Be Aware and We Can Share

Be Aware and We Can Share

  Rabu, 10 February 2016 08:19

Berita Terkait

RASA bangga tak hanya menyelimuti pemuda-pemudi yang hanya menoreh prestasi di bidang akademik maupun cabang olah raga. Melainkan juga ketika berhasil menjadi peserta delegasi dalam program Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN). Harus bersaing dari sekian banyaknya peserta yang juga ikut serta, membuat ketiganya merasa amat bahagia ketika berhasil menjejakkan kaki ke Negara tujuan.

Nggak hanya sekedar jalan-jalan mengunjungi objek wisata sekitar, tetapi juga belajar tentang kebudayaan hingga menghasilkan suatu program yang nantinya akan dikontribusi untuk Negara dan Provinsi tercinta. Penasaran bagaimana ketiganya bisa berhasil lolos dan pengalaman apa saja yang mewarnai kegiatan mereka disana? Yuks kita kepoin ketiganya yang telah mengarungi Malaysia dan China. By: Ghea Lidyaza Safitri

 

          Mengikuti seleksi program PPAN menjadi pengalaman pertama bagi Nurjanah. Lewat informasi dari teman-teman yang tergabung dalam Khatulistiwa English Community (KEy), dirinya pun mendapatkan banyak pengetahuan dan motivasi dari teman-teman yang telah terlebih dahulu terjun dalam pertukaran pemuda dan beasiswa ke Luar Negeri. Keberuntungan yang serupa juga didapatkan Zulkarnaen dan Telly Agustini. Berbagai tes pun mereka lalui hingga akhirnya terpilih sebagai delegasi Indonesia.

Dalam proses seleksi di kota Pontianak para peserta dituntut untuk mampu mengeluarkan segala potensi terbaik dan harus benar-benar fight agar bisa lolos. Setelah dinyatakan lulus, ketiganya pun kembali menjalani test di Provinsi, test dilaksanakan selama 3 hari. Disini ada tambahan test psikologi yang udah berasa seperti test CPNS, culture performance dan presentasi program yang nantinya akan dikontribusi kembali setelah menjalani program pertukaran pemuda di masing-masing Negara.

Masing-masing negara memiliki kegiatan yang berbeda-beda. Telly menjalani serangkaian kegiatan yang nggak hanya dilakukan di Malaysia saja, melainkan juga berkunjung ke Solo dan Yogyakarta bersama para delegasi Malaysia. Serunya ketika di Malaysia, Telly benar-benar dibuat kagum bukan hanya dari sambutan pemerintah dan masyarakat sekitar melainkan juga perjalanan ke berbagai tempat, seperti ketika ia mengunjungi kampung Lonek di daerah Negeri Sembilan. Telly merasa amat takjub akan nuansanya yang sama seperti daerah Minang di Indonesia. Dengar-dengar nih ternyata masyarakat Indonesia pula yang membawa unsur kebudayaan itu dan memperkenalkannya ke Malaysia. Tak heran jika kebudayaannya lengket di daerah ini.

Zul dan Jana yang bertandang ke China dan menjalani program selama 14 hari pun mendapatkan pengalaman tak terlupakan disana. Nggak hanya mengunjungi beberapa objek wisata history place seperti Great Wall. Keduanya bersama teman-teman lain pun bertandang ke universitas, pabrik industri, diskusi bersama mahasiswa, camp pemuda atau pramukanya China serta daerah yang seluruh penduduknya mayoritas muslim. Percaya nggak percaya, banyak pelajaran yang bisa diambil dari negeri China ini, yakni kepercayaan pemerintahnya terhadap para pemuda dalam mengelola usaha, bahkan mereka nggak memberikan bunga dalam proses peminjaman uang untuk membangun usaha. Zul pribadi jadi lebih mengetahui bahwa orang-orang China ternyata sangat nasionalis. Mereka jarang menggunakan bahasa Inggris dan lebih memilih menggunakan bahasa isyarat. Dan jangan harap disana bisa bermain facebook, instagram, line atau bahkan membuka google. Karena rasa nasionalis, mereka lebih memilih untuk menggunakan aplikasi media sosial besutan negaranya sendiri seperti Weepo.

Setelah menjalani seabrek kegiatan di negara tujuan, ketiganya pun harus mempertanggung jawabkan apa yang akan dikontribusikan. Program yang dibuat Telly lebih concern pada pengolahan barang bekas. Dimana barang bekas ini nantinya akan dibuat sebagai souvenir khas Kalbar. Zul pribadi akan lebih fokus pada edukasi pendidikan dengan menjadi volunteer mengajar bahasa Inggris. Karena baginya bahasa Inggris telah menjadi bahasa baku dan penting di seluruh dunia. Serta Jana yang akan menjalankan program “Aku Gemar Membaca”. Program ini dikhususkan pada anak-anak SD dengan tujuan untuk menarik minat anak dalam menambah wawasan melalui membaca. Bersyukurnya ia juga telah aktif di NGO Aku Belajar yang bersifat sosial, sehingga bisa bekerja sama. Sukses!**

Berita Terkait