Balita Alami Stanting

Balita Alami Stanting

  Jumat, 26 February 2016 09:15
Gambar dari http://gizitinggi.org/mengapa-anak-bisa-stanting.html

Berita Terkait

PONTIANAK - Persoalan gizi menjadi perhatian serius bagi Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar. Sepanjang 2015 terdapat 279 kasus gizi buruk atau sebesar tujuh persen, stunting (stanting) 34 persen, dan gizi kurang 24 persen.

“Dari hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) tahun 2015, stanting di Kalbar turun sekitar empat persen,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar, Andy Jap ketika membuka Orientasi Media tentang Pencegahan Stanting, Kamis (25/2) di Hotel Mercure Pontianak.Stunting (stanting) adalah anak balita pendek. Biasanya selain mengalami gangguan pertumbuhan umumnya juga memiliki kecerdasan yang lebih rendah dari anak balita normal. Andy menjelaskan hasil riset kesehatan dasar (riskesdas) yang dilakukan Kementerian Kesehatan pada 2013 menunjukkan prosentasi stanting di Kalbar sekira 38 persen.

Angka ini masih diatas prosentase nasional yang sebesar 37 persen. Kemudian dilakukan PSG oleh pihak ketiga yakni Poltekkes Pontianak yang dibiayai Kementerian Kesehatan pada 2015. Hasilnya menunjukkan angka stanting di Kalbar mengalami penurunan menjadi sekitar 34 persen.“Memang belum signifikan, tetapi ada hasilnya,” ujar Andy.Penurunan ini dikarenakan Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar terus mengintervensi asupan gizi pada bayi dan balita. Kedepannya akan dilakukan intervensi asupan gizi pada ibu hamil sehingga potensi terjadinya stanting menjadi lebih kecil.

“Masalah gizi ini tak lepas dari kondisi ibu hamil. Ibu hamil dalam kondisi kurang gizi, potensi anak lahir dengan berat badan rendah dan panjang badan kurang dari normal lebih tinggi,” ungkap Andy.Tak hanya ibu hamil, Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar juga akan memperbaiki gizi para remaja putri melalui pemberian zat besi. Andy berharap seluruh kabupaten kota bisa mengerahkan tenaga kesehatan hingga ujung tombaknya.

Kepala Bidang Kesga, Gizi, dan Peran Serta Masyarakat Dinkes Provinsi Kalbar, Harry Agung mengatakan terjadi peningkatan status gizi di Kalbar. Berdasarkan hasil riskesdas 2013, prosentase gizi buruk di Kalbar sebesar 10 persen dan gizi kurang 26 persen. Prosentase ini mengalami penurunan pada 2015.Data PSG menunjukkan gizi buruk turun menjadi 7 persen atau ada 279 kasus di Kalbar dan gizi kurang sebesar 24 persen. Dari total kasus gizi buruk di Kalbar, sebanyak 16 kasus terjadi di Kalbar, Landak 18 kasus, Sanggau 19 kasus, Sintang 44 kasus, Sekadau 98 kasus, KKU 22 kasus, Kota Pontianak 15 kasus, dan sisanya di kabupaten kota lainnya.

“Penurunan ini tak cukup, karena prosentase di Kalbar masih di atas rata-rata nasional,” katanya.Harry menjelaskan ada beberapa persoalan gizi yang terjadi di Kalbar. Ada beberapa daerah yang berwarna merah (cukup tinggi) untuk gizi kurang dan gizi buruk. “Balita kurus ada, tetapi tak seperti gizi buruk angkanya,” jelas Harry.Harry menuturkan saat ini monitoring pertumbuhan balita di posyandu masih menjadi persoalan. Jumlah balita yang berkunjung dan ditimbang di posyandu hanya sekitar 50 persen.

“Mungkin ada yang tak terpantau pertumbuhannya sehingga muncul kasus gizi buruk,” ungkap Harry.Saat ini, lanjut Harry, pendekatan untuk penyelesaian persoalan gizi harus diubah. Dulu hanya mengandalkan komunitas dan lainnya. Tetapi saat ini harus melakukan pendekatan langsung kepada keluarga.“Provinsi juga sudah menginstruksikan kepada kabupaten kota. Posyandu saja tak cukup, tetapi juga harus pendekatan kepada rumah tangga. Harus ada profil kesehatan keluarga,” tuturnya.

Ahli gizi sekaligus Direktur PKGBM MCA-I, Minarto mengatakan angka prevalensi stanting di Kalbar berkisar 30 persen hingga 38 persen. Dari data yang ada, sebesar 26,9 persen anak yang mengalami stanting berasal dari keluarga kaya dan 47 persen keluarga miskin.“Tetapi pada keluarga miskin juga ada setengahnya yang anaknya tak pendek,” jelas Minarto.Data tersebut menggambarkan bahwa ekonomi menjadi faktor pendorong terjadinya stanting, tetapi ada juga faktor lainnya. Diantaranya budaya pemberian makanan. Hasil survei juga menunjukkan rumah yang tak memiliki jamban memiliki kecenderungan tinggi terjadinya stanting.Landak merupakan salah satu kabupaten sasaran pemantauan status gizi untuk penurunan stanting. “Landak dijadikan model karena perairannya tak banyak,” kata Minarto. (uni)

Berita Terkait