Bantu Modal dari Jaringan Investasi

Bantu Modal dari Jaringan Investasi

  Kamis, 12 May 2016 10:38
INDUSTRI KREATIF: Beni Sulastiyo, Founder Swadesi Corporation saat berada di salah satu kantornya yang mengurus bidang percetakan. ISTIMEWA

Berita Terkait

Bisnis kreatif tumbuh subur di Kota Pontianak. Ditambah lagi lonjakan teknologi di bidang informasi menjadi penopang yang kuat agar sektor ini tetap eksis. Lantas bagaimana perjalanan mereka yang terjun di industri kreatif.

Ramses L Tobing

SWADESI CORPORATION adalah satu di antara industri kreatif di kota seribu parit ini. Banyak sub bisnis yang sudah dibangun. Di antaranya printing outdoor, digital offset, percetakan, konveksi, plakat, penerbitan, EO, desain taman, eksterior, interior dan katering.

Masing-masing sub bisnis sudah menghasilkan omset yang tidak sedikit. Menariknya, perjalanan pelaku industri kreatif ini lebih mengedepankan semangat kekeluargaan. Begitu juga modal. Sub bisnis yang dibangun tidak mengandalkan permodalan dari perbankan. Justru dengan membangun jaringan investasi. Bisa dari dalam Swadesi Corporation atau dari luar.

Alhasilnya sistem yang dimulai sejak tahun 2012 itu terus berkembang pesat. Pangsa pasar semakin luas. Bahkan rencana membangun market share ke luar Kalimantan Barat bakal terealisasi.

Adalah, Beni Sulastiyo, Founder Swadesi Corporation. Ia menceritakan awalnya jaringan bisnis ini dibangun dari sekumpulan pelaku industri kreatif. Dimulai tahun 2004, dengan alamat kantor di Jalan A Yani, dekat Jalan Sepakat II, Pontianak Selatan.

Sub bisnis yang dibangun masih grafik desain. Ketika itu Beni cs belum memiliki peralatan sendiri. Alhasilnya orderan yang diterimapharus disub lagi ke pelaku usaha yang lain.

Namun Beni menganalisa jika seperti ini usaha yang dibangun tidak akan berkembang. Langkah nyata mesti dilakukan agar sayap bisnis semakin lebar. Solusinya dengan menumbuhkan jaringan investor. Sehingga lahirlah Serikat Wirausahawan Muda Indonesia yang disingkat “Swadesi” di tahun 2009.

Seiring berjalannya waktu Beni juga mengubah konsep usahanya. Dengan mencari investor, maka sepenuhnya modal usaha tidak dari perbankan. Dia menilai langkah ini menjadi cara mengembangkan semangat kewirausahaan di Kalimantan Barat. 

“Konsep Swadesi ini mengembangkan semangat kewirausahaan di Kalbar. Pendirinya adalah pelaku industri kreatif. Kami berkoalisi membuat Swadesi ini sebagai bentuk real pengembangan industri kreatif,” tutur pria yang tinggal di Jalan Lembah Murai ini.

Beni menyebutkan investasi yang diberikan pun tidak selamanya berupa uang. Bisa saja itu peralatan atau tempat usaha. Keuntungannya berupa bagi hasil antara investor dan pekerja.

Menurut Beni sistem ini dibangunnya sebagai eksprerimen pengembangan industri kreatif dengan cara syariah. Dengan begitu pelaku usaha tidak dibebani pengembalian modal usaha.

Justru sebagai pemula atau startup, diajak mencari orang luar yang bisa diajak bekerja sama. Nanti profit keuntungan dibagi antara pekerja dan pemodal. Kemudian pekerja kreatif yang terlibat tidak sebagai buruh. “Mereka justru menjadi owner. Mereka diberikan tanggungjawab mengelola sub bisnis di Swadesi Corporation,” kata dia.

Konsep lain yang dibangun, lanjut dia, pekerja kreatif itu mendapatkan jaminan jatah hidup. Nilai jatah hidup itu dari Rp1,2 juta hingga Rp1,5 juta. Menariknya, sampai kapan pun jatah hidup yang diterima pekerja itu tidak akan pernah berubah.  “Ada atau tidak kerjaan, nilai itulah yang harus diterima pekerja kreatif,” tambah bapak dua anak ini.

Menariknya lagi, pekerja kreatif itu menerima hasil jauh lebih besar dari jatah hidup terus. Dan itu bersumber dari bagi hasil omset yang diperoleh perusahaan. Bahkan nilainya sangat fantastis dari Rp4 juta hingga Rp15 juta.

Beni menuturkan konsep seperti itu baru benar-benar berjalan dalam dua tahun terakhir. Di sini pekerja kreatif tidak hanya pekerja tetapi pengusaha. Alhasilnya mereka menerima hasil lebih dari yang dibayangkan.

Dari konsep seperti itulah sub bisnis pun bertambah. Awalnya hanya desain grafis, bertambah seperti printing outdoor, digital offset, percetakan, konveksi, plakat, penerbitan, EO, desain taman, eksterior, interior dan katering.

Beni menilai dengan membangun konsep seperti ini setiap pekerja kreatif yang terlibat di Swadesi Corporation tidak dibenani stress dalam mengembangkan sub bisnisnya. Meskipun dikerjar dideadline, pekerjaan bisa diselesaikan tepat pada waktunya. Ini dikarenakan tanggungjawab pelaksanaannya tidak bertumpu pada satu orang. 

Inilah yang membuat Swadesi Corporation tumbuh. “Kami harus terus kerja. Tidak ada istilah libur, sebab pengusaha tak boleh libur. Jika istirahat bisa setiap hari kerja maka kerja juga bisa setiap hari,” terang pria yang sempat menjadi aktivitis 1998 ini.

Selain itu pengembangkan yang dilakukan Swadesi Corporation tidak hanya pada bisnis, tapi juga menciptakan kader pekerja kreatif sebagai pengusaha. Kader-kader inilah yang nantinya akan mengembangkan sub-sub bisnis yang diciptakan Swadesi Corporation.

Saat ini jumlah pekerja kreatif di Swadesi Corporation ada delapan. Kemudian ada tiga karyawannya yang siap dikader menjadi owner atau pekerja kreatif.  “Ketiganya nanti akan beranjak menjadi owner. Dan itu seumur hidup sepanjang tidak keluar dari sini. Kecuali mereka melanggar etika dan tidak berhak terhadap aset,” jelas pria berusia 40 tahun ini.

Beni menilai dengan semakin bertambahnya sub-sub bisnis maka industri kratif di Swadesi Corporation terus bertambah. Jika seperti itu, tidak menutup kemungkinan industri kreatif di Pontianak semakin berkembang.

Beni pun mengklaim sudah membuktikan hal itu. Dicontohkannya pada siswa yang magang di Swadesi Corporation. Saat ini mereka sudah berkembang menjadi pengusaha. Selama dikader mereka belajar, bahkan dibayar Swadesi Corporation. “Dari 2012 hingga sekarang sudah ada 50 anak didik di sini. Sekarang mereka sudah mengembara kemana-keman sambil membuka usaha sendiri,” pungkasnya. (*)

Berita Terkait