Bangun Terowongan Sungai Kapuas

Bangun Terowongan Sungai Kapuas

  Sabtu, 26 November 2016 09:30

Berita Terkait

PONTIANAK - Pemerintah Indonesia dan Belanda menjalin kesepakatan melalui Nota Kesepakatan Bersama (MoU) dalam manajemen air. Dengan salah satu programnya adalah pembangunan terowongan bawah air di Sungai Kapuas, Pontianak.
Hal ini ditanggapi positif pemerintah daerah setempat. Seperti yang diungkapkan, Wakil Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono yang mengatakan bahwa rencana tersebut bisa menjadi opsi dalam memperlancar arus transportasi di Pontianak. Sebagaimana diketahui, transportasi kota harus dihubungkan oleh jalan. Sementara wilayah geografis Kota Pontianak dibelah Sungai Kapuas. Sungai itu pun berfungsi sebagai sarana transportasi air.
Karena itu, lanjut dia, otomatis diperlukan penghubung untuk menjangkau seluruh wilayah kota. Semisal membangun jembatan di muara, ketinggian jembatan menjadi syarat agar kapal bisa melintas. Minimal beberapa meter di atas batas air pasang. Ketinggiannya bisa sampai 36 meter dari batas pasang, biaya pun cukup besar.
“Kalau tidak perlu ada kapal melintas, bikin jembatannya biasa murah, misalnya cuma dua meter saja, tapi karena ini harus tinggi kan jadi mahal. Nah, salah satu opsi dengan membuat terowongan di bawah sungai itu ide yang bagus, kalau misalnya bisa terlaksana,” ungkapnya, Jumat (25/11).
Namun dia menilai adanya terowongan mengharuskan perpaduan antara alam dan teknologi. Apalagi selama ini, terowongan serupa belum ada di Indonesia. "Kebanyakan terowongan seperti itu ada di negera-negara maju, seperti Jepang dan Prancis. Bahkan di sana, terowongan membelah lautan," ujarnya. 
Oleh sebab itu menurutnya perlu banyak kajian jika ingin merealisasikan rencana ini. Mulai dari banyak hal seperti struktur tanah dan lain sebagainya. "Pemkot prinsipnya silakan saja, tapi itu harus intervensi pemerintah pusat karena memerlukan biaya yang besar sekali, teknologi yang canggih, seperti contoh di Jakarta bikin MRT, teknologinya tinggi dan biayanya pun besar,” tutupnya.
Salah seorang warga Pontianak Timur, Ibrahim (39 tahun) menyambut baik wacana tersebut. Dia melihat baik jembatan kapuas maupun landak selama ini kerap macet di jam-jam tertentu. Tentu harapannya adanya terowongan menjadi solusi permasalahan tersebut. 
“Itu bagus sekali, jika memungkinkan dibangun bisa jadi alternatif kemacetan. Karena dulu mungkin intensitas kendaraan belum padat, tapi sekarang di Pontianak Timur dan Utara semakin padat. Jelas jumlah penduduk selalu bertambah, tapi akses jalan itu-itu saja, bagaimana mau lewat," katanya. 
Namun yang harus menjadi catatan menurutnya adalah keseriusan pemerintah pusat itu sendiri. Bisa konsisten atau tidak. "Sebab sejauh ini untuk pembangunan jembatan Landak yang baru saja belum juga," tanyanya.
Selain jadi solusi kemacetan, Ibrahim menilai adanya terowongan bisa jadi daya tarik tersendiri. Pontianak bakal jadi kota satu-satunya di Indonesia yang memiliki terowongan bawah air sebagai akses transportasi. Sesuatu yang membanggakan serta bisa menjadi ikon kota. 
“Hanya kajian tentang alamnya juga harus diperhatikan. Seperti ekosistem sungai, kedalaman sungai yang ideal dan lain-lain. Agar nanti tidak ada dampak yang negatif, kan sungai Kapuas harus tetap jadi jalur transportasi," tutupnya. 
Sebelumnya, Pemerintah Indonesia dan Belanda sepakat bekerja sama dengan penandatanganan MOU oleh Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono dengan Menteri Infrastruktur dan Lingkungan Belanda Melanie Schultz van Haegen di Jakarta, Senin (21/11) lalu.
Salah satu program yang dirumuskan adalah membuat immerse tunnel atau pelintasan di bawah sungai. Gagasan ini memang masih berupa rancangan desain. Selama ini dikatakan Basuki, pemerintah berupaya menghadirkan sejumlah inovasi infrastruktur, mulai dari rumah apung hingga jembatan apung. Pembangunan terowongan bawah air ini, rencananya akan melibatkan Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) dan Direktorat Jenderal Bina Marga.
"Rencananya ada di Sungai Kapuas, Pontianak. Ini ada di dalam MoU itu," kata Basuki.
Terowongan bawah air tersebut akan dimulai dengan studi kelayakan bersama. Adanya koneksi tambahan ini akan mencapai manfaat lebih baik bagi pembangunan ekonomi.
“Kajiannya juga untuk meneliti solusi biaya yang paling efektif dan paling berkelanjutan terkait pembangunan terowongan. Hingga akhirnya dapat berkembang jadi proyek yang siap tender,” tutupnya.(bar)

Berita Terkait