Bayi Darraz Lahir di Kapal Bandong

Bayi Darraz Lahir di Kapal Bandong

  Rabu, 13 April 2016 09:00
LAHIR DI BANDONG: Bayi Darraz Atka digendong ayahnya, Jami’an usai dilahirkan di Kapal Bandong KM Cahaya Borneo, Selasa (11/4) dalam perjalanan menuju Selimbau, Kapuas Hulu. ARIF NUGROHO/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Raut wajah bahagia terpancar dari pasangan suami istri, Jami'an alias Anai dan Ernawati atas kelahiran anak keduanya. Anak kedua mereka terlahir di Kapal Bandong saat akan menuju ke Selimbau, Selasa (11/4) sekitar pukul 20.58. Si jabang bayi lahir dalam kondisi normal dengan bobot 2,8 kg. 

ARIEF NUGROHO, Nanga Suhaid

MALAM itu, Senin (11/4) udara begitu panas dan pengap. Mungkin karena cuaca sedang mendung. Perjalanan menyusuri Sungai Kapuas bersama Kapal Bandong KM Cahaya Borneo tiba di Nanga Suhaid, sebuah desa di  Kecamatan Suhaid, Kabupaten Kapuas Hulu.  

Di Nanga Suhaid, kapal ini rencananya akan bertambat selama beberapa hari untuk melakukan bongkar muat barang di salah satu dermaga milik warga setempat. Namun, hal itu urung dilakukan karena begitu tiba di Suhaid, sudah dalam keadaan sore. Bongkar barang pun rencananya akan dilakukan keesokan harinya.

Seperti biasa, untuk melewati malam, para awak kapal termasuk saya dan Anai, sang juragan berkumpul di ruang kemudi. Kami bercerita, bercanda seperti hari-hari biasa untuk melepas penat. 
Selepas Isya, tiba-tiba Anai meminta dua anak buahnya untuk menjemput bidan yang ada di kecamatan. Ia khawatir jika istrinya akan melahirkan. 

Dengan kapal motor, dua anak buahnya, Kurnia dan Yoga pun menuju kapal motor dan menjemput bidan. Tak  begitu lama, keduanya bersama bidan pun tiba di Kapal Bandong. Bidan itu langsung memeriksa kondisi istri Anai di dalam kamar. Sementara Kurnia dan Yoga kembali bergabung bersama kami di ruang kemudi.

Sekira pukul 20.58, tiba-tiba Daris, anak pertama Anai bergegas datang menghampiri ayahnya sambil berteriak. “Pa, dedek bayi sudah lahir. Laki-laki pa,” teriak Daris, bocah umur 6 tahun itu.

Daris dan ibunya, Ernawati memang ikut serta dalam perjalanan Pontianak-Kapuas Hulu. Kebetulan sekolah Daris sedang libur karena sekolahnya terendam banjir. Sementara Ernawati, istri Anai yang juga seorang PNS di salah satu TK di Selimbau itu sedang hamil besar mengandung anak keduanya.

Ernawati ikut serta suaminya ke Pontianak dalam rangka berobat. Namun nasib berkata lain. Ernawati melahirkan dalam perjalanan menuju Selimbau.

Sejak awal, Anai sempat cemas dengan kondisi kehamilan istrinya. Bahkan ia berniat akan membawa istrinya kembali ke Pontianak dengan Kapal Bandong, karena rumahnya di Selimbau juga terendam banjir. 

Begitu ia mendengar anak keduanya lahir, Anai pun lompat dari tempat duduknya dan menuju kamar yang digunakan untuk persalinan istrinya. Sesaat kemudian, ia kembali menghampiri kami sambil berucap syukur. “Alhamdulillah Ya Allah. Anak saya telah lahir,” ucapnya berkali-kali.

“Ini nasib anak-anak saya. Harus lahir di Bandong,”  ucapnya lagi.

Anai pun bergegas mengambil telepon genggamnya dan mencari nama yang terdaftar dalam HP miliknya itu. “Mak, emak Daris sudah beranak. Anaknya laki-laki mak. Lahir di motor,” kata Anai saat berbicara dalam telepon. Mungkin Anai sedang memberi kabar bahagia itu kepada  ibunya.   

Satu per satu Anai memberi kabar bahagia itu kepada sanak saudaranya. 

Sebenarnya Anai sudah memiliki firasat jika istrinya akan melahirkan dalam waktu dekat ini. Namun kapan waktunya ia tidak tahu. “Tadi malam sebenarnya istri saya sudah merasa sakit. Paginya minta dibawa ke puskesmas saat singgah di Semitau. Saat diperiksa bidan di sana, katanya kemungkinan bayi akan lahir dalam waktu dekat ini karena sudah ada tanda-tanda,” ungkap Anai.

Ia pun meminta ibu mertua dan beberapa saudaranya yang di Selimbau untuk datang ke kapal Bandongnya yang saat itu singgah di Semitau. Jarak antara Selimbau ke Semitau memakan waktu dua jam perjalanan menggunakan speedboat.

“Untungnya mereka sudah di sini. Jadi ada yang mengurus istri saya,” kata Anai.

Meski  lahir di atas Kapal Bandong, anak keduanya ini lahir dengan selamat dengan bantuan bidan Yul. Jabang bayi lahir dengan bobot 2,8 kg dalam keadaan sehat. Demikian juga sang ibu. Tangis si jabang bayi memang tidak terdengar dari ruang kemudi. Maklum, suara mesin diesel lebih nyaring dibanding jerit tangis si jabang bayi. “Ini yang kedua. Anak saya yang pertama juga lahir di motor Bandong. Saat itu perjalanan dari Sintang menuju Selimbau,” kenangnya.

Anak pertamanya lahir di saat Anai dan istrinya pertama kali merintis usaha. Ia ingat betul momen itu. Tanggal 12 Juli 2010 tepatnya. Kala itu, Anai bekerja sebagai distributor bahan bakar minyak yang ia beli dari Kabupaten Sintang untuk dijual kembali di Selimbau dan Jongkong demi memenuhi kebutuhan masyarakat di sekitar. 

Kelahiran anak pertamanya ia beri nama Daris Rizki Pratama, dengan harapan si anak akan memberikan rezeki yang melimpah bagi kedua orangtuanya.  

Diakui Anai, kelahiran putra pertamanya itu membawa keberkahan. Usahanya terus berkembang “Dulu motor Bandong saya hanya kecil. Kami pakai untuk bawa minyak dari Sintang menuju Selimbau. Alhamdulillah sekarang bisa membeli Bandong yang jauh lebih besar,” katanya.

Dengan modal hasil usaha dari pendistribusian minyak, Anai mampu membeli Kapal Bandong yang diberinama KM Cahaya Borneo yang kini digunakan untuk jasa angkutan barang dari Pontianak hingga Kapuas Hulu. Kini sudah berjalan tiga tahun lamanya. 

“Saya beli motor Bandong ini Rp300 juta. Karena uang saya kurang, saya pun lantas pinjam di bank. Alhamdulillah, tidak sampai tiga tahun, semua utang bisa tertutupi,” bebernya.

Kini anak kedua Anai telah lahir, tepat di tanggal 11 April 2016 sekitar pukul 20.58 di Kapal Bandong miliknya. Si jabang bayi diberi nama Darraz Atka yang berarti laki-laki yang diberi keanugrahan kemewahan dunia. “Ini adalah rezeki saya yang kedua. Aamiin Ya Allah,” katanya mengucap syukur. 

Usai proses persalinan, dan sambil menunggu si jabang bayi dibersihkan, Anai dengan wajah berseri-seri menghampiri sang istri. Ia beberapa kali mengusap wajah pasangannya itu sembari berbisik. 

Anai pun kemudian mengumandangkan azan di telinga si jabang bayi. Sementara saudara-saudara Anai yang lain ikut larut dalam kebahagiaan .

Bagi Anai, Kapal Bandong tak sakedar sarana untuk mencari rezeki tetapi juga sebagai rumah kedua yang selalu memberi kebahagiaan. Termasuk salah satunya dengan kelahiran anak keduanya itu. (*)
 

Liputan Khusus: 

Berita Terkait