Awasi Mainan Anak

Awasi Mainan Anak

  Selasa, 3 November 2015 09:01

PONTIANAK - Petugas Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Kota Pontianak menemukan beberapa jenis mainan tidak sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI), di beberapa toko mainan di Jalan Seroja, Jalan Kapten Marsan dan beberapa toko mainan di Kapuas Indah, Senin (2/11). Selain barang tak sesuai SNI, mainan air soft gun jadi perhatian petugas, karena apabila dimainkan anak kecil, dapat membahayakan dirinya dan orang lain.

Kepala Disperindagkop dan UKM Pontianak Haryadi S Triwibowo mengatakan, pengawasan dilakukan terutama pada produk mainan anak-anak yang tak memiliki SNI. “Setelah dilakukan pengawasan, hasilnya kami menemukan beberapa mainan tak memiliki SNI,” ungkapnya.Pengawasan tidak hanya mengenai SNI saja, petugas juga melihat sisi keamanan mainan itu sendiri. Apabila berbahaya bagi pengguna dan orang lain, maka diminta kepada pedagang agar tidak menjual lagi. Ia mencontohkan, mainan seperti pedang, pistol berisi peluru dan mainan yang berbentuk lancip rawan jika dimainkan. Jangan sampai ini disalahgunakan.

Kemudian kata dia, pengecekan mainan juga dilakukan dengan indikasi adanya zat kimia yang tercampur pada beberapa mainan. Apabila itu dimainkan dapat mengakibatkan terjadi migrasi. “Itu sangat berbahaya jika dilihat dari kesehatan. Apalagi jika digigit oleh balita, dapat terkontaminasi, dapat berbahaya bagi kesehatan,” terangnya.Sekarang masih dalam pengawasan untuk perlindungan konsumen. SNI merupakan standar wajib. “Karena ini sensitif terkait dengan kesehatan dan perlindungan konsumen,” katanya.

Ketika ditanya wartawan dari mana asal mainan ini, ia mengungkapkan berasal dari luar negeri, dan juga ada produk dalam negeri, diantaranya, Surabaya, Bandung dan Jakarta. Label SNI makin dicurigai pada beberapa mainan. Karena bisa saja pihak menempel label SNI pada mainannya tanpa melewati proses SNI yang benar.Selain mainan anak, nantinya pengawasan juga akan merembet ke barang lain untuk dilakukan pengawasan. Apabila ditemukan hal yang tidak memenuhi prosedur, maka pihaknya akan menyurati pihak terkait. Bukan tidak mungkin bisa sampai kepada penyitaan barang.

Sejauh ini sudah banyak kejadian terkait pengggunaan mainan berbahaya, makanya pengawasan dilakukan, jangan sampai timbul korban baru dilakukan penindakan. Ia menghindari hal tersebut.Pemilik toko mainan di Jalan Kapten Marsan, Erik menanggapi positif pengawasan yang dilakukan Disperindagkop. “Kalau aturan sudah ber-SNI saya kira bagus. Setidaknya peredaran barang di bawah SNI tidak lagi diperjualbelikan. Aturan ini sudah berjalan satu tahun,” ungkapnya.

Erik menuturkan, Disperindagkop datang untuk mengecek jenis mainan. Apakah memiliki SNI atau tidak, setelah itu mereka juga mengecek mainan yang diperkirakan dapat membahayakan jika digunakan oleh anak. “Tadi mereka mengecek senjata air soft gun mainan. Itu diambil dari importer. Pihak importer menyatakan bahwa mainan itu diperuntukkan hanya untuk dewasa, tidak bagi anak-anak,” ungkapnya.Apabila setelah dibeli lalu dimainkan anak-anak, maka itu bukan lagi tanggung jawab pedagang. “Mereka ada izin impor, hanya kategori tidak diawasi, kecuali senjata air soft gun benaran. Selain di toko mainan, dinas terkait juga harus mengawasi penjualan senjata air soft gun beneran yang dijual secara online. Karena saya menilai itu masih minim pengawasan,” ungkapnya.

Anggota DPRD Kota Pontianak Bebby Nailufa mengapresiasi pengawasan terkait mainan anak-anak tak ber-SNI ini. Ia meminta agar dinas terkait terus memantau terutama pada mainan ekspor. “Ini perlu pengawasan yang merupakan haknya masyarakat untuk mendapatkan perlindungan dalam menggunakan produk, baik dalam bentuk makanan dan mainan. Jangan sampai merugikan konsumen,” tegasnya.(iza)