Bawa Duit Seadanya, Modalnya Baca Bismillah

Bawa Duit Seadanya, Modalnya Baca Bismillah

  Senin, 23 May 2016 10:01
KELILING: Iwan Sunter saat berada di Pontianakpost. AGUS/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Iwan Sunter pernah menginjakkan kaki dan sepedanya di atas puluhan gunung di Indonesia. Hari ini, dia kembali mencatat rekor baru dari ide gilanya: keliling Pulau Kalimantan dengan sepeda bututnya. 

Agus Pujianto, Pontianak

Tahun depan rencananya kalau tidak lari Jakarta-Denpasar, saya pakai sepatu roda,” kata Iwan saat berkunjung ke Pontianak Post, kemarin. Padahal, dia baru saja mengakhiri perjalananannya keliling Pulau Kalimantan. Rutenya: Jakarta – Pontianak – Entikong - Sarawak – Brunei - Sabah – Tarakan - Tanjung Selor – Samarinda – Balikpapan – Banjarmasin – Palangkaraya - Pangkalan Bun dan finish di Pontianak.

Sekilas, tak ada yang istimewa dari pria paruh baya kelahiran Jakarta, 16 Oktober 1972 ini. Tinggi badannya 150 centimeter. Rambut sebahu dibiarkan terurai dengan warna sedikit kemerahan akibat terpapar sinar matahari. 

Begitu juga dengan sepeda butut yang ia beli lima tahun silam. Nyaris tak ada modifikasi. Hanya rangkanya ditempeli dengan sticker keliling Borneo 2016. Rangka sepeda juga stangnya hampir penuh dengan tas.

“Saya masak sendiri Mas kalau pas istirahat,” ujar pria berkacamata, sesekali menyesap kopi dan mengisap kretek.

Tiba di Pontianak Post, Iwan duduk bersilang kaki di pelataran parkiran. Begitu juga dengan sepedanya. Nyaris tak ada peralatan keselamatan khusus di badan Iwan saat mengayuh sepeda sepanjang jalan. Sekadar mengenakan kaus tangan, helm pengaman dan sandal jepit kesayangan. Jangan bayangkan alas kakinya itu seperti pendaki atau backpacker pada umumnya: sendal dan sepatu gunung. Tapi tidak bagi jepitan jempol kaki Iwan. Hanya sandal jepit putih lusuh berbahan karet beda warna ditalinya.

“Iya pakai ini Mas (sandal red). Enak makainya, empuk,” jawab Iwan berseloroh.

Sunter, bukanlah nama panjang Iwan, tapi Budianto. Nama akhiran Sunter itu berasal dari sebuah Kelurahan tempatnya tinggal sekaligus bekerja. Dulunya dia hanya seorang tukang parkir, buruh pikul di Pasar Bambu Kuning, Kelurahan Sunter Agung, Kecamatan Tanjung Periuk, Jakarta Utara. 

Keliling Borneo dimulai Iwan pada 4 April 2016 lalu, dengan rute menuju Serawak melewati Pos Pemeriksaan Lintas Batas Entikong, Kabupaten Sanggau. Butuh waktu 49 hari bagi duda anak satu ini mengelilingi satu pulau dua tiga negara: Indonesia, Malaysia dan Brunai Darussalam. 

Diakui Iwan, medan di Kalimantan cukup sulit, baik dari sisi jalan maupun teriknya panas matahari. Jika di pulau Jawa, dia mampu menargetkan setiap kayuhannya 150 kilo meter perharinya mengayuh sepeda. Tapi di Borneo, jarak tempuhnya berkurang menjadi 100 kilometer saja. Iwan mulai start perjalanan pukul 08.00 WIB dan akan beristirahat saat hari mulai petang. 

“Panasnya Kalimantan luar biasa. Jalannya juga sulit, banyak tanjakan. Sehari targetnya 100 kilometer,” sebut ayah satu anak ini.

Iwan enggan menyebut perjalanannya ini sebuah ekspedisi. Dia lebih suka disebut perjalanan menyalurkan hobi dan menggapai mimpi. Pria dengan moto: Hidup tanpa Petualangan adalah Nol ini juga mengatakan, kegilaannya kepada alam muncul sejak tahun 90-an. Pertama kali, gunung yang ditaklukkannya adalah Gunung Salak di Bogor. 

Tidak sampai di situ saja, setelah mampu memuncaki sejumlah gunung di Pulau Jawa, Sumatra dan lainnya dengan kakinya. Ide gila kembali muncul, tidak hanya membawa kakinya sampai ke puncak, tapi juga sepedanya. Sebelum memulai bersepeda antar pulau, Iwan juga pernah berjalan kaki dan lari selama ribuan kilo meter. Dari Jakarta ke Surabaya. 

“Jalan Kaki dari Jakarta Surabaya pulang pergi, jaraknya 1.600 kilometer. Rasanya kurang jauh, saya lakukan lagi berlari sampai Sumatra, sejauh 2.500 kilo,” ungkapnya. 

Modal Bismillah

Satu bulan 19 hari, Iwan Sunter mengayuh sepeda demi mewujudkan mimpinya menahlukkan medan pulau Kalimantan dengan sepeda bututnya. Perbekalannya tidaklah banyak. 

Untuk memenuhi kebutuhannya selama di perjalanan, Iwan membawa satu liter beras dan mi instan. Duda anak satu ini mengatakan, dia sengaja membawa persediaan makanan sedikit, agar beban di sepedanya tidak memberatkan kayuhannya. Sementara tas lainnya berisi pakaian, tenda dome dan perlengkapan alat salat. 

“Bawa duit seadanya. Modal baca Bismillah. Percaya, yang Maha Kuasa tidak tidur,” ujar Iwan yakin.

Perlengkapan suku cadang sepeda, juga tidak banyak yang Iwan bawa: Cadangan Ban luar dan dalam masing-masing satu. Juga satu pompa udara. “Allah tidak pernah tidur, dalam perjalanan diberi kemudahan,” sebutnya.

Iwan bercerita, kayuhannya sempat terhenti saat dia sampai di Brunae Darussalam akibat ban sepedanya bocor dan bocor. Seketika itupula, dia mendapatkan pertolongan dari warga setempat, mendapatkan service sepeda secara gratis. 

Rantai sepeda butut Iwan juga pernah terlepas dari gearnya. Namun pertolongan dari warga sepanjang jalan selalu datang di saat yang tepat. Selama menjalani misi perjalanannya, Iwan hampir tidak pernah merasakan empuknya kasur di tempat tidur. Dia lebih memilih menginap di sepanjang yang yang ia yakini aman. Selain membawa perbekalan selama perjalanan, sepeda Iwan juga digunakan untuk jemuran.

“Kadang tidur di Masjid. Kalau kemalaman di jalan tidur di hutan, di kebun sawit kemudian dia dirikan tenda,” kata pria yang pernah menjadi tamu dalam program acara Hitam Putih itu. 

Tidur di hutan pinggir jalan, bukan tanpa resiko. Pernah suatu ketika saat dia tidur dengan Sleeping bag, jarinya digiti seekor anjing. Merasa najis, akhirnya kainnya ia potong. Selama menjelajah pulau Kalimantan, Iwan mengaku tidak mengalami sakit yang berarti. (*)

Berita Terkait