Bantah Lakukan Kejahatan Asuransi, Syarif Akhirnya Dideportasi

Bantah Lakukan Kejahatan Asuransi, Syarif Akhirnya Dideportasi

  Minggu, 9 Oktober 2016 13:20
DEPORTASI: Mohamad Syarif bin Alias (53), warga Malaysia yang terlibat tindak kejahatan pemalusuan dokumen kematian di negaranya, resmi dideportasi oleh Kantor Imigrasi Kelas I Pontianak, Jumat (7/10) malam. ARIEF NUGROHO/PONTIANAK POST

Berita Terkait

PONTIANAK – Mohamad Syarif bin Alias (53), warga Negara Malaysia, akhirnya resmi dideportasi Kantor Imigrasi Kelas I Pontianak, Jumat (7/10) malam. Dia telah dituduh terlibat tindak kejahatan pemalusuan dokumen kematian demi klaim asuransi di negaranya

Dengan didampingi sang istri dan dikawal petugas Imigrasi, Syarif yang sudah menjalani masa penahanan selama sembilan bulan atas putusan Pengadilan Negeri (PN) Pontianak, dideportasi menggunakan jalur darat. Ia diserahterimakan di perbatasan Entikong, Kabupaten Sanggau kepada pihak Malaysia.

Sebelum diberangkatkan, Syarif yang sebelumnya bekerja sebagai pegawai telekomunikasi di Sarawak, Malaysia tersebut, membantah tudingan klaim asuransi di negaranya. Menurutnya, uang sebesar Rp2 miliar yang diterimanya tersebut, merupakan uang tabungan yang selama ini ia setorkan selama menjadi pegawai.

“Itu tak benar! Itu bukan asuransi. Itu tabungan,” kata Syarif.

Dijelaskan dia bahwa di Malaysia, setiap pegawai wajib menyumbang dan bisa diambil ketika umur 55 tahun. Sementara Syarif sendiri setiap bulannya menyumbang atau menyetor uang sebesar Rp5 juta selama 28 tahun. Uang tersebut, menurut dia, dipegang oleh pemerintah Malaysia dan kemudian dilebur. Dari keuntungannya, kemudian, dia menambahkan, dikembalikan kepada pemilik hak. “Uang itu saya keluarkan lebih awal dari umur 55 tahun. Sebab saya ingin menetap di Indonesia (Kalbar, Red),” kilahnya.

Selain itu, dirinya juga membantah telah menikmati uang tersebut di Indonesia. Diakuinya, dia terpaksa mengambil uang itu lebih awal karena  keperluan untuk menguliahkan empat orang anaknya di Malaysia. “Saya ada keperluan. Anak saya empat orang kuliah di Malaysia. Ada yang ambil kedokteran, insinyur, dan komputer,” terangnya.

Syarif yang sudah tiga tahun di Indonesia, khususnya di Kalbar, mengaku sedih saat mengetahui dirinya akan dideportasi. “Saya sedih. Karena hati saya sudah di Indonesia,” pungkasnya.

Kepala Divisi Imigrasi Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Kalimantan Barat, Malfa Asdi, menjelaskan bahwa yang bersangkutan ditangkap petugas Keimigrasian di Kalbar, setelah memalsukan kematiannya, demi mendapat uang pensiun dari tempat kerjanya. Modus yang dilakukan pelaku, menurut dia, dengan mencabut kewarganegaraan Malaysia miliknya, dan menggantinya menjadi WNI. Belakangan, diungkapkan dia bahwa cara memperoleh status WNI-nya ternyata menggunakan cara ilegal. “Dia tidak melakukan proses permohonan untuk menjadi WNI,” kata dia.

Dari penyelidikan mereka, Syarif diketahui bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi di Malaysia, namun memiliki istri WNI di Kabupaten Sambas. Karena ingin menghabiskan masa tuanya bersama istri di Sambas, Syarif menyusun skenario pemalsuan kematiannya demi mendapat pensiun dini. Setalah mendapatkan dokumen WNI secara illegal, yang bersangkutan, menurut dia, juga mendapat KTP elektronik.

"Yang bersangkutan ditangkap saat mengurus paspor dan melanggar Undang-Undang Keimigrasian. Berdasarkan putusan Pengadilan Negeri Pontianak selama 8 bulan dan denda 80 juta (rupiah) atau subsider 1 bulan. Karena yang bersangkutan tidak membayar denda, maka hukumannya diganti satu bulan kurungan,” kata Asdi.

Ke depan, ditegaskan Asdi, setiap warna negara asing yang melanggar Undang Undang Keimigrasian akan diajukan ke persidangan. "Ke depan, WNA yang melanggar keimigrasian akan kita ajukan ke persidangan. Jadi tidak langsung dideportasi," tukasnya.

Selain mendeportasi Syarif, Kantor Imigrasi Kelas I Pontianak juga memulangkan See Gui Wen (12) dan See Wei Wen (10), dua anak di bawah umur hasil perkawinan campuran yang melanggar izin tinggal. “Mereka dijemput oleh ayahnya asal Malaysia,” tambah kepala Seksi (Kasi) Wasdakim Kantor Imigrasi Kelas I Pontianak, Ujang Cahya. (arf)

Berita Terkait