Bakat Otodidak, Merampungkan Komik di Warung Kopi

Bakat Otodidak, Merampungkan Komik di Warung Kopi

  Kamis, 12 May 2016 10:05
MENGGAMBAR: Yoyok tetap eksis menggambar meski di warung kopi. Malah, sumber ide dan mood kebanyakan diperoleh dari warkop. OZY/PONTIANAK POST

Mengaku otodidak. Khususnya untuk seni lukis komik. Tetapi, hal itu tak menyurutkan Wahyudi atau Yoyok menyelesaikan karyanya. Dibantu peralatan gambar dan manual, dia pun tak memilih tempat untuk menggambar. Di warkop pun, dia bisa menyelesaikan beberapa gambar komik berikut ceritanya sekaligus.Dia ingin karyanya bermanfaat buat orang lain.

FAHROZI- Sambas

PAGI baru masuk. Demikian juga, warkop pun baru memulai aktivitasnya. Yoyok terlihat memilih bangku di sudut. Secangkir kopi masih penuh. Sesekali diseruputnya. Kemudian, pria berusia 35 tahun itu pun terlihat sibuk mengotak atik gadget. 

Pria kelahiran Pemangkat ini sedang membuat komik, untuk memenuhi beberapa pesanan yang masuk.

“Biasa, sedang selesaikan pesanan,” kata Yoyok tersenyum, seraya mempersilakan untuk duduk bersebelahan dengannya. Yoyok pun menceritakan, mengenai keahliannya yakni menggambar komik. Berawal dari suka membaca komik, sejak kecil. Anak ke dua dari empat bersaudara ini kemudian mencoba untuk menggambar kemudian berkeinginan membuat komik.

“Kalau keinginan untuk membuat buku komik, memang sejak kecil. Saat mulai bisa menggambar komik,” katanya. Kalau ditanya berapa jumlah gambar komik yang telah dibuatnya, mungkin sudah tak terhitung. Mulai dari pesanan muda- mudi yang sedang kasmaran, untuk membuat komik. Kemudian pesanan instansi pemerintah, juga sering diterimanya.

Untuk buku komik, sampai saat ini, Yoyok sudah menerbitkan dan mengedarkan empat buah buku cerita komik. Pertama kali di tahun 2002, Yoyok membuat Komik cerita rakyat Pemangkat.

Cetakan buku komik pertamanya ini semuanya dilakukan sendiri. Mulai dari ide, editor, gambar, biaya cetak dan menjualnya. “Komik pertama dibuat dengan manual, kemudian saya juga dengan agak memaksa kepada teman-teman, karena untuk menutupi ongkos produksi. Pokoknya ada kawan, saya paksa untuk membeli buku komik saya,” katanya.

Buku komik ke duanya, di buat pada 2004, di karya ke duanya ini, Yoyok mengangkat tentang dongeng rakyat. Dirinya ingin menyampaikan bagaimana sekarang, anak-anak jarang sekali mendapatkan dongeng ketika akan tidur. Malahan, lebih dekat dengan smartphone atau gadget saat akan tidur.

Buku komik keduanya, dikerjakan selama empat bulan. “Kalau mengerjakan komik ini, tergantung dari mood. Kalau mood bagus bisa cepat,” katanya.

Kemudian komik ke tiganya, yang berjudul Junkie Story. Dalam buku komik yang tebalnya 23 halaman ini. Yoyok ingin menceritakan menganai kehidupan yang suram seorang pecandu narkoba. Di Karyanya yang ketiga, Yoyok mendapatkan bantuan dana dari PMI Sambas dan Unfa. 

Di 2016, Yoyok kembali melahirkan buku komiknya yang ke empat. Didalamnya berisikan pesan moral, khususnya kepada generasi muda, untuk menjauhi narkoba, tidak sek bebas termasuk pencegahan upaya perdagangan manusia. Dalam pembuatannya, Yoyok dibantu Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Sambas. 

Dalam karya-karya Yoyok, selain memenuhi pesanan, dirinya focus terhadap permasalahan sosial yang ada. Mulai dari narkoba, HIV AIDS serta kenakalan remaja lainnya. Seakan-akan Yoyok ingin menyampaikan, kepada siapapun untuk tidak coba-coba narkoba, karena barang haram ini kalau dicoba akan menjadi sebuah kebutuhan bagi pemakainya. Selain itu bahaya penggunaan narkoba juga menyebabkan terjangkitnya virus HIV dan AIDS. Sehingga narkoba akan membunuh pemakainya.

Selama melahirkan karya, selain manual dirinya juga menggunakan gadget miliknya. Kemudian ide-idenya datang dari apa yang dilihat dan dirasakan. Terkadang tetangga ataupun temannya bisa menjadi ide. Ditanya mengenai meja kerjanya. Yoyok tak terpaku di sebuah ruangan kantor. Namun dari warung kopi pun, terkadang karya-karyanya dilahirkan. 

‘’Tergantung lah. Kalau ada meja kursi sudah bisa. Kan tidak memerlukan tempat yang bagaimana. Ruang ber AC atau apalah. Kalau mood bagus, di pantai pun bisa membuat,’’ ujarnya lagi. (*)