Banyak Jemaah Tersesat

Banyak Jemaah Tersesat

  Selasa, 13 September 2016 09:30

Berita Terkait

MAKKAH – Hari pertama pasca-pelaksanaan wukuf kemarin, kepadatan memenuhi jalan-jalan yang menghubungkan kawasan Mina dengan Jamarot (tempat melempar jumrah). Tak ada sarana transportasi yang bisa mengakses kawasan tersebut. Jemaah Indonesia pun banyak tersesat setelah melempar jumroh dan hendak kembali ke maktab masing-masing.

 
Contohnya yang dialami Mussaji Sahiman Atmo. Jemaah berusia 71 tahun itu kemarin tampak kebingungan setelah keluar dari terowongan King Fahad. Dia mengaku tersesat  saat hendak kembali ke maktab di Mina, dan akhirnya terdampar di Kantor Urusan Haji Indonesia (KUH) Daerah Kerja Makkah.

”Semalam saya dari Muzdalifah untuk mabit (menginap) ambil batu. Setelah istirahat sebentar, saya ke Jamarot untuk lempar jumrah. Sekarang bingung,” ujar jemaah ibadah haji khusus asal Kabupaten Penajam Pasir Utara, Kaltim, itu.

KUH Indonesia Daker Makkah yang memang berdekatan dengan mulut terowongan King Fahd. Kemarin, jalan besar di depan KUH ibarat terminal bus. Sebab, di depan terowongan yang berhubungan langsung dengan kawasan Jamarot itulah batas akhir bagi kendaraan yang mengantar jemaah.

Ratusan jemaah dari berbagai negara banyak yang beristirahat, menggelar tikar di taman-taman jalan yang masuk kawasan Syisah itu. Musaji kemarin juga berada di kerumunan jemaah sebelum akhirnya diantar masuk ke KUH.

Pria yang mengenakan kalung identitas bertuliskan NRA Group Tour and Travel itu mengaku bingung lantaran dia terpisah dari rombongan saat pulang dari Jamarat. Di tengah jalan, dia bertemu dengan kepadatan rombongan jemaah dari negara lain. Jemaah yang mengaku membayar Rp 110 juta untuk berangkat haji  itu akhirnya diarahkan ke KUH oleh petugas kepolisian Arab Saudi yang berjaga di depan terowongan.

”Bapak-bapak dan ibu-ibu, tolong bersabar di sini. Istirahat dulu dan banyak berzikir. Nanti akan dipandu petugas untuk kembali ke maktab masing-masing,” ujar Kasubdit Bina Petugas Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag Khoirizi kepada para jemaah kemarin tersesat dan akhirnya beristirahat di KUH kemarin.

Sejatinya PPIH sudah menetapkan waktu larangan melempar jumrah untuk jemaah Indonesia sesuai dengan ketentuan dari pemerintah Arab Saudi. Untuk 12 September kemarin, larangan waktunya adalah pukul 06.00 sampai pukul 10.30. Hari ini (13/9), jemaah dilarang melempar jumrah pada pukul 14.00 hingga pukul 18.00. Sementara untuk besok (14.9), waktu yang dilarang adalah pada pukul 10.30 sampai pukul 14.00.

Jam larangan itu sebenarnya merupakan waktu yang diyakini paling afdal untuk melempar jumrah.  Setiap tahun, jemaah dari berbagai negara berebut menuju jamarot  pada jam tersebut. Dengan pertimbangan keselamatan, jemaah dari Indonesia yang rata-rata lanjut usia dan risiko tinggi diminta memilih waktu paling aman.

Larangan waktu itu sudah disosialisasikan kepada seluruh petugas kloter.  Termasuk kemarin, jemaah juga disarankan melempar jumrah setelah waktu larangan. Sebab, jemaah dari berbagai negara sudah berangkat ke Jamarat sejak dini hari.

Namun banyak jemaah yang memaksa memilih waktu pagi sebelum jam larangan. Akibatnya mereka bertemu dengan kepadatan jemaah dari negara lain, dan tersesat saat hendak kembali ke maktab masing-masing di Mina.

Kondisi itu juga dialami Muharis Muhrim Dukarim, Jemaah yang juga berusia 71 tahun itu mengaku berangkat dari Muzdalifah ke Mina pada pukul 02.00. Setelah melempar jumrah, dia berusaha menuju Masjidil Haram untuk melakukan thawaf Ifadah. Namun dia terpisah dari rombongan dan akhirnya diarahkan ke kantor KUH. ”Kalau berangkatnya gampang. Pulangnya saya terpisah dan bingung,” papar jemaah yang tergabung dengan kloter 2 embarkasi Lombok itu.

Kondisi lebih parah terjadi pada jemaah bernama  Surateman. Sekitar pukul 10.00, jamah asal Kediri itu terbaring di bawah fly over  yang jaraknya sekitar 500 meter dari terowongan King Fahad.  ”Saya tidak kuat lagi jalan kaki. Naik ojek kursi roda malah diturunkan di sini,” ujar  pria kelahiran 1950 itu.

Surateman mengaku sudah habis 400 riyal (Rp 1.400.000) untuk membayar ojek kursi roda yanh akan mengantarnya kembali ke Maktab. Lantaran lupa nomor maktabnya di Mina, pendorong kursi roda itu menurunkannya di kerumunan jemaah dari berbagai yang sedang beristirahat di bawah fly over.  Surateman akhirnya diantar seorang mukimin menuju kantor KUH.

Hingga kemarin siang Waktu Arab Saudi, jemaah yang ”terdampar” di KUH Daker Makkah sekitar 25 orang. Mereka beristirahat di karpet-karpaet yang sengaja digelar petugas untuk jemaah beristirahat. Kepada para jemaah yang rata-rata sudah berusia lanjut itu, Khoirizi meminta agar tidak memaksakan diri melempar jumrah sendiri. Apalagi jika berangkatnya sudah terlalu mepet dengan jam larangan. ”Kalau tidak mampu, lebih baik diwakilkan. Ini demi keselamatan bapak-bapak dan ibu-ibu,” ujarnya. (fat)

Liputan Khusus: 

Berita Terkait