Bebaskan dari Sifat Buruk

Bebaskan dari Sifat Buruk

  Senin, 28 March 2016 09:17
TERIMA TAMU: Henrikus, mantan Bupati Ketapang, beserta istri menerima tamu saat perayaan Paskah di kediamannya di Jalan KH Mansyur, kemarin. AHMAD SOFI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

PERAYAAN Paskah mempunyai makna yang cukup mendalam. Selain pembebasan, Paskah juga sebagai pintu masuk untuk memulai kehidupan baru yang lebih baik lagi, serta bangkit dari kesalahan dan keterpurukan. Hal ini diungkapkan ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Ketapang, Henrikus.

Ia mengatakan, perayaan Paskah memang tidak semeriah Natal. Namun, dia menambahkan, Paskah memiliki makna yang begitu luas dan dalam. "Memang tidak terlalu meriah, tapi makna Paskah ini sangat besar. Ini adalah pembebasan dan kebangkitan untuk menjadi lebih baik lagi," kata Henrikus, kemarin (27/3), saat perayaan Paskah di kediamannya, Jalan KH Mansyur, Ketapang.

Menurutnya, perayaan Paskah tidak harus dimeriahkan. Yang terpenting, dalam pandangan dia, bagaimana memaknai perayaan ini, sehingga menjadi introspeksi diri. Dengan demikian, dia yakin, akan menumbuhkan iman dan membimbing ke arah yang lebih baik lagi. "Intinya, kita harus lebih baik lagi dan meninggalkan hal-hal yang buruk," jelas mantan Bupati Ketapang tersebut.

Ia mengungkapkan, banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengimplementasikan Paskah. Namun, sederhananya, menurut dia, adalah tidak mengulangi kesalahan dan berusaha untuk memperbaikinya. Kemudian, dia menambahkan, mampu membebaskan diri dari sifat-sifat buruk. "Jika kita mampu membebaskan diri dari sifat-sifat buruk, itulah makna Paskah sesungguhnya," ungkapnya.

Oleh karena itu, ia mengajak kepada masyarakat untuk selalu memperbaharui sikap. Dia mengajak untuk bersama-sama meninggalkan sikap buruk, meninggalkan semua cara hidup lama yang tidak membawa ke arah kehidupan yang lebih baik, serta selalu memupuk sifat-sifat yang baik. "Kita semua menginginkan hidup yang lebih baik, tapi kalau kita tidak mau meninggalkan hal-hal buruk, sangat susah mendapatkan hidup yang bahagia," paparnya.

Setiap perayaan Paskah, Henrikus dan keluarga selalu mengadakan open house. Meski tidak terlalu mewah, kebersamaan dan keterbukaan dengan seluruh masyarakat adalah tujuan utama dia menyelenggarakan itu. "Ini rutin dilakukan. Meski tak mewah seperti Natal, tapi bukan itu tujuannya," ujarnya.

“Kami ingin keterbukaan dan kebersamaan dengan masyarakat. Kami membuka pintu bagi siapa saja yang ingin datang ke rumah kami. Siapa pun dan dari mana pun, kami persilakan masuk. Karena menjalin hubungan baik itu adalah kunci kebahagiaan hidup," pungkas Henrikus. (afi)

Berita Terkait