Badan Otorita Pariwisata (BOP) Danau Toba Harus Cepat Dibentuk

Badan Otorita Pariwisata (BOP) Danau Toba Harus Cepat Dibentuk

  Sabtu, 2 April 2016 10:35
sumutpos.co

Berita Terkait

KEMENTERIAN Pariwisata (Kemenpar) harus ekstras meyakinkan seluruh pemangku kepentingan akan pentingnya Badan Otorita Pariwisata (BOP) Danau Toba. Di Sulawesi Tenggara (Sultra), seluruh pemangku kepentingan sepekat mempercepat pembentukan BOP Wakatobi.

"Mungkin karena masyarakat di sini sudah menjadikan pariwisata sebagai leading sector, dan mereka membutuhkan dukungan infrastruktur dari pusat untuk menarik investasi," kata Hiramsyah Sambudhy Thaib, ketua Kelompok Kerja (Pokja) Percepatan 10 Top Destinasi.

Kesepakatan itu muncul dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar di Patuno Resort, Wangi-Wangi, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara. FGD dihadiri Bupati Wakatobi Hugua, Ketua Pokja 10 Destinasi Hiramsyah Sambudhy Thaib, Ketua DPRD La Moane Sabara, Ketua Lembaga Adat Madati La Ode Usman Baga, Asdep Jasa Kemaritiman Kemenkomar Okto Irianto, Ketua Forum Tata Kelola Pariwisata Wakatobi Saleh Hanan.

Mereka menandatangani kesepakatan meminta pembentukan BOP Wakatobi, dilanjutkan pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwiata agar share infrastruktur; jalan, air, listrik, dan telekomunikasi, bisa dikebut. Dermaga dan bandara, penentu akses dari dan ke Wakatobi, harus segera dibangun.

Hiramsyah sempat berkeliling Wangi-Wangi, dan menyebut suasana Wakatobi tidak ubahnya Bali seperempat abad silam. "Aromanya sangat pariwisata. Jadi, wajar jika pemangku kepentingan menuntut percepatan," kata Hiramsyah.

BOP Wakatobi tidak hanya mencakup Wakatobi, tapi juga kabupaten lain yang memiliki kekuatan sebagai pelengkap destinasi. BOP yang luwes akan bisa menjembatani antarkabupaten.

Wilayah yang berpotensi menjadi pendukung adalah Kaledupa, Tomia, Binongko, Buton, dan Kota Baubau.

Hugua, bupati Wakatobi, mengatakan Wakatobi punya berbagai atraksi, peninggalan masa lalu berupa benteng, dan habitat asli Buton. Ada pacuan kuda di Muna, dan lainnya.

"Namun karena kita sendirian, sepuluh tahun pun tak cukup untuk mengembangkan Wakatobi," kata Hugua.**

Berita Terkait