Bagaimana Anda menyusun program?

Bagaimana Anda menyusun program?

  Selasa, 3 November 2015 09:21

Berita Terkait

Makin banyak menangani klien, semakin terbuka kesempatan untuk belajar. Jadi saya lebih banyak belajar dari empirik, lebih pas biasanya. Dari empirik-empirik itu, saya nemu pola untuk menyusun programnya. Saya sharing juga dengan orang-orang yang kompeten di bidangnya, serta belajar dari buku. Meskipun kebanyakan belajar dari pengalaman para orang tua mengasuh anaknya.

Cara Anda membangun kedekatan dengan anak?

Saya di Zona kata itu dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Anak-anak sering saya libatkan, dan mereka senang. Bahkan mereka saya ajak bikin buku tentang early literacy. Saat waktunya bermain, mereka bisa bermain dengan anak-anak disini juga. Jadi mereka tetap merasa ibunya ada dan perhatian dengan mereka. Malam itu waktunya saya bercerita dengan mereka. Jadi pintar-pintarlah membagi waktu. Karena anak saya dari kecil sudah terbiasa mengekspresikan apa yang diinginkannya, jadi tidak kesulitan sebenarnya.

 

Pontianak masih kota layak anak?

Kota Pontianak masih menjadi kota yang  layak anak, dan masih toplah untuk membesarkan anak disini. Alamnya masih bisa kasih ruang untuk bermain anak. Lingkungannya juga, jadi anak-anak bisa bermain, bersepeda dengan anak tetangga. Kalau di Bogor sudah sulit, sudah tidak ada lagi alamnya. Bahkan harus ke Kebun Raya Bogor, lewat macet yang panjang.

 

Bagaimana me time Anda?

Saya kurang suka jalan-jalan ke mal. Saya lebih suka itu pijat sebab saya butuh sehat. Kadang ke salon pijatnya, kadang juga panggil tukang pijat ke rumah. Selain itu makan, saya suka nyobain masakan dari restoran satu ke restoran lainnya bersama anak-anak.

 

Apa harapan besar Anda?

Saya ingin anak-anak di Pontianak itu happy, karena mereka bisa jadi diri sendiri. Demikian pula harapan dengan ibu-ibunya, agar happy mengasuh anak-anaknya. Kalau orang sudah bahagia, mereka akan temukan passion dalam dirinya. Dengan begitu mereka akan berkarya. Seperti anak saya, yang sudah melahirkan karya berupa buku.

 

Bagaimana masa kecil Anda?

Saya merupakan anak ke enam dari 7 bersaudara. Saya menuntut ilmu di SMP 3 Pontianak, dan lanjut ke SMA N 1 Pontianak. Ayah saya, Abbasuni merupakan Wakil Gubernur Kalbar masa orde baru. Itu sebabnya saya juga sempat merasakan kehidupan protokoler. Masa kecil saya itu menyenangkan, punya banyak teman masa kecil. Hanya saja saya mengakui bahwa kehidupan protokoler itu tidak menyenangkan. Makanya saya memaklumi kalau ada orang yang tidak ingin privasinya diganggu.

 

 

Sosok ayah di mata Anda?

Sebelum sebagai wakil gubernur, ayah saya adalah seorang dosen. Ibu seorang guru. Mungkin darah ini pula yang membuat saya menikmati aktivitas di dunia pendidikan. Sosok ayah merupakan orang yang bijaksana dan disiplin. Meskipun memiliki ragam kesibukkan, dia tetap memperhatikan anak-anaknya. Saya menyadari bapak saya itu bukan hanya bapak saya, tetapi bapak untuk banyak kalangan. Dalam kesibukan luar biasa dia sangat mengenal anak-anaknya satu persatu. Dia tidak banyak bicara, tetapi bisa langsung mengarahkan anaknya pada intinya. (mrd)

 

 

Berita Terkait