Bangunan Tak Boleh Diubah, tapi Boleh Disewakan

Bangunan Tak Boleh Diubah, tapi Boleh Disewakan

  Jumat, 23 September 2016 09:30
GERBANG: Salah satu pintu masuk ke kawasan Kota Tua Jeddah yang bisa dilalui pengunjung maupun pemilik bangunan dengan mengendarai mobil. JPG

Berita Terkait

Menikmati Kota Tua Jeddah, Warisan Dunia yang Diakui PBB

Kota Jeddah memiliki peradaban masa silam yang masih bisa disaksikan hingga sekarang. Lokasinya kini populer dengan nama Jeddah Historical District. Berikut laporan wartawan Jawa Pos H FATHONI P. NANDA dari Arab Saudi.

Sore itu (20/9), Umar Solikh tampak bercengkerama di salah satu sudut kota tua Jeddah. Ditemani sajian teh hangat dan makanan ringan, pria 50 tahun itu berbicara sambil sesekali tertawa renyah. Matanya kerap mengamati bangunan lawas enam lantai di hadapannya. 

’’Sekitar 45 tahun lalu keluarga saya tinggal di sini. Sekarang tidak lagi. Kami sudah pindah tempat tinggal,’’ ujar Umar.

Bangunan milik keluarga Umar itu memang terkesan rumah yang sudah tua sekali. Usianya berkisar 200 tahun. 

Arsitekturnya sangat sederhana. Berbentuk kubus dan sudut-sudutnya tidak presisi. Ciri khas bangunan kuno Arab masih sangat kental di bangunan itu. Yakni, aksen kayu yang menonjol ke depan hingga 50 cm, sehingga lubang jendela di tembok sama sekali tidak kelihatan. 

Di depan rumah itu terdapat plang nama bertulisan nama pemiliknya, Solikh Amudi. Di depan nama Solikh terdapat sebutan yang dalam bahasa Indonesia berarti saudagar. 

Pada zaman dahulu, kota tua Jeddah memang dihuni banyak saudagar yang sebagian adalah pedagang emas. Termasuk Solikh Amudi. 

Kini Umar dan keluarganya tidak lagi menempati rumah tua mereka di kota tua itu. Kondisinya kurang terawat. Aksen kayu menonjol yang menutup setiap jendela bangunan miliknya sudah keropos. Malahan, sebagian besar menjadi sarang burung-burung merpati. Rumah berwarna krem itu kini disewa para pekarja kasar dari Pakistan, Yaman, dan Bangladesh.

’’Dulu tinggal di rumah itu dingin. Tidak perlu AC. Sekarang malah dipasangi AC oleh para penyewanya,’’ terang Umar.

Umar hanyalah satu di antara puluhan pemilik rumah di kota tua Jeddah yang hampir tiap hari mengunjungi bangunan milik keluarga mereka. Datang sekitar pukul 16.00, mereka dijemput mobil-mobil bermesin besar menjelang magrib. Di antaranya, mobil GMC Yukon, Toyota Land Cruiser, Chevrolet Tahoe, ata Toyota FJ Cruiser. Jalanan sempit paving stone kota tua Jeddah menjelang petang pun penuh lalu-lalang mobil yang menjemput pulang para pemilik rumah kuno di situ.

Kota tua Jeddah memang merupakan cikal bakal Kota Jeddah saat ini. Didirikan pada 647 M oleh Khalifah Utsman bin Affan, Jeddah kala itu menjadi pintu gerbang masuk ke dua kota suci, Makkah dan Madinah.

Dalam catatan sejarah, Kerajaan Utsmaniyah pernah membangun benteng yang mengelilingi Jeddah untuk bertahan dari gempuran pasukan Portugis. Tembok utama atau banguan depan bentengnya langsung menghadap ke Laut Merah.

Bahkan, kala itu, jalan di depan benteng langsung berbatasan dengan Laut Merah. Namun, kini Laut Merah di bagian depan benteng itu sudah direklamasi sehingga jarak Laut Merah dengan kota tua Jeddah agak jauh.

Sebagian tembok yang mengelilingi kota tua Jeddah juga tak tampak lagi. Tembok-tembok itu runtuh seiring kejatuhan Kerajaan Utsmaniyah pada 1915. Yang tersisa hanya bagian depan. Itu pun sudah direkonstruksi dengan tetap mengacu pada bentuk aslinya.

Umar menjelaskan, sebagian bangunan di dalam kawasan kota tua memang tak lagi terawat. Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab kondisi itu. Di antaranya, para pemilik bangunan tersebut sudah tidak nyaman tinggal di sana. Jalannya sempit, tidak enak untuk lalu-lalang mobil-mobil mereka.

Penyebab lainnya, pemerintah Arab Saudi tidak mengizinkan pemilik rumah mengubah bentuk bangunan. Selain ditetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah, kota tua Jeddah diakui UNESCO sebagai salah satu warisan dunia melalui keputusan World Heritage Committee Ke-38 di Doha. Kini kawasan itu dikenal sebagai Jeddah Historical District.

Kalau pemilik ingin merenovasi, bentuknya tidak boleh berubah dari tampilan aslinya. ”Tidak ada dana dari pemerintah untuk perawatan atau renovasi rumah-rumah tua itu. Makanya, banyak yang dibiarkan atau disewakan untuk sekadar perawatan,” terangnya.

Di dekat bangunan milik Umar memang ada rumah tua yang baru saja direnovasi, yakni bangunan berbentuk kubus yang terdiri atas enam lantai itu. Uniknya, renovasi tersebut hanya menyentuh separo bangunan. Separo bangunan lainnya dibiarkan tetap apa adanya. Karena itu, sudut-sudut rumah di sisi kiri sangat presisi dengan ornamen kayu yang baru, sedangkan sisi kanannya agak miring dengan ornamen jendela yang sudah lapuk.

Menikmati kota tua Jeddah memang nyaman dilakukan sore hari. Bangunan-bangunan yang rata-rata terdiri atas lima atau enam lantai tersebut saling berimpitan, hanya terpisah oleh gang-gang kecil. Duduk santai di berbagai sudut di situ bisa terhalang dari sengatan matahari.

Itu pula yang dilakukan Abbas Saikh dan keponakannya, Umar Saikh, hampir setiap sore. Pria berdarah campuran Arab-Yaman tersebut selalu duduk di seberang bangunan miliknya yang juga sudah disewakan. Sambil mengawasi bangunan dengan akses kayu jendela warna hijau, Abbas yang sudah berusia di atas 70 tahun kerap menyapa orang yang lewat meski tidak dia kenal.

”Biasanya ramai kalau malam Jumat dan malam Sabtu. Banyak turis yang jalan-jalan di sini,” ucap Umar Saikh yang tiap sore berjualan kentang goreng di sekitar bangunan milik pamannya.

Bagi jamaah haji asal Indonesia, kota tua Jeddah belum begitu familier. Padahal, rangkaian tur ke Jeddah yang mereka jalani di sela-sela menunaikan ibadah haji hampir selalu melewati kota tua itu.

Wisata jamaah haji ke Jeddah biasanya mengunjungi kawasan tepi Laut Merah. Di antaranya ada Masjid Apung dan Masjid Qisas. Tur diakhiri dengan berbelanja di kawasan Al Balad. Di pusat perbelanjaan itu para jamaah berkesempatan membeli aneka oleh-oleh khas Arab. Mulai busana muslim, parfum, karpet, kurma, cokelat, hingga obat kejantanan yang sangat populer: hajar jahanam.

Kawasan Al Balad juga sangat ramah dengan orang Indonesia. Hampir semua pedagang bisa berbahasa Indonesia atau Melayu. Di sana juga ada warung yang menyajikan menu-menu Indonesia. Dua yang paling terkenal adalah Restoran Garuda dan Bakso Mang Udin.

Sayang, tur jamaah haji Indonesia biasanya sampai di kawasan Al Balad menjelang magrib. Setelah berbelanja di kawasan tersebut, jamaah langsung kembali ke Makkah. Padahal, bagian belakang Al Balad langsung berhubungan dengan sisi samping kota tua Jeddah. Kawasan yang menyimpan potret peradaban masa lalu Arab Saudi. (*/c5/c9/ari)

Berita Terkait