Balita Suka Mengambil Barang Orang lain

Balita Suka Mengambil Barang Orang lain

  Rabu, 14 December 2016 09:00

Berita Terkait

Balita membawa mainan milik temannya sepulang bermain? Atau, kerap mengambil barang milik orang lain? Tentu hal ini membuat terkejut dan bingung orangtuanya. Tetapi, hal ini tak bisa dianggap biasa. Sebab, jika dibiarkan dan sang anak tak menyadari kesalahannya, dikhawatirkan ia akan terus mengulangi kesalahan itu.

Oleh : Marsita Riandini

Saat usia balita, anak anak belum sepenuhnya memahami tentang kepemilikan. Seringkali anak merasa ingin memiliki suatu barang, padahal barang tersebut bukan miliknya. Lantas apa yang harus dilakukan oleh orangtua bila anak mengambil barang milik oranglain?

Dr. Fitri Sukmawati, M. Psi, Psikolog mengatakan usia balita memiliki egosentris yang tinggi. Anda tentu biasa melihat pertengkaran ketika para balita bermain. Salah satu diantara mereka, rasa kepemilikannya tinggi sekali. Akibatnya, anak lain harus meminjamkan barangnya kepadanya, sementara barangnya sendiri tidak boleh dipinjam oranglain. 

Pada kasus yang lebih rumit, ada pula anak yang memaksakan kehendaknya. Dia ingin memiliki mainan yang bukan miliknya. Jika tidak dituruti, dia akan menangis. Pada kondisi inilah, orangtua harus bisa menanamkan etika dan moral kepada anaknya. 

Ketika anak ketahuan mengambil barang milik oranglain, hal pertama yang harus orangtua pahami adalah bersikap tenang dan tidak membuat anak merasa dihakimi. Orangtua harus bisa menggali informasi dari anak, kenapa benda tersebut bisa ada pada dirinya. 

“Jangan marah berlebihan pada anak. Orangtua harus lebih tenang. Tanyakan dari mana ia mendapatkan barang tersebut. Kenapa dia mengambilnya, dan kapan itu dilakukan,” ujar  Ketua Himpunan Psikologi (Himpsi) Kalbar. 

Pastikan anak mengembalikan barang tersebut pada orangnya. Ini memberikan pemahaman kepada dirinya, bahwa tindakan itu salah dan dia harus mengembalikan barang yang memang bukan haknya. 

“Ketika anak memaksa menginginkan sesuatu di hadapan orangtua, mungkin tidak begitu sulit bagi orangtua memberikan pemahaman. Akan menjadi masalah jika anak mengambil barang tersebut tanpa sepengetahuan dari orang tua,” jelasnya. 

Mengembalikan barang yang sudah diambil sang anak adalah salah satu cara orangtua mengajarkan kejujuran pada anak. Anak berani mengakui kesalahan, tanpa merasa dihakimi. Jangan sampai tindakan anak yang salah ini dibiarkan. Akhirnya anak menjadi terbiasa. 

“Dari kecil terbiasa, akhirnya bisa berdampak pada perilaku anak. Bahayanya, ketika beranjak remaja, bahkan dewasa anak semakin sering mengambil barang orang lain,” tutur Fitri.

Berikan hukuman dan reward sesuai usia anak. Tentu saja hukuman yang diberikan adalah hukuman yang mendidik sehingga anak tidak berulangkali melakukan kesalahan. 

“Hukuman boleh saja diberikan kepada anak, tetapi tidak sampai melukai fisik juga membuat psikologisnya tertekan,” ulasnya. 

Arahkanlah anak untuk menjadi pribadi yang baik. Berikan contoh yang pantas untuk anak tiru. Anak juga harus memahami bahwa tidak semua benda bisa menjadi miliknya, sekalipun hal itu adalah milik  saudara, bahkan orangtuanya sendiri. 

“Ajari anak kebiasaan meminjam dulu, walaupun sama saudaranya. Kebiasaan berterima kasih, dan minta tolong. Hal ini baik untuk tumbuh kembang anak, sehingga anak tumbuh menjadi pribadi yang baik,” pungkasnya. **

Berita Terkait