Bahaya Penggunaan Obat Golongan ‘G’

Bahaya Penggunaan Obat Golongan ‘G’

  Jumat, 11 Agustus 2017 10:00

Berita Terkait

Masih ada yang enggan berobat ke dokter ketika sakit. Kebanyakan mereka lebih memilih menduga-duga penyakit yang diderita dan membeli obat di toko obat maupun apotek tanpa resep dokter. Termasuk membeli obat bergolongan ‘G’. Padahal penggunaan obat tersebut dapat memperparah penyakit, jika digunakan sembarangan. 

Oleh : Ghea Lidyaza Safitri

Obat bergolongan ‘G’ adalah salah satu obat berbahaya karena memiliki khasiat keras. Dalam bahasa Belanda, obat ini lebih dikenal gevaarlijk, dimana ketika digunakan sembarang akan berdampak meracuni tubuh atau memperparah penyakit yang ada. 

Ketua Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran Untan, Rise Desnita, S.Farm, M.Si., Apt  mengatakan penggolongan obat secara umum ada beberapa, mulai dari obat bebas, obat bebas terbatas dan obat keras. Obat bebas adalah obat yang diperjualbelikan secara bebas hanya saja tetap digunakan sesuai dengan kebutuhan atau takaran. Obat bebas ditandai dengan bentuk lingkaran berwarna hijau, seperti vitamin. 

Obat bebas terbatas adalah obat yang bebas didapatkan, tetapi pemakaian obat disertakan perhatian. Misalnya, perhatian obat bebas terbatas ini adalah mengantuk. Jika sudah begitu, obat jangan diminum ketika berkendaraan. Obat bebas terbatas ini ditandai dengan bentuk lingkaran berwarna biru.

Obat daftar ‘G’ disebut juga dengan golongan obat keras. Karena obat ini penggunaannya harus membutuhkan pengawasan, sehingga obat bergolongan ‘G’ ini selalu ditulis dengan resep dokter.  Obat bergolongan ‘G’ dengan bentuk lingkaran berwarna merah bergaris tepi hitam dan tulisan huruf ‘K’. 

Meski termasuk dalam kategori obat keras, namun obat bergolongan ‘G’ tak melulu berada pada jenis narkoba atau psikotropika. Beberapa golongan antibiotik (penghilang rasa nyeri), seperti asam mefenamat atau ponstan untuk menghilangkan sakit gigi. Golongan obat batuk, seperti ambroksol. Obat oles, seperti antibiotik luka.

“Obat mual, serta obat diabetes juga termasuk obat bergolongan ‘G’,” ujar Sekretaris III Pengurus Daerah Ikatan Apoteker Indonesia Kalbar ini. 

Rise menyarankan agar pasien tidak membeli obat bergolongan ‘G’ secara bebas. Termasuk pula bagi pasien yang hanya mengira-ngira penyakit yang diderita. Obat bergolongan ‘G’ ini hanya dapat digunakan sesuai dengan diagnosa. Misalnya obat diabetes, jika digunakan bukan pada pasien khusus, maka akan menyebabkan efek samping.

“Gula darah pasien akan menurun secara drastis dan membahayakan kondisinya,” tutur Rise. 

Antibiotik juga termasuk golongan obat keras yang dapat menimbulkan efek samping. Sehingga harus patuh dalam penggunaannya. Jika dikonsumsi selama 7 hari, maka harus selesai pada rentang waktu itu juga.

Sayangnya, meski termasuk obat keras dan harus dalam pengawasan dokter, masyarakat tetap mudah mendapatkan obat bergolongan ‘G’ ini. Akan tetapi obat ini dapat diberikan dengan syarat dan ketentuan.

Pembeli atau pasien sudah menggunakan dan mengetahui indikasi penyakit yang diderita, serta paham aturan pakainya. Misalnya, pembeli atau pasien tahu untuk menghilangkan sakit giginya ini harus menggunakan asam mefenamat. 

Selain itu, ia juga tahu dalam penggunaannya, yakni setelah makan dan diminum hanya saat sakit. Jika begitu, apotek dapat memberikan obat bergolongan ‘G’. Tentunya, dengan batasan jumlah terbatas pemakaian. 

“Jika sakit berlanjut, pasien tetap harus konsultasi ke dokter,” tambah Rise. 

Ketika seseorang meminum obat tanpa tahu penyakitnya, dan di kemudian hari ia terjangkit penyakit yang sama, pasien akan mengalami resisten atau kebal terhadap obat tersebut.

Lantas, bagaimana menanggapi peredaran obat bergolongan ‘G’ yang diperjualbelikan? Penyalahgunaan obat memang kecil kemungkinan dari pihak menjual. Terkadang pemberian dilakukan karena iktikad baik untuk membantu pasien. 

Rise menuturkan penyalahgunaan obat berada di tangan konsumen. Biasanya obat golongan ‘G’ yang disalahgunakan adalah psikotropika dan narkotik, atau golongan obat prekusor. Sangat penting untuk mengedukasi pasien, sehingga apotek tak dianggap melanggar aturan pemberian obat, khususnya obat keras.

Seperti halnya obat batuk ambroksol yang saat ini sudah termasuk dalam kategori obat public warning. Balai POM  menyatakan obat ini dapat menyebabkan reaksi alergi. Alergi terjadi disebabkan karena sistem imun. Terkadang ada orang yang sangat sensitif, makan obat ini malah alergi dan gatal-gatal. Pasien tak menyadari alergi dari obat, tapi lebih pada makanan. 

Penggunaan obat bergolongan ‘G’ juga dikarenakan adanya mitos di lingkungan masyarakat, jika bukan obat keras tidak akan sembuh. Obat keras ini bukan dikarenakan dosisnya yang besar.

“Lebih pada penggunaannya yang tanpa pengawasan tepat akan berbahaya bagi seseorang,” ungkapnya.**

Berita Terkait