Banyak Potensi, Perbankan Perlu Jangkau Perbatasan

Banyak Potensi, Perbankan Perlu Jangkau Perbatasan

  Sabtu, 30 July 2016 09:30
DIMAKAN TIKUS: Uang milik salah seorang warga Temajok, Kecamatan Paloh yang hancur dimakan tikus lantaran disimpan sembarangan. Masyarakat membutuhkan perbankan untuk menyimpan uang lebih aman. ARISTONO/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Sebagian masyarakat di wilayah perbatasan Kalimantan Barat-Sarawak belum memiliki akses luas ke industri keuangan. Selama empat hari, Pontianak Post menumpang program kas keliling Bank Indonesia untuk melihat sirkulasi uang di Temajok dan Aruk, Kabupaten Sambas.

Aristono, Pontianak

DESA Temajok, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas ramai aktivitas saat kami sampai di sana Rabu (27/7) siang lalu. Temajok adalah ekornya Kalimantan. Pulau ini memang berbentuk ayam. Pada bagian yang berbentuk bokong, di situlah daerah ini terletak. Daerah ini juga terkenal dengan keindahan pantainya. Belakangan banyak organisasi dan pemerintah yang menggelar festival wisata serta lingkungan di sini.

Perjalanan dari Pontianak menuju Temajok membutuhkan waktu lebih hampir seharian, dengan kondisi jalan sebagian rusak atau dalam perbaikan. Namun pemerintah mulai membangun jalan menuju kawasan tersebut. Temajok adalah ujung dari jalan pararel perbatasan Kalimantan yang membentang 1200-an kilometer, antara ujung Kalimantan Timur ke Kalbar.

Namun setelah Indonesia 71 tahun lebih merdeka, masyarakat Temajok belum tersentuh perbankan dan industri keuangan lainnya. Di Kecamatan Paloh, kantor bank hanya berdiri di kota kecamatan. Sedangkan jarak desa dengan kota kecamatan sangat jauh dan harus menempuh perjalanan darat dan sungai. Perjalanan Temajok ke Paloh misalnya bisa memakan waktu tiga jam melewati jalan tanah dan menyebrang sungai.

Pontianak Post juga mengikuti kas keliling Bank Indonesia ke Aruk, Kecamatan Sajingan Besar. Dari Temajok ke Sajingan Besar menghabiskan waktu 7 jam perjalanan. Walaupun sesamadaerah perbatasan, kami harus memutar ke Teluk Keramat dulu untuk sampai ke Aruk, ini lantaran jalan penghubung langsung Temajok dan Aruk belum selesai dibangun.

Aruk jelas lebih ramai. Di sini berdiri Pos Lintas Batas dengan fasilitas imigrasi, bea cukai dan lainnya. Aruk bersebarangan dengan pos serupa milik Malaysia. Nama daerah kepunyaan Sarawak adalah Biawak. Aktivitas ekonomi di sini cukup ramai. Kendaraan hilir mudik diantara ke dua negara. Warung-warung dipenuhi konsumen. Aruk adalah pintu batas teramai setelah Entikong di Kalbar.

Kendati demikian, di sini baru ada satu kantor cabang pembantu milik Bank Pembangunan Daerah (BPD) Kalbar atau Bank Kalbar. Bank ini melayani aktivitas simpan dan pinjam dari masyarat sekitar Aruk. Ada satu Credit Union di sini. Tapo tentu saja masyarakat membutuhkan lebih dari itu. Sebagai informasi, di Temajok dan Aruk, serta daerah perbatasan pada umumnya, masyarakatnya menggunakan dua alat tukar, yaitu Rupiah dan Ringgit.

Secara umum, kedua wilayah itu memiliki banyak potensi. Temajok misalnya memiliki perkebunan kelapa sawit, karet lada, sayuran, dan tentu saja pantai yang sangat indah. Suasana kultur perkebunan serupa juga ditemui di Aruk. Tentu saja, jalur transportasi antar-negara membuat Aruk menjadi daerah jasa dan perdagangan yang lebih unggul.

Temajok dan Aruk memang tidak sendirian. Data Bank Indonesia menyebutkan hanya 35,31 persen penduduk Indonesia yang sudah terlayani bank (data tahun 2012). Angka di Kalbar diperkirakan di sekitar angka itu juga. Hal ini tentu merupakan hambatan tersendiri dalam pengembangan ekonomi Indonesia, mengingat bahwa sektor jasa keuangan merupakan salah satu sektor penting dalam perekonomian.

Walaupun belum banyak hadir di pedesaan, perbankan di Kalbar tumbuh pesat dalam beberapa tahun terakhir. Tahun 2014 saja total aset perbankan di Kalimantan Barat mencapai Rp49,49 Triliun tumbuh sebesar 12,49 persen, walaupun terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi di provinsi ini. Namun sayangnya pertumbuhan perbankan tersebut belum secara merata di seluruh wilayah Kalimantan Barat.

Data menunjukan, Pontianak sebagai ibukota Kalbar masih terlalu mendominasi. Pangsa terbesar terdapat di Kota Pontianak sebesar 68,81 persen, Kota Singkawang sebesar 7,32 persen. Sedangkan 12 kabupaten lainnya sebesar 23,87 persen berbanding lurus dengan pertumbuhan perekonomian daerah yang cenderung terpusat di Kota Pontianak.

Rendahnya tingkat kemauan masyarakat di luar Pontianak untuk menitipkan uangnya di perbankan cukup beralasan. Betapa tidak, persebaran kantor bank sendiri masih berpusat di kota-kota utama. Humas Bank Indonesia Perwakilan Kalimantan Barat, Sony Ciputra menyatakan, perbankan harus lebih inklusif dengan memperhatikan daerah-daerah lain. “Kehadiran bank di daerah tentu akan dapat memicu pertumbuhan ekonomi kawasan tersebut.”

Namun dia, memaklumi bila banyak perbankan belum mau masuk daerah tertentu. Jaringan listrik dan sinyal seluler yang belum ada, plus ongkos operasional yang tinggi belum menarik buat bank. “Mereka belum mau masuk ke daerah tertentu lantaran melihat pangsa pasar di sana; menjanjikan atau tidak. Paling utama kalau membuka kantor harus ada listriknya. Ada hitung-hitungan bisnis,” sambungnya.

Upaya untuk membentuk lembaga keuangan di daerah bukannya tidak dilakukan. BI dan OJK setidaknya punya Layanan Keuangan Tanpa Kantor dalam Rangka Keuangan Inklusif. Di BI, fasilitas ini disebut Layanan Keuangan Digital. Berat sepertinya harus dilakukan untuk menjalankannya. Pasalnya layanan ini tetap membutuhkan paling tidak sinyal seluler. (**)

Berita Terkait