Bangunan Tua Rawan Terbakar

Bangunan Tua Rawan Terbakar

  Rabu, 11 May 2016 09:30
TINJAU: Wakil Walikota Pontianak Edy Rusdi Kamtono meninjau lokasi kebakaran di Gang Gajah Mada 2, Jalan Gajah Mada, Selasa (10/5). Sejumlah pemilik rumah mulai membersihkan sisa puing kebakaran di kawasan tersebut. HARYADI/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

PONTIANAK – Wakil Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengimbau masyarakat untuk wasapda terhadap instalasi listrik. Menurutnya, saat ini banyak masyarakat lupa bahwa kabel penghantar aliran listrik punya batasan umur saat menyuplai daya. 

“Saya minta kepada masyarakat untuk mengecek ulang instalasi listrik. Kabel punya batasan umur, untuk bisa menyuplai daya,” kata Edi Kamtono saat meninjau lokasi 17 rumah yang terbakar di Gang Gajah Mada 2, Selasa (10/5) pagi.

Edi juga menyampaikan bahwa, pemakai daya listrik masih belum paham tentang bahaya listrik. Edi mencontohkan, diameter kawat listrik yang dipakai tidak sesuai dengan besaran arus yang melewatinya, menyebabkan panas yang berlebih pada penghantar hingga meleleh sehingga timbul hubungan singkat disertai bunga api.

“Kadang ada satu kabel tapi saklarnya banyak sehingga bebannya besar, sehingga menimbulkan percikan api itu yang perlu diwaspadai. PLN sering memadamkan api juga memengaruhi kekuatan kabel dan peralatan elektronik,” sebut Edi. 

Ia mengatakan bahwa rumah yang terbakar, umumnya bangunan tua dan semipermanen. “Artinya, menggunakan kontruksi kayu rangkanya atapnya kayu yang kering dan mudah terbakar,” ungkapnya.

Diakui Edi, hingga saat ini belum ada pernyataan data resmi penyebab munculnya api yang membakar 17 unit rumah di Gang Gajah Mada II tersebut. 

Kapolsek Pontianak Selatan AKP Kartyana juga menyatakan hal yang sama, jika penyebab kebakaran masih didalami dan diidentifikasi. Sementara korban Lim Song Hou (70) sebelum kebakaran terjadi, korban mengalami lumpuh, sehingga saat kejadian tidak dapat menyelamatkan diri. 

“Dugaan sementara api berasal dari korsleting listrik.Pada saat kejadian listrik dalam kondisi menyala dan tidak ada terdengar adanya bunyi ledakan,” kata Kartyana

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Kota Pontianak Aswin Thaufik mengatakan, maraknya kebakaran yang disebabkan arus pendek listrik, sebenarnya disebabkan oleh instalasi yang tidak sesuai standar. 

“Arus pendek listrik sering terjadi dikarenakan beberapa sebab yaitu, pemasangan instalasi listrik yang dilakukan oleh orang yang tidak berpengalaman/tidak profesional.”

BPBD sudah berupaya berinovasi dengan adanya regulasi, koordinasi dan pedoman serta sosialisasi dan publikasi yang gencar kepada masyarakat dalam proteksi kebakaran akibat listrik.

Guna mensukseskan sosialisasi tersebut, pihaknya akan segera melakukan koordinasi dengan pihak Perusahaan Listrik Negara (PLN), Kepolisisan, juga Pemadam Kebakaran Swasta. 

“Saat ini, ada 25 Damkar swata dan 49 unit pemadam. Kami akan terus mengupayakan dan bersinergi untuk memberikan rasa aman bagi warga Pontianak dan sekitarnya,” ujarnya. 

Ketua Forum Komunikasi Kebakaran Pontianak, Ateng Tanjaya membenarkan bahwa merujuk data nasional 80 persen kebakaran terjadi akibat korsleting listrik. 

“Itu betul tapi bukan spanning memang benar 200 volt ada kejutan tapi bukan hanya listrik saja pemicunya,” kata Ateng.

Dikatakan pula, saat ini banyak beredar produk tidak ber-SNI. Baik kabel, hingga peralatan elektronik. Menurut Ateng, hal ini juga bisa memicu munculnya api. “Produk yang tidak SNI itu, tidak ada perlindungan terhadap panas. Akibatnya meleleh dan bisa memicu timbulnya api,” kata dia yang juga mengaku kerap mengalami hal tersebut.

Ateng juga membenarkan jika bangunan tua rentan. Dilihat dari konstruksi, kayu yang lapuk dimakan rayap, juga dari kabel listrik yang sudah tua. “Memang rentan soalnya lapuk. Jadi sasaran empuk,” ungkapnya. 

Ateng menyarankan agar ketika mengaliri listrik, perlu menggunakan jasa tenaga ahli yang sudah punya sertifikasi dari PLN. 

Selain itu,  dia juga menyarankan sebaiknya setiap rumah memiliki Alat Pemadam Api Ringan (APAR) untuk upaya preventif ketika terdapat titik api. “Kebakaran tidak mengenal waktu dan tempat. Api kecil jadi kawan, besar jadi lawan,” ungkapnya. 

Edi Kamtono meminta, agar warga berinisiatif membuat posko bantuan yang dikelola oleh RT. Menurutnya, hal ini dalam rangka gotong royong. 

“Jadi kalau ad masyarakat yang ingin menyumbang material untuk rehab misalnya, itu kan bagus dan kemudian menimbulkan rasa gotong royong masyarakat, supaya terorganisir, dan bisa mengurangi beban yang terkena musibah,” ujarnya. 

Lurah Melayu Darat Fransiskus X Ijuk mengatakan, pihaknya sudah mendata jumlah korban dan menanyakan keperluan apa yang diperlukan. Dari data ini, nanti akan diberikan kepada dinas terkait.

Sementara itu, RT setempat, Dominikus mengatakan, perlu adanya bantuan. “ Bantuan tetap diharapkan,” katanya. (gus)

Berita Terkait