Beda 31 Tahun, Gugup Saat Pasangkan Cincin

Beda 31 Tahun, Gugup Saat Pasangkan Cincin

  Senin, 10 Oktober 2016 09:30
SAH : Pasangan Abdul Kadir dan Nopiana akhirnya sah menjadi pasangan suami istri setelah mengikuti nikah massal di Masjid Raya Mujahidin, Minggu (9/10). IDIL AQSA AKBARY/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Di usia yang sudah lebih dari setengah abad, Abdul Kadir akhirnya melepas masa lajang. Ia menikahi gadis pujaanya, Nopiana yang terpaut usia 31 tahun lebih muda dari dirinya. Pasangan ini cukup menarik perhatian dalam acara nikah massal yang digelar Pemkot Pontianak. 

IDIL AQSA AKBARY, Pontianak

Ratusan peserta festival arak-arakan pengantin berparade dari halaman Museum Negeri Kalbar melewati Jalan Ahmad Yani menuju Masjid Raya Mujahidin, Minggu (9/10). Di dalamnya ikut serta 18 pasangan pengantin yang akan dinikahkan secara missal di masjid terbesar di Kalbar itu. Adat dan tradisi melayu Pontianak begitu kental terasa, diiringi musik tanjidor suasana begitu semarak.

Dari belasan pasang pengantin, yang satu ini memang cukup menarik perhatian. Berkacamata hitam Abdul Kadir (52 tahun) begitu gagah berjalan beriringan bersama wanita calon istrinya, Nopiana (21 tahun). Penampilannya semakin necis berpadu pakaian teluk belanga berwarna jingga dan kain sarung merah maroon. 

Masih mengenakan kacamata, disaksikan Wakil Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono beserta istri sebagai saksi, serta dipandu penghulu, hanya dengan satu tarikan napas Abdul lancar mengucap ijab kabul. Senyum Nopiana mengembang, ia akhirnya sah menjadi istri pria paruh baya itu. Seluruh keluarga dan warga yang menyaksikan langsung mengucap syukur.

Abdul hanya terlihat sedikit gugup saat menautkan cincin emas di jari manis gadis yang dikenalnya empat tahun silam itu. Tangannya sedikit gemetar, hingga akhirnya cincin itu terpasang juga. 

Momen bahagia ini memang menjadi perhatian semua pasang mata, termasuk awak media yang hadir meliput acara tersebut. Sampai-sampai usai jadi saksi akad di pasangan yang lain, Wali Kota Pontianak, Sutarmidji ikut nimbrung menghampiri pasangan ini. Orang nomor satu di Kota Pontianak ini sempat bercanda.  “Coba lepas dulu kacamatanya itu. Nah kan terlihat lebih muda,” ujar Sutarmidji, yang perintahnya diikuti Abdul. Sontak semua ikut tertawa menyaksikan tingkah pasangan ini yang tersenyum malu-malu. 

Usai akad nikah, Abdul menceritakan, sudah sejak lama ia ingin melangsungkan pernikahan. Pasangan yang usianya terpaut 31 tahun ini mengaku terbentur sejumlah kendala. Termasuk masalah biaya. Karena itu kesempatan ikut nikah massal tak disiasiakan. “Memang kepinginnya menikah, karena itu yang utama. Kami termasuk orang kurang mampu dan kebetulan ada kesempatan ini, jadi ikut saja,” ucap warga Pontianak Utara ini.

Pria yang bekerja di kantor camat ini bercerita, memang sudah lama kenal dengan Nopiana. Bahkan dengan orang tua sang gadis ia mengaku cukup dekat. Padahal sempat terpikir olehnya untuk tidak akan menikah, mengingat usianya yang sudah kepala lima. “Tapi orang tua istri saya ini meminta anaknya dinikahi, mereka mengizinkan dan dia (istri) juga mau, jadi memang ini pertama kalinya saya menikah,” ujarnya. 

Sementara itu, Wali Kota Pontianak Sutarmidji, sempat memberikan pesan-pesan kepada seluruh pasangan yang dinikahkan. Dia berharap pasangan baru nikah ini bisa betul-betul memahami tentang aturan perkawaianan secara Islam. Dia pun menerangkan masing-masing hak dan kewajiban suami istri. Salah satunya seperti yang diterangkan dalam surat An-Nissa. 

“Karena banyak yang tidak tahu aturan itu, sehingga bisa menimbulkan perceraian. Saya harap semuanya langgeng hingga akhir hayat, sakinah, mawardah dan warahmah, serta mempunyai anak-anak yang berbakti kepada orang tua,” katanya. 

Seperti diketahui, nikah massal tahun ini, pesertanya lebih banyak dibanding tahun lalu. Mereka semua merupakan warga Kota Pontianak yang berasal dari enam kecamatan. Ke depan Sutarmidji berharap, sasaran agenda ini bisa diperluas. 

“Tahun depan akan kami perluas dengan menikahkan mereka yang sudah menikah secara agama dan memiliki anak, tetapi belum mengantongi buku nikah. Dengan isbat nikah, untuk formalnya nanti di Pengadilan Agama,” terangnya.

Menurutnya mereka yang sudah menikah namun tak tercatat dalam administrasi, tentu tak memiliki buku nikah. Hal ini tentu berpengaruh pada pembuatan akta lahir anak. Dikatakannya kejadian semacam ini yang menjadi penyebab banyaknya anak yang tidak memiliki akta lahir.

“Kalau pun akta lahirnya bisa diterbitkan, hanya tercantum nama ibu, sedangkan nama bapaknya tidak. Jumlahnya tidak banyak, karena 92 persen anak Pontianak sudah punya akta lahir,” tambahnya.

Nikah massal ini sengaja dipadukan dengan agenda festival arakan pengantin, sebagai bentuk pelestarian adat istiadat dan tradisi masyarakat melayu Pontianak. “Hal seperti ini akan terus kami gali dan diangkat, mulai dari kuliner, seni budaya arakan pengantin, saprahan dan adat tradisi lainnya. Sehingga akar budaya khas Kota Pontianak ini tidak luntur,” pungkasnya.**

Berita Terkait