Badut Jenaka Pengambil Nyawa

Badut Jenaka Pengambil Nyawa

  Kamis, 12 November 2015 11:16

BADOET

Pemain : Daniel Topan, Christoffer Nelwan,Aurelie Moeremans, Ratu Felisha, Marcel Chandrawinata, Ronny Paulus Tjandra, Tiara Westlake

Sutradara : Awi Suryadi

Produser : Daniel Topan, Harish Kemlani

Screenplay : Agasyah Karim, Khalid Khashoggi, Awi Suryadi

Produksi : DT Film Indonesia

Durasi : 87 menit

Tanggal rilis : 12 November 2015

 

BADOET diawali dengan kehidupan harmonis penghuni flat di pinggiran Jakarta. Namun, kehidupan mereka terusik saat tiga anak penghuni flat ditemukan tak bernyawa karena bunuh diri. Tiga pemuda penghuni flat lantas menyelidiki penyebab kematian tersebut. Sayangnya, mereka terlambat menyadari bahwa yang mereka hadapi datang dari kegelapan terdalam dan mungkin mereka tak bisa menghindarinya.

Pemilihan sosok badut ternyata terinspirasi dari ketakutan sang sutradara, Awi Suryadi, dan produser, Daniel Topan. Meski begitu, film itu tak berkonsentrasi pada fobia badut, melainkan pada teror yang disebarkan badut. “Kalau lagi syuting ramai-ramai sih, aku nggak takut. Tapi, kalau berdua aja di set yang spooky gitu, ya masih takut,” ujar Awi. Untuk merealisasikan tokoh tersebut, Awi juga banyak belajar dari serial dan film luar negeri. Bukan untuk meniru, melainkan untuk memastikan bahwa tokoh badutnya berbeda dengan yang sudah ada.

Meski setting-nya kental dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, Awi berani menjamin film garapannya tersebut berbeda dengan f lm-film horor Indonesia yang sudah ada. Menurut dia, selama ini film-fi lm horor Indonesia bergaya seperti film horor Thailand yang hantunya muncul tanpa alasan. “Jadi, kesannya yang penting seram dan mengagetkan. Beda dengan Badoet yang lebih modern ini,” kata sutradara kelahiran Bandar Lampung tersebut. Horor modern yang dimaksud terlihat dari gaya storytelling yang lebih sabar agar penonton lebih merasakan kengerian yang ditebarkan si badut. “Setiap detail cerita akan membawa penonton berkenalan lebih dekat dengan para tokoh. Ya biar penonton merasakan apa yang dirasakan mereka. Mulai rasa penasaran sampai rasa takut,” tuturnya.

Keinginan itu tentu tak lepas dari akting para pemain. Karena itu, dengan piawai, Awi mengarahkan Daniel Topan, Ratu Felisha, Christoffer Nelwan, Marcel Chandrawinata, dan pemain lain untuk berekspresi senatural mungkin. Selain storytelling, kesan modern pada Badoet terasa dari backsound dan soundtrack yang sering menggunakan musik retro dan EDM. Backsound yang menandai kemunculan si badut pun bukan backsound yang mengagetkan, melainkan suara kotak musik untuk menambah kesan seram. “Tapi, kami nggak banyak mengeluarkan musik yang sama agar penonton nggak bosan dan gampang menebak alur cerita,” terang sutradara berusia 38 tahun tersebut.

Meski tampak semangat menggarap Badoet, ternyata Awi memiliki tantangan tersendiri. Sebab, pengambilan gambar, lighting, hingga editing-nya berbeda jauh dengan tiga film yang dia garap sebelumnya. Yakni, Street Society (2014), Viva JKT48 (2014), dan Bidadari Terakhir (2015). “Proses editing-nya juga cukup sulit. Kami butuh waktu dua bulan karena ada animasinya,” jelas Awi. Film yang rencananya tayang pada hari ini juga menjadi come back Ratu Felisha yang kali terakhir bermain dalam Something in the Way (2013). Penonton tak perlu khawatir dengan  adanya adegan vulgar yang sering  dimainkan Ratu. Sebab, dalam Badoet, dia bermain menjadi single mother yang penyayang. “Film ini pure horor kok. No ro mance. Kalaupun ada humornya, itu karena situasi saja,” tandas Awi. (*/det)