Bantah dan Sanggah Tuntutan JPU KPK, Air Mata Setnov Tumpah

Bantah dan Sanggah Tuntutan JPU KPK, Air Mata Setnov Tumpah

  Sabtu, 14 April 2018 09:40

Berita Terkait

JAKARTA – Terdakwa perkara e-KTP Setya Novanto membacakan pleidoi pribadi di Pengadilan Tipikor Jakarta Jumat (13/4). Sejak awal sampai nyaris tuntas, pembelaan itu lancar dia bacakan. Namun, tangis pria yang akrab dipanggil Setnov itu pecah begitu mengucap maaf kepada isteri dan anak-anaknya. Dengan terbata-bata, mantan ketua DPR tersebut berusaha membaca sampai tuntas.

Setnov mengaku dirinya menyesal lantaran turut terseret dalam pusara mega korupsi dengan total kerugian negara mencapai Rp 2,3 triliun itu. ”Saya memohon maaf atas kekhilafan saya,” ungkap dia. Permohonan maaf tersebut ditujukan kepada masyarakat Indonesia. Khususnya yang telah memilih dirinya menjadi wakil rakyat. ”Dan yang terakhir kepada isteri dan anak-anakku tercinta, izinkan saya menyampaikan permohonan maaf,” pintanya.

Sambil menahan tangis, Setnov lantas melanjutkan permintaan maafnya. ”Kepada isteri saya Deisti Astriani, dan anak-anak saya Rheza Herwindo, Dwina Michaella, Gavriel Putranto, dan Giovanno Farrel Novanto,” ungkapnya. ”Sungguh teramat berat cobaan dan musibah yang menimpa keluarga kita,” lanjutnya. Seluruh permohonan maaf itu diucap Setnov setelah membantah dan menyanggah tuntutan maupun dakwaan JPU KPK.

Dalam pembelaan yang tersusun atas 32 halaman itu, Setnov memang tidak membantah ada aliran duit dari proyek e-KTP kepada sejumlah anggota DPR. Namun, dia tetap bersikeras bahwa dirinya tidak pernah menerima uang tersebut. Termasuk penerimaan uang sebesar USD 3,8 juta melalui Made Oka Masagung yang tertuang dalam tuntutan yang dibuat JPU KPK untuk dirinya.

Menurut Setnov, keyakinan JPU KPK bahwa dirinya menerima uang tersebut secara tidak langsung melalui Made Oka Masagung tidak relevan. ”Faktanya uang tersebut terbukti berpindah tangan kepada pihak lain, bukan kepada saya,” ungkapnya. Mantan ketum Partai Golkar itu pun membantah telah menerima uang sebanyak USD 3,5 juta melalui keponakannya, Irvanto Hendra Pambudi. 

Malahan, Setnov juga heran lantaran Irvanto menjadi kurir bagi Andi Agustinus alis Andi Narogong. ”Diperintah oleh saudara Andi Agustinus untuk menyerahkan sejumlah uang kepada beberapa orang anggota DPR RI,” imbuh Setnov. Dia pun menyebutkan sejumlah nama yang dia ketahui ketika dikonfortir dengan Irvanto. Yakni Olly Dandokambey, Tamsil Linrung, Minwar, Melchias Markus Mekeng, Arif Wibowo, Ganjar Pranowo, dan Jafar Hapsah. 

Tidak hanya itu, Setnov juga membantah melakukan intervensi terhadap proses penganggaran maupun usulan pembiayaan penerapan e-KTP secara nasional. Apalagi dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain. Menurut dia, tidak pernah sama sekali dia mengintervensi proses tersebut. ”Saya tidak pernah melakukan intervensi dalam proses penganggaran atau pun proses usulan pembiayaan e-KTP,” imbuhnya.

Bahkan kesepakatan pembagian fee kepada sejumlah anggota DPR di komisi II pun Setnov mengaku tidak tahu. Sebab, kesepakatan itu dilakukan tanpa dia ketahui. ”Kesepakatan pemberian fee kepada sejumalah anggota komisi II DPR terjadi tanpa sepengatahuan saya,” kata dia. Selanjutnya, soal tuntutan uang penggnati USD 135 ribu, dia meminta kembali dipertimbangkan. Sebab, tuntutan itu dilandasi penerimaan jam tangan Richard Mille.
Setnov mengaku dirinya memang menerima jam tangan itu. Namun, kemudian jam tersebut dijual oleh Andi Narogong. Lebih dari itu, dia  juga mengutarakan permintaannya kepada majelis hakim kemarin. Di antaranya adalah pertimbangan agar majelis hakim tidak mencabut hak politiknya setelah menuntaskan masa hukuman. ”Atau setidak-tidaknya dapat kesampingkan,” kata dia.

Selain itu, Setnov juga meminta agar majelis hakim mencabut blokir terhadap sejumlah aset yang dia miliki. Termasuk tabungan, giro, desposito, kendaraan, dan properti. ”Yang diblokir baik itu atas nama saya sendiri, atas nama isteri saya, atas nama anak-anak saya,” bebernya. Permintaan itu disampaikan lantaran dia menilai berdasar fakta persidangan semua itu tidak ada kaitannya degan perkara yang menjeratnya.

Terlebih, masih kata Setnov, selama proses persidangan dia sudah bersikap kooperatif. Alasan lainnya adalah tanggungan isteri dan dua orang anak yang masih mengemban pendidikan. Di akhir pembelaannya, Setnov juga memohon izin untuk diperkenankan membaca sebuah puisi. Menurut Setnov puisi itu dibuat oleh Linda Djalil untuk dirinya. Dan meluncurlah untaian kata dari mulut Setnov, dari puisi berjudul Di Kolong Meja itu.

Pembelaan pun berlanjut diutarakan penasihat hukum Setnov. Namun demikian, meski sudah panjang lebar menyampaikan pembelaannya, JPU KPK tidak bergeming. Mereka tetap pada tuntutan yang sudah disampaikan melalui sidang sebelumnya. ”Secara umum kami menolak seluruh nota pembelaan yang disampaikan oleh penasihat hukum dan kami tetap pada tuntutan yang telah kami sampaikan,” tegas JPU KPK. Selanjutnya sidang putusan Setnov akan dilaksanakan pada Selasa (24/4) mendatang. (syn/)

Berita Terkait