Balita Tertular IMS

Balita Tertular IMS

  Rabu, 24 February 2016 08:53
Gambar dari JawaPos

Berita Terkait

PONTIANAK - Sebanyak 3.189 orang di Kalimantan Barat menderita infeksi menular seksual (IMS) sepanjang 2015. Sembilan orang diantaranya berusia 1 hingga 14 tahun.“Saat ini daerah yang diwaspadai berkenaan dengan penularan IMS yakni Kota Pontianak dan Singkawang,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar, Andy Jap, kemarin.Andy mengatakan saat ini pasien IMS terbanyak ditemukan di Kota Pontianak. Jumlahnya mencapai 2.023 kasus. Diikuti Singkawang sebanyak 642 kasus, Sanggau 256 kasus, dan Mempawah 206 kasus.

“Kabupaten lainnya sekitar 100 sampai 200 kasus,” jelas Andy.Menurut Andy, Kota Pontianak memiliki kasus IMS terbanyak dikarenakan penduduk Kota Pontianak lebih banyak dibandingkan kabupaten kota lainnya. Pontianak juga merupakan ibukota Provinsi Kalbar sehingga mobilitas penduduknya lebih tinggi. Daerah tersebut juga lebih terbuka dan lebih mudah diakses.“Faktor lainnya, puskesmas di Kota Pontianak juga lebih gencar menemukan kasus dan memberikan pemahaman. Kesadaran masyarakatnya untuk memeriksakan diri juga lebih tinggi,” kata Andy.

Andy menjelaskan infeksi menular seksual ini menular seseorang ke orang lain dengan perantaraan hubungan seksual. Semua orang beresiko tertular. Tak hanya mereka yang sudah menikah, yang belum juga bisa terkena IMS. Dari 3.189 kasus IMS yang ditemukan, sebanyak 2 ribu kasus terjadi pada usia 25 tahun hingga 49 tahun. Kasus ini juga ditemukan pada usia 20 hingga 24 tahun dengan jumlah sekitar 300 kasus. Pada usia 15 hingga 19 tahun ditemukan kasus pada 46 lelaki dan 155 perempuan.“Usia 1 hingga 14 tahun ditemukan kasus pada satu lelaki dan delapan perempuan. Sayangnya saat ini belum semua kabupaten kota melaporkan kasus IMS yang ditemukan di daerahnya,” tutur Andy.

Di Indonesia termasuk di Kalbar, infeksi menular seksual yang paling banyak ditemukan adalah syphilis dan gonorrhea. Andy menyatakan pihaknya melakukan berbagai upaya untuk mencegah dan menekan kasus IMS. Diantaranya dengan penyuluhan kepada kelompok remaja. Selain itu juga melalui penyuluhan kesehatan reproduksi bagi remaja perempuan.“Upaya pencegahan di sekolah-sekolah juga dilakukan. Memang lebih pada pencegahan HIV AIDS, tetapi juga ada IMS didalamnya,” jelas Andy.

Penularan IMS juga rentan terjadi di lokalisasi pekerja seksual. Kepala Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Barat, Junaidi menyatakan tak ada lokalisasi pekerja seksual di provinsi ini.“Di Kalbar tak ada lokalisasi pekerja seksual (secara terang-terangan). Tetapi yang sembunyi-sembunyi ya ada,” kata Junaidi di sela-sela lomba lagu perjuangan di Balai Petitih Kantor Gubernur Kalbar, Selasa (23/2).Junaidi mengatakan keberadaan pekerja seksual yang beraktivitas secara sembunyi-sembunyi ada sejak lama. Keberadaan mereka kadang tak terdeteksi oleh pemerintah setempat.

Menurut Junaidi, saat ini pemerintah bersama pihak-pihak terkait melakukan berbagai upaya untuk menyadarkan pekerja seksual yang mereka temukan agar tak kembali melakoni pekerjaan haram tersebut. Salah satunya dengan memberikan pelatihan kepada bekas pekerja seksual.“Tetapi jumlahnya tak banyak.

Hanya sekitar 20 sampai 30 orang setiap tahunnya,” ujar Junaidi.Junaidi menuturkan dengan pemberian pelatihan keterampilan itu diharapkan bekas pekerja seksual dapat membuka usaha. Kendati demikian, ia tak menampik ada juga yang kembali terjerumus sebagai penjaja seks.“Kami berusaha menyadarkan mereka. Tetapi semuanya kan kembali kepada diri mereka masing-masing,” tutur Junaidi. (uni)

 

Berita Terkait