Bandar Besar Narkoba Diciduk

Bandar Besar Narkoba Diciduk

  Selasa, 12 December 2017 10:00
TANGKAP NARKOBA: Jajaran pimpinan Polda Kalbar menunjukkan barang bukti tiga kilogram sabu-sabu dan 14.000 butir ekstasi yang ditangkap di jalur tikus perbatasan Indonesia - Malaysia. (Foto bawah) Tiga di antara pelaku adalah perempuan. SHANDO SAFELA/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Sabu, Ekstasi serta Uang Ratusan Juta Disita

PONTIANAK - Jajaran kepolisian Direktorat Narkoba Polda Kalbar bersama Polsek Entikong melakukan penangkapan terhadap bandar besar jaringan internasional asal Pontianak, Minggu (10/12). Sabu seberat 3,3 kg, pil ekstasi 14.000 butir serta uang tunai hampir 300 juta dan sejumlah perhiasan milik tersangka turut disita.

Penangkapan bandar besar narkoba jaringan internasional ini berawal dari penangkapan dua kurir atas nama Roviman alias Son dan Haryono alias Bona di jalur tikus Patoka, Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau.

"Kita mendapatkan informasi, akan ada transaksi narkoba di jalur itu. Setelah ditindaklanjuti ternyata benar. Pelaku yang merupakan kurir mengendarai sepeda motor Ninja sambil menggantung tas di stang. Setelah diberhentikan dan diperiksa, ditemukan barang bukti," ujar Wakapolda Kalimantan Barat, Brigjen Amrin Remico saat memberikan keterangan pers, kemarin.

Dari dua orang kurir, polisi mengamankan barang bukti berupa 3,3 kg sabu-sabu, 14.000 butir pil ekstasi serta uang tunai sebesar Rp.113.900.000.  Setelah menangkap dua kurir tersebut, polisi kemudian melakukan pengembangan ke Kota Pontianak. Polisi pun kembali berhasil mengamankan dua orang yang bertindak sebagai pilot di Jalan Ya M Sabran, Kecamatan Ambawang. Mereka yakni seorang perempuan bernama Ida dan seorang laki-laki bernama Deni. 

"Keduanya ini berperan sebagai pilot. Pihak yang mengatur jalannya aksi penyelundupan," lanjutnya. Tidak hanya sampai di situ. Polisi kembali melakukan pengembangan, siapa pemilik barang haram tersebut. Dari keterangan sementara, barang berupa sabu-sabu 3,3 kg dan 14.000 butir pil ekstasi itu ternyata milik atau pesanan bandar besar pasangan suami istri, Alang alias Aisyah dan Iyan.

Sejoli bandar ini pun berhasil diamankan di rumahnya di Jalan Tritura, Kelurahan Tanjung Hilir, Pontianak Timur. Saat dilakukan penangkapan, Iyan berusaha melawan petugas, sehingga terpaksa ditembak.

"Karena melawan petugas saat dilakukan penangkapan, kami pun melakukan tindakan tegas. Yakni menembak di bagian dada. Saat ini bersangkutan menjalani perawatan di RS Antonius Pontianak," papar Amrin. Dari penggerebekan di rumah bandar tersebut, polisi berhasil mengamankan barang bukti sabu-sabu seberat 5 gram, pehiasan dan uang tunai sebanyak Rp182.000.000.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, tersangka dijerat dengan pasal 114 ayat 2, pasal 112 ayat 2, pasal 115 ayat 1 dan pasal 132 ayat 1 Undang-Undang No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika.

Selain itu, kata Amrin, pihaknya juga akan menerapkan Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). "Untuk penanganan kasus ini, selain Undang-Undang tentang Narkotika, kami juga akan menelusuri aliran dananya, dengan menerapkan TPPU," tegasnya.

Sementara itu, Direktur Reserse Narkoba Polda Kalbar, Kombes Pol Purnama Barus mengungkapkan, Alang alias Aisyah dan suaminya, Iyan merupakan bandar besar di Pontianak. Bahkan Alang diketahui memiliki akses langsung kepada bandar di Malaysia.

"Alang dan Iyan sudah lama menjadi TO (target operasi) kami. Sejak tahun 2016," ungkapnya. Meskipun seorang perempuan, kata Purnama Barus, Alang sudah kerap keluar masuk penjara atas kasus yang sama. Bahkan ia tergolong licin dan pandai memanfaatkan situasi.

"Dia residivis. Dari dulu kami pantau pergerakannya. Dan baru sekarang kami bisa tangkap. Makanya kami cukup senang. Karena dia salah satu bandar besar," terangnya. Dengan ditangkapnya sejumlah kurir serta bandar narkotika tersebut maka menambah panjang daftar perkara yang ditanganinya. Menurut Barus, selama tahun 2017 ini, pihaknya menangani lebih dari 95 perkara dengan jumlah barang bukti kurang lebih 40 kg sabu. 

Cuma 20 Persen Tertangkap

Secara terpisah, Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kalbar, Brigjen Nasrullah mengatakan, pengungkapan jaringan narkotika di Kalbar tidak mudah. Pihaknya juga mengakui adanya kelemahan-kelemahan di jalur perbatasan yang menjadi jalur perlintasan narkoba jaringan internasional.

Sementara, jumlah personel yang khusus menangani kasus narkoba sangat terbatas. Demikian juga dengan peralatan pendukung untuk mengungkap kasus tersebut. "Apalagi panjang perbatasan 966 km. Tidak mungkin kita menggunakan pagar betis. Jadi sulit untuk meng-cover seluruhnya," kata Nasrullah.

Menurut dia, Kalbar merupakan jalur pintu masuk peredaran narkotika. Hal itu dibuktikan dengan barang bukti yang berhasil diungkap pada tahun 2016 sebanyak lebih dari satu kuintal. Tepatnya 160 kg.

Sedangkan untuk tahun 2017, BNNP Kalbar bersama BNN berhasil menyita lebih dari 143 kg. Nasrullah menyebutkan, jumlah barang bukti yang berhasil diungkap tersebut hanya sekitar 20 persen dari barang yang beredar atau masuk ke Kalbar. 

"Itu hanya 20 persen saja, atau mungkin kurang dari 20 persen. Selebihnya atau 80 persennya sudah dinikmati oleh pecandu di Kalbar maupun diedarkan di wilayah lain," katanya.  

Dikatakan Nasrullah, wilayah Kalbar sangat riskan. Bahkan menjadi tempat yang paling nyaman untuk para pengedar mengedarkan barangnya. Selain karena jumlah penduduknya lumayan banyak, pecandunya juga banyak. 

Dari hasil penelitian BNN tahun 2015, terdapat 65.000 pecandu di Kalbar. Menurutnya, untuk penanganan kasus narkotika, pelaku hendaknya tidak hanya diterapkan pasal-pasal dari Undang-Undang Narkotika, tetapi juga perlu diterapkan TPPU guna menelusuri aliran dana dan aset para bandar. Penerapan TPP dipandang akan lebih efektif dalam memberikan efek jera. 

"Dengan harapan, setelah ditangkap dan diproses, pelaku tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Kekayaannya dimiskinkan," pungkasnya. (arf)

 

Berita Terkait