dari bawah lagi, tapi kami merasa lebih aman dalam pengasuhan anak,” ujar pengrajin samijali ini.

Yayuk bercerita bagaimana dulunya, anak-anak tumbuh dan besar di tengah kawasan prostitusi. Bukan hal aneh kalau di antara anak-anak mereka sering mengeluarkan omongan kotor. Sebagai orang tua pun, mereka harus lebih ekstra menjaga anak-anaknya dari pergaulan tak sehat di sekitarnya.“Dulu waktu Dolly masih jaya, anak-anak kalau ditanyai alamat rumahnya, pada malu mau nyebut di mana. Tapi sejak ditutup, mereka sudah percaya diri menunjukkan rumahnya di kawasan Dolly ini,” tambahnya.

Pada akhirnya, ibu-ibu ini merasa senang dan bersyukur karena rezeki yang diperoleh jauh lebih berkah dibanding saat lokalisasi masih aktif. Rezeki tak akan lari ke mana. Hati mereka pun lebih tenang lahir maupun batin, serta masih banyak lagi pengaruh positif yang dirasakan oleh warga setempat.Tak hanya wajah Dolly yang berubah, karena kini sebagian besar warga Dolly pun telah mampu bangkit dan merajut kemandirian dari usaha-usaha yang mereka rintis dari awal lagi. Bahagianya, kini rezeki mereka tak lagi bergantung pada rezeki para pekerja seks. (*)    

Berita Terkait