Bangun Jalan di Pingir Sabah-Sarawak

Bangun Jalan di Pingir Sabah-Sarawak

  Jumat, 25 March 2016 11:02
RUTE PARALEL : Dirjen Bina Marga Kementerian PU-PR Hediyanto W. Husaini (rompi hijau) sedang menunjukan rute pembangunan jalan paralel perbatasan kepada Panglima Jenderal TNI Gatot N dan Kapolri Jenderal Badrodin Haiti di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Terpadu Entikong. MEIDY KHADAFI/PONTIANAK POSTPEMBANGUNAN PLBN : Pemerintah Indonesia melakukan pengembangan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Terpadu Entikong, terlihat sejumlah pekerja sedang menyelesaikan pembangunan PLBN tersebut. MEIDY KHADAFI/PONTIANAK POS

Berita Terkait

Target Selesai Tahun 2019

PONTIANAK- Presiden Joko Widodo menargetkan pembangunan jalan pararel perbatasan akan selesai pada tahun 2019. Saat ini progres pembangunan jalan perbatasan yang membentang di pinggiran Sabah hingga Sarawak itu sudah 40 persen dikerjakan. Pembangunan jalan tersebut dimulai dari Temajuk di Kalimantan Barat, hingga Nunukan di Kalimantan Timur, dengan total panjang sekitar 1.900 kilometer.

Direkur Jendral Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum-Perumahan Rakyat (PU-PR) Hediyanto W. Husaini mengatakan, khusus untuk wilayah Kalimantan Barat, progres pembangunan jalan paralel sudah 60 persen, yang membentang dari Temajuk di Kabupaten Sambas hingga Nanga Badau di Kabupaten Kapuas Hulu. “Khusus di wilayah Kalbar, dari 750 kilometer yang dikerjakan, hampir 60 persen sudah selesai,” kata Hediyanto W. Husaini ditemui di Entikong, Rabu (23/3).

Menurut Hediyanto, pengerjaan jalan paralel tersebut ditargetkan selesai pada tahun 2019. “Ditargetkan tahun 2019 selesai, tapi tidak semuanya diaspal, ada yang kerikil, pokoknya kita bisa pakai mobil dari Temajuk hingga Nunukan,” kata Hediyanto.

Menurutnya, jalan pararel yang dibangun berada di kisaran antara 5 hingga 10 kilometer dari patok batas negara.

Selain jalan pararel perbatasan, kata Hediyanto, juga dibangun jalan patroli yang pembangunannya dikerjakan oleh TNI. Jalan tersebut, lanjutnya, berfungsi untuk memudahkan pengawasan di wilayah perbatasan. “Ada 13 tim dari TNI yang mengerjakan jalan itu, sembilan diantaranya ada di Kalbar,” lanjutnya.

Dikatakan Hediyanto, perkembangan pertumbuhan pun mulai terlihat dengan adanya kegiatan dan aktivitas masyarakat di sepanjang jalan yang sedang dikerjakan itu. Jalan tersebut juga akan dihubungkan dengan jalan utama menuju Pontianak. “Kita ingin akses ke Pontianak lebih bagus, karena jika tidak, nanti kemajuan ini akan banyak berorientasi ke Kuching-Malaysia karena jaraknya hanya 100 kilometer, sedangkan ke Pontianak 250 kilometer,” katanya.

“Mungkin kalau  diperpendek jaraknya, dengan kualitas jalan yang bagus, maka akan berorientasi ke wilayah kita,” katanya.

Selain itu, untuk mempercepat akses kegiatan ekonomi, pihaknya juga akan mengusulkan akses menuju  ke Sungai kunyit. Karena di situ juga akan dibangun pelabuhan internasional yang paling dekat. “Kalau ini tidak diperpendek dengan cara membuat jalan yang berkualitas, maka pengguna pelabuhan akan memanfaatkan pelabuhan-pelabuhan di atasnya. Itu yang kita cegah. Kita harus bikin antisipasinya. Mulai sekarang,” jelasnya.

Ia mengaku, dalam proses pembangunan jalan pararel perbatasan dan patroli tidak mengalami kendala. Kawasan yang dibuka untuk membangunan jalan pararel itu, kata Hediyanto berada pada kawasan putih, bukan kawasan hutan lindung maupun hutan konservasi. “Artinya tidak ada konflik dengan pihak manapun,” terangnya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo mengatakan, pembangunan infrastruktur harus dilakukan dengan maksimal dan cepat, bahkan di waktu siang dan malam. Sebab ini akan berpengaruh terhadap mobilitas barang dan orang. “Saya sampaikan, percepatan infrastruktur itu sudah wajib, harus. Baik yang namanya jalan rel kereta api, pelabuhan, airport, tidak ada kata lain selain harus cepat, sehingga nantinya kita ada percepatan mobilitas orang, barang dan jasa, dan akhirnya harga transportasi jadi lebih murah,” katanya.

Jokowi mengatakan, saat ini tengah dilakukan pembangunan jalan lintas di pinggir Sabah-Serawak. Jokowi menargetkan pembangunan ini selesai pada 2019. “Kenapa saya sampaikan jalan ini harus dibangun pagi, siang, malam? Sekarang ini barus diproses pengerjaannya sepanjang 1.900 kilometer di sisi pinggir Sabah-Serawak. Dikerjakan baik oleh Kementerian PU, kontraktor juga TNI agar cepat. Dan kita harapkan 1.900 kilometer ini akan selesai di 2019,” kata Jokowi.

Jokowi menegaskan, dirinya tidak mau pembangunan hanya terpusat di pulau Jawa. Dia ingin wilayah di luar pulau Jawa mendapat prioritas di bidang pembangunan. Terutama di wilayah perbatasan, yang menjadi 'teras' rumah Indonesia. “Kita sekarang ini tidak Jawa sentris, yang dikerjakan infrastruktur selalu Jawa, tidak. Harus diberikan prioroitas yang di luar Jawa, perbatasan,” kata Jokowi. (arf)

Berita Terkait