Banyak Jamaah Kehabisan Real Karena Ditipu

Banyak Jamaah Kehabisan Real Karena Ditipu

  Selasa, 16 Agustus 2016 16:20

Berita Terkait

JAMAAH haji lanjut usia (lansia) selama di Tanah Suci tidak sekadar berada di bawah bayangan fisik dan kondisi kesehatan. Terbatasnya pengetahuan, bahasa, dan pengalaman membuat mereka kesulitan melakukan transaksi jual beli.

Jamaah haji Indonesia, termasuk asal Kabupaten Mojokerto yang sudah lebih dulu tiba di Madinah misalnya. Dikabarkan, selama beberapa hari menjalankan ibadah arbain, mereka banyak menemukan pengalaman-pengalaman pahit.

Seperti saat melakukan transaksi jual beli barang kala berbelanja di sekitaran maktab (hotel) tempat menginap, atau di luar Masjid Nabawi. Keterbatasan pengetahuan akan nilai mata uang real ini, mengakibatkan di antara mereka ada yang mengalami penipuan.

Penyebabnya, modal pemberian living cost (biaya hidup) selama haji dari Kementerian Agama (Kemenag) senilai 1500 real, dibagikan dalam bentuk pecahan 3 lembar 500 real, sulit ditukarkan di tempat-tempat penukaran uang (money changer).

Sehingga, selama berbelanja, real yang dibagikan ketika di Asrama Haji Sukolilo Surabaya itu dengan cepat habis. Hal itu, dikarenakan ketidaktahuan jamaah akan nilai harga barang yang sebenarnya, serta pengembalian yang semestinya diterima dari pedagang.

”Ya, memang jamaah terima living cost 1500 real, pecahan 500 real tiga lembar,” ujar Pengasuh KBIH Rahmatan lil Alamin Kabupaten Mojokerto, H. M. Nidzom kepada Jawa Pos Radar Mojokerto, Selasa pagi (16/8).

Memang, satu hari pasca menempati maktab, antusiasme jamaah asal Indonesia dalam berbelanja cukup tinggi. Tidak berbeda dengan jamaah haji di tahun-tahun sebelumnya. Keinginan itu juga didasari oleh mudahnya jamaah menemukan pedagang emperan maupun pertokoan di sekitaran maktab.

”Karenanya, dengan uang pecahan 500 real tiga lembar itu mereka kesulitan membelanjakan,” tandas Nidzom, saat berada di Madinah.Dia menceritakan, besarnya nilai real yang dibawa jamaah, mengakibatkan mereka kesulitan membeli barang.

Seperti, makanan ringan, buah-buahan, minuman atau oleh-oleh bagi keluarga di Tanah Air. Sehingga, kondisi itu, lanjut Nidzom, oleh jamaah, khususnya berusia lansia terpaksa membeli dengan real pecahan 500.

”Lebih-lebih jamaah lanjut usia, (sekarang) banyak yang kehabisan uang karena ditipu, dan diberikan kepada pedagang,” tandasnya. (ris/JPG)

Liputan Khusus: 

Berita Terkait