Ayah Natasya Tertimbun 36 Jam

Ayah Natasya Tertimbun 36 Jam

  Jumat, 11 March 2016 09:00
EVAKUASI TERAKHIR: Petugas gabungan saat mengevakuasi Meilinawati alias dr Meytertimpa yang terjebak dalam reruntuhan Hotel Club Bali di Cipanas, Cianjur, kemarin (10/3). Setidaknya 11 tertimbun dengan tiga di antaranya meninggal dunia dalam peristiwa tersebut. TATANG SUTISNA/CIANJUR EKSPRES

Berita Terkait

CIANJUR – Pelukan terakhir Natasya benar-benar seharga nyawa. Ayah Natasya, Bun Susanto, 35, akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal karena tertimpa reruntuhan bangunan Hotel Club Bali di kompleks Kota Bunga, Desa Batulawang, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, kemarin (10/3).

Susanto merupakan salah seorang di antara tiga korban meninggal dalam insiden tersebut. Dua korban meninggal lainnya adalah Budi Tanuadi Supena, 52, dan Meiliawaty alias dr Mey, 52. Pasutri itu ditemukan di balik reruntuhan kamar bernomor 125.

Proses evakuasi ketiga korban cukup alot karena mereka tertimpa material berat. Petugas harus menggunakan alat berat (backhoe), kemudian menggali secara manual karena bangunan hotel rawan ambruk.

Kepala Operasi Badan SAR Nasional (Basarnas) Danang Priandoko mengatakan, ketiga korban tertimbun reruntuhan hotel sekitar 36 jam. ”Bun Susanto ditemukan pada pukul 10.41, satu jam kemudian Budi Tanuadi, dan terakhir Meiliawaty alias dr Mey dievakuasi pada pukul 12.00,” jelasnya.

Danang menambahkan, proses evakuasi ketiga korban mendapat bantuan alat berat dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pemkab Cianjur. Tujuannya, merobohkan reruntuhan bangunan yang menimpa ketiga korban. ”Saat dipastikan jasad tidak bisa dijangkau alat berat, kami akhirnya mengevakuasi korban secara manual,” ujar Danang.

Disinggung lamanya proses evakuasi oleh tim gabungan, Danang menegaskan bahwa timnya kesulitan untuk mengevakuasi jasad para korban karena kondisinya terimpit reruntuhan. ”Saat ditemukan, semua jasad telungkup. Untuk dr Mey, jasadnya tertutup kasur dan tidak jauh dari jasad Budi Tanuadi yang terlebih dahulu dievakuasi,” lanjutnya.

Kepala BPBD Pemkab Cianjur Asep Suparman mengungkapkan, semua korban reruntuhan sudah ditemukan dan langsung dibawa ke RSUD Cimacan, Cianjur. ”Jasad ketiganya berada di rumah sakit. Berdasar informasi dari pihak keluarga, jasad ketiganya langsung dibawa ke rumah duka di Jakarta,” kata Asep pascaevakuasi. 

Asep menjelaskan, ketiga korban tertindih beton bangunan hotel yang ambruk setelah diterjang longsor. ”Kondisi ketiganya masih utuh, hanya memar-memar di tubuh,” imbuh dia.

Dengan demikian, lanjut Asep, proses evakuasi korban dianggap sudah selesai. ”Lebih cepat daripada perkiraan. Alhamdulillah, cuaca juga bersahabat sehingga dari target pukul 15.00, pada pukul 13.00 sudah selesai,” tuturnya.

Hotel Club Bali di kawasan Kota Bunga, Desa Batulawang, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Rabu dini hari (9/3) bergeser dari fondasinya karena terdorong longsoran tebing. Tiga kamar hotel, yakni bernomor 124, 125, dan 211, jebol karena terkena longsoran. Longsoran tersebut diduga terjadi karena tebing pijakan hotel serta tebing sekitar tergerus air hujan yang mengguyur beberapa hari terakhir. 

Selain tiga korban tewas, insiden tersebut mengakibatkan delapan korban terluka. Yakni, Natasya, Dewi, Mistar, Elviana, Lanny, Angelina, Ester, serta Bun Sin Kim. Proses evakuasi Natasya berlangsung dramatis. Sebab, Natasya ditemukan petugas di pelukan ayahnya, Bun Susanto. Petugas sulit mengevakuasi Susanto karena dia tidak bergerak sambil salah satu tangannya memegangi reruntuhan tembok yang hendak menimpanya. 

Sementara itu, hujan deras yang mengguyur Cianjur dan sekitarnya sejak Rabu mengakibatkan longsor di sejumlah daerah. Termasuk, yang paling parah di kawasan Cipanas. 

Petugas Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Herry Purnomo mengatakan, longsor terjadi karena kondisi tanah di Desa Batulawang sudah gembur dan tidak bisa menyerap air apabila hujan berlangsung lama.

Berdasar hasil pengamatan di lokasi, tanah tersebut merupakan lahan pertanian yang dipakai para petani untuk menanam aneka palawija dan sayuran. ”Longsor terjadi karena ada indikasi pemotongan lereng. Hujan deras yang lama juga menimbulkan kejenuhan pada tanah sehingga tidak kuat menahan air dan akhirnya longsor,” jelas Harry. (tts/bay/eza/rie/JPG/c7/agm)

Berita Terkait