Bagaimana Nasib Bumi Sebagai Rumah Kita Semua, Kini dan Selamanya?

Bagaimana Nasib Bumi Sebagai Rumah Kita Semua, Kini dan Selamanya?

  Kamis, 31 March 2016 16:30   2,474
bumi sedang sakit. foto dok. rumah inspirasi

BUMI tempat hidup (rumah kita semua) kini dan selamanya menjadi pilihan yang tidak bisa terelakan. Dalam arti kata, bumi juga sebagai tempat semua makhluk hidup dalam menjalani kehidupannya sebagai sumber hidup atau nafas hidup. Namun, bagaimana kini nasib dari bumi saat ini?

Setidaknya sebagai pengingat di bulan april tepatnya tanggal 22 April selalu diperingati sebagai Hari Bumi. Bumi sebagai rumah kita semua sejatinya sudah sepatut dan selayaknya untuk diperhatikan dan dipelihara secara bersama pula. Keberadaan bumi sebagai tempat berpijak (rumah kita semua) dari hari ke hari nasibnya semakin memprihatinkan. Bukan saja karena bumi sudah semakin tua renta, tetapi juga bumi sudah semakin sempit oleh para penghuninya termasuk kita.

Panas sudah semakin menyengat sepanjang hari. Hutan sudah semakin meranggas rebah tak berdaya. Iklim semakin sulit diprediksi. Petani dan nelayan nelayan kian menjerit sakit menentukan arah saat mereka bercocok tanam hingga hendak melaut. Perilaku menghargai dan menjaga bumi semakin memudar. Banjir, banjir bandang, longsor, kebakaran seolah seiring sejalan tanpa henti menghampiri. Sumpah serapah mengata ketika alam dan bumi dikata tidak bersahabat hingga dikata bencana dan sampah. Beberapa dampak dari terjadinya dari perubahan iklim tentunya yang paling terasa adalah gangguan ekologis, suhu di bumi semakin menigkat dan dampak sosial masyarakat. Dengan kata lain, makhluk hidup yang mendiami bumi semakin tidak stabil lagi. Dampak sosial masyarakat seperti misalnya para nelayan semakin sulitnya memperoleh dan mendapatkan tangkapan ikan. Demikian juga dengan para petani sulit untuk bercocok tanam saat musim tidak menentu (cuaca sulit diprediksi).

Sesungguhnya, bumi tidak meminta untuk dirawat. Namun semestinya kita sadar, bumi sebagai rumah yang didiami dari kini hingga nanti (berlanjut sampai selama-lamanya). Saat ini tidak bisa disangkal selain banjir, longsor, kebakaran, kerusakan hutan yang semakin parah dan iklim tidak menentu ada pula sekelumit persoalan yang berkaitan dengan aktivitas manusia dan mesin. Pernah kah kita menyadari bahwa pohon atau hutan memiliki fungsi utama bagi hidup, karena;  dalam satu jam, daun menghasilkan oksigen 5 ml/jam. Jika pohon memiliki sekitar 3.000 daun, maka satu buah pohon akan menghasilkan oksigen 3.000 x 5 ml = 15.000 ml/pohon/jam Udara mengandung 21 % oksigen dan setiap manusia membutuhkan 252 liter udara per jam. Sehingga kebutuhan manusia akan oksigen 21 % dari 252 liter udara atau sama dengan 53 liter = 53.000 ml oksigen per jam. Jadi untuk bernafas setiap jamnya, manusia membutuhkan 53.000/15.000 x 1 pohon = 3,5 pohon. (Andrew Skipor, Ph.D, 2001).

Deru mesin hingga polusi udara oleh semakin banyaknya pabrik dan kendaraan menjadi persoalan kini yang entah sampai kapan usai atau malah bertambah. Ketersediaan air bersih sebagai sumber hidup semakin sudah atau telah menipis. Tidak sedikit para pencari sumber air bersih yang selalu kecewa karena air bersih sama halnya mencari jarum ditumpukan jerami. Memang masih tersedia air, namun tidak semua lagi yang pasti bersih (tercemar limbah-limbah).

Sama halnya pula sampah, masalah sampah tidak kunjung terselesaikan. Akumulasi sampah yang menumpuk di tempat pembuangan akhir (TPA) jika dibiarkan lama bisa berpengaruh pada bumi akibat gas metana (gas rumah kaca) berakibat pada terjadi pemanasan global. Tidak hanya itu, sampah-sampah yang menumpuk di sekitar lautan (laut) dapat berpengaruh kepada biota laut. Misalnya saja, nasib penyu, ikan dan beberapa makhluk yang hidup di lautan ketika mereka tidak sengaja memakan sampah plastik dapat menyebabkan mereka mati. Sama halnya dengan beberapa jenis primata/satwa ataupun tumbuh-tumbuhan yang sudah atau telah semakin terhimpit di habitat mereka akibat tingkah polah prilaku manusia.

Beberapa cara atau langkah yang diambil oleh banyak pihak untuk mencari solusi. Berperilaku bijak terhadap bumi dengan gerakan hijau sebagai langkah penyelamatan bumi. Akankah bumi sebagai tempat berpijak bisa berlanjut di usianya yang semakin menua dan rentan rusak?. Semoga saja kita semua bisa menghargai dan berperilaku bijaksana terhadap bumi sebagai rumah kita semua.   

*) Petrus Kanisius ‘Pit’-Yayasan Palung 

 

Petrus Kanisius

Suka berbagi informasi tentang fakta dan realita lingkungan dan satwa