Baru Temukan 14 Korban Tewas

Baru Temukan 14 Korban Tewas

  Selasa, 17 May 2016 10:02
KORBAN BANJIR: Petugas SAR mengangkat jenzah di RS Bhayangkara Polda Sumut, Medan, Senin (16/5). TRIADI WIBOWO/SUMUT POS

Berita Terkait

Banjir Bandang Terjang Air Terjun Dua Warna

DELI SERDANG – Satu per satu mahasiswa yang menjadi korban banjir bandang di Air Terjun Dua Warna di Desa Ujungdeleng, Sibolangit, Deli Serdang, ditemukan tim evakuasi. Satu hari setelah banjir bandang itu, tim sudah menemukan dan mengevakuasi 14 korban tewas di antara 21 mahasiswa yang hilang. Evakuasi kemarin (16/5) belum bisa dilanjutkan karena lokasi yang sulit dilalui dan gelap.

Banjir bandang di lokasi objek wisata air terjun yang digemari para pencinta alam tersebut terjadi pada Minggu (15/5) sekitar pukul 16.00 WIB. Saat itu ada sedikitnya 78 orang yang masuk objek wisata tersebut. Dari jumlah itu, sudah 56 orang yang pulang dan tersisa 22 orang. Tapi, saat kejadian, ada satu orang yang selamat. Kebanyakan korban adalah mahasiswa dari STIKes Flora dan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). 

Untuk mencari 21 orang yang hilang tersebut, enam tim diturunkan ke lokasi kejadian. Tim tersebut merupakan gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Deli Serdang, Basarnas, kepolisian, TNI, PMI, mapala, dan unsur muspika kecamatan. 

Satu per satu korban pun mulai dievakuasi ke posko bencana di Sibolangit untuk disiapkan keberangkatannya menjalani otopsi di RS Bhayangkara. Tim evakuasi kali pertama menemukan jenazah seorang pria berbadan besar. Namun, identitasnya belum dikenali. Tim langsung membawa korban ke RS Bhayangkara dengan menggunakan beberapa ambulans milik Puskesmas Pancurbatu, Dinas Kesehatan Deli Serdang, PMI, dan sejumlah ambulans lainnya. Selanjutnya, pada pukul 17.34, sudah ada sebelas korban meninggal yang dikirim ke RS Bhayangkara. 

”Tim menemukan sebelas korban di satu lokasi, tapi posisinya terpisah-pisah. Jaraknya 50 sampai 100 meter,” kata Hanafiah, salah seorang anggota tim evakuasi. ”Saat ditemukan, jenazah korban tertimpa-timpa batu dan kayu besar. Kondisinya sangat memprihatinkan karena tidak lagi pakai baju dan beberapa organ tubuhnya hilang,” tambah dia.

Tim memang amat kesulitan untuk menembus lokasi. Hanafiah bercerita, selain jalan berbukit, bebatuan dan banyak kayu besar melintang di badan jalan. Terlebih, jarak lokasi sangat jauh dan hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki dua jam. 

”Kami membutuhkan waktu sekitar empat jam untuk dapat mengevakuasi korban yang meninggal. Untuk sampai ke lokasi kejadian, berjalan menyisiri medan mendaki dan berkali-kali merunduk dan melompat untuk melewati batu dan kayu berukuran besar yang melintang di jalan,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala BPBD Deli Serdang Zainal Hutagalung menerangkan, pencarian dilakukan dengan cara menyisir aliran sungai hingga ke bendungan perbatasan Kecamatan Namorambe. Keterangan masyarakat sekitar menyebutkan, biasanya orang yang tenggelam di Air Terjun Dua Warna bisa ditemukan di bendungan perbatasan Namorambe. 

Di posko evakuasi korban di Desa Bandar Baru, Sibolangit, tampak Plt Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Tengku Erry Nuradi, Wakapolda Sumut Brigjen Pol Adhi Prawoto, Bupati Deli Serdang Ashari Tambunan, dan Kapolresta Medan Kombespol Mardiaz Kusin Dwihananto.  

Pemerintah, kata Erry, akan memberikan bantuan kepada mahasiswa yang selamat dari banjir bandang ataupun keluarga korban meninggal dunia. ”Kami akan memberikan santunan kepada korban dan kami prihatin dengan musibah ini. Tentu ada aturan serta prosesnya,” ujar dia di Sibolangit.

Erry berpendapat, bencana banjir bandang bisa disebabkan ilegal logging hutan di dataran tinggi Kabupaten Karo. Akibatnya, tatkala hujan deras mengguyur, tidak ada lagi hambatan pohon yang menghadang air. ”Saya minta bupati Karo memantau ilegal logging dan banjir tidak ada sekujuk-kujuknya. Saya berharap ada tindakan dari TNI dan Polri atas maraknya ilegal logging di Sumut,” katanya.

Pemkab Deli Serdang memutuskan untuk menutup sementara objek wisata Air Terjun Dua Warna. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Deli Serdang Faisal Arif Nasution menyatakan, penutupan dilakukan untuk mengkaji berbagai hal. ”Mulai pemandu hingga jalur-jalur berbahaya di sini,” ujar dia.

Faisal menyebutkan, objek wisata itu cukup digemari para pencinta alam. Selain medannya yang sangat menantang, keindahan alamnya amat bagus. Tapi, karena ada hujan deras hingga terjadinya banjir, sejumlah pengunjung sempat terseret air. Hingga kini tim masih melakukan evakuasi.

”Untuk hari ini proses evakuasi sore hari dihentikan. Akan dilanjutkan besok pagi pukul 08.00 WIB. Dengan demikian, sudah ada 14 jenazah yang dievakuasi. Tiga jenazah tinggal dievakuasi besok yang letaknya sudah diketahui. Sementara empat jenazah lagi masih hilang yang akan dilanjutkan pencarian besok pagi,” tambah Sekretaris BPBD Deli Serdang Darwin Surbakti kemarin. (ted/ril/JPG/c9/sof)

Berita Terkait