Bahasa sebagai Cermin Peradaban

Bahasa sebagai Cermin Peradaban

  Sabtu, 31 Oktober 2015 08:29   537

Leo Sutrisno

DALAM buku Filsafat Bahasa, Prof. Soepomo Poedjosoedarmo (2001) menyebutkan ada sembilan fungsi bahasa. Dua di antaranya adalah bahasa sebagai alat berkomunikasi dan bahasa sebagai cermin peradaban (bangsa). Kedua fungsi bahasa itu kiranya relevan untuk dibahas dalam satu tarikan pada bulan Oktober ini. Karena, kecuali dimaknai sebagai Bulan Bahasa, bulan Oktober  juga mengandung satu tanggal istimewa bagi Indonesia, 28 Oktober-Hari Sumpah Pemuda.

Bahasa sebagai alat berkomunikasi berarti bahasa sebagai penyampai maksud. Karena maksud itu sangat beragam maka ada variasi tutur (disebut register), suatu wacana yang bersifat khas. Bagi ahli bahasa Jawa, misalnya, akan mendapati 14 tingkat tata tutur yang sesuai dengan posisi para peserta komunikasi (dalam bahasa Jawa).

Mangapa terjadi demikian? Karena, dalam berhubungan dengan orang lain masyarakat Jawa tradisional mengacu pada empat sumbu koordinat, yaitu: sikap batin, rasa, tempat, dan tindakan. Orang disebut tahu adab (Jawa) jika posisinya terhadap keempat sumbu koordinat itu tepat. Artinya, posisinya memenuhi sikap batin yang tepat, rasa yang tepat,  tempat yang tepat, serta tindakan yang tepat. Dalam berkomunikasi, tindakan yang tepat akan terwujud dalam tata tutur yang digunakan benar.

Saya, ketika berkomunikasi dengan sesama kolega guru akan menggunakan tata tutur yang berbeda dengan tata tutur jika saya berbicara dengan pembantunya. Saya  juga akan menggunakan tata tutur yang berbeda jika berbicara dengan kedua orang tua kawan ini. Ketika saya berbicara dengan anaknya yang sudah bekerja akan menggunakan tata tutur yang berbeda dengan jika saya sedang berbicara dengan anaknya yang masih belajar di SD, dsb.

Dalam bahasa Indonesia, walaupun tidak serinci dan serumit tata tutur bahasa Jawa, juga terdapat tata tutur. Misalnya, saya sebagai orang biasa, rakyat kecil, tidak akan dengan mudah mengucapkan “Saya akan menemui Gubernur”. Saya cenderung mengatakan, “Saya akan menghadap Gubernur”.

Ada banyak  kata dalam bahasa Indonesia yang sebaiknya digunakan untuk berbicara kepada orang lain. Tetapi, tidak banyak orang yang menyadarinya. Mengapa? Karena tidak pernah ada ‘transfer’ pengetahuan dari tata nilai yang terkandung kata yang digunakan dalam bertutur. Juga, sangat jarang ditemukan penjelasan resmi jika berhadapan dengan orang yang seperti ini kata yang harus adalah kata ini, dan jika dengan orang yang seperti itu kata yang harus dipakai adalah kata itu, dsb.

Akibatnya, bahasa yang berfungsi sebagai cermin peradaban tidak nyata terpapar oleh para penutur bahasa Indonesia. Rasanya, dewasa ini, amat sangat sulit memperkirakan tingkat adab seseorang berdasarkan cara bertuturnya (dalam bahasa Indonesia). Bagi saya, sangat sukar membedakan yang mana yang sarjana dan yang bukan, berdasarkan tata tutur yang digunakan ketika yang bersangkutan berkomunikasi dengan saya, misalnya.

Menurut Habermas, seorang filsuf sekuler dari Jerman abad ini, dalam berkomunikasi ada konsensus tentang empat ‘claim’ kebenaran. Pertama, apa yang dikatakan benar. Kedua, isi perkataannya benar. Ketiga, itu dikatakan dengan cara yang benar. Dan, keempat, peserta komunikasi itu tulus. Nah, keempat ‘claim’ ini tentu juga mencerminkan adab penuturnya.

Ia tulus ingin menyampaikan sesuatu yang benar kepada lawan bicara. Cara berkomunikasi dilakukannya benar. Isi yang dikomunikasikan benar. Dan, juga ia mengatakannya dengan benar (sesuai dengan kaidah bahasa yang berlaku). Orang seperti ini tentu punya adab yang baik.

Jika konsensus ini di-‘campak’-kan maka akan terjadi penyimpangan komunikasi, ada komunikasi yang tidak seimbang. Dalam kondisi seperti itu, mereka yang dominanlah yang  tampil ke depan. Terjadilah dominasi penuh muslihat (meminjam istilah Dr Haryatmoko, SJ, 2010). Orang akan bermanipulasi dengan bahasa yang digunakan. Dengan ini, juga terlihat tingkat adabnya kurang baik.

Apa yang dapat dilakukan oleh orang Indonesia menghadapi fenomena seperti ini? Kiranya, semangat sumpah pemuda – satu nusa, satu bangsa, satu  bahasa, Indonesia- saja belum cukup.Perlu ada usaha yang terus-menerus oleh setiap orang yang cinta bahasa Indonesia untuk mewujudkan fungsinya, yaitu bahasa Indonesia sebagai cermin peradaban (orang Indonesia). Semoga!**