Awasi Bersama

Awasi Bersama

  Senin, 4 April 2016 09:05
Dr Aswandi

Berita Terkait

PONTIANAK - Pengamat pendidikan dari Universitas Tanjungpura Pontianak Dr Aswandi sangat mengapresiasi usaha pemerintah merevolusi mental bangsa. Salah satunya melalui indeks integritas dalam pelaksanaan unas. 

Menurut dia, meningkatkan tingkat kejujuran unas jangan hanya dibebankan kepada para siswa. Pemerintah pusat dan daerah dalam proses distribusi soal, sekolah yang melakukan pengawasan hingga proses pengoreksian hasil Unas, semuanya ikut bertanggung jawab. “Yang terlibat dalam pra unas dan pasca unas, mereka justru lebih menentukan” ujarnya kepada Pontianak Post, Minggu (3/4).

Ia menghimbau semua yang terlibat untuk mendukung kejujuran unas. Sudah seharusnya menjadi komitmen dan tanggung jawab, dari para guru, orang tua dan pemerintah. Jangan sampai, pemerintah ikut terlibat dalam proses Unas yang tidak jujur. Karena nilai Unas sekarang sudah menjadi gengsi tersendiri bagi pemerintah daerah. 

Masalahnya sekarang, tentunya bagaimana mewujudkan hal tersebut. Soal cara mengukur tingkat integritas ini pun masih banyak diperbincangkan para ahli psikometri di Indonesia.

Terlebih lagi, sejak tahun lalu unas tidak lagi menjadi indikator kelulusan sekolah. unas hanya dijadikan sebagai pemetaan pemerataan kualitas pendidikan nasional. Seharusnya tingkat kejujuran Uunas lebih dapat ditingkatkan. 

Faktanya, dari hasil penghitungan unas tahun lalu, indeks kejujuran dari 47 persen peserta unas yang mendapatkan nilai tinggi, lebih rendah dari indeks kejujuran peserta unas yang bernilai rendah. Itupun hanya menyentuh angka 21 persen. ”Anies Baswedan sampai pusing juga. Susah sekali membuat orang jujur,” ungkapnya.

Salah satu solusi untuk meningkatkan kejujuran di dunia pendidikan, menurut Aswandi yakni dengan menyelenggarakan unas berbasis komputer. Menurut laporan tahun lalu, tingkat kecurangan dalam unas berbasis komputer mencapai 0 persen. 

Sedang unas yang menggunakan lembaran kertas banyak didapati ketidak jujuran yang sangat bervariasi. Kedepannya, pelaksanaan Unas berbasis komputer ini harus diperluas dengan menyentuh lebih banyak sekolah di daerah khususnya di Kalimantan Barat ini. 

Ia menambahkan, dua orang menteri dari Kementrian dan Budaya dan Kementrian Riset, Teknologi dan Perguruan Tinggi sudah membuat satu nota kesepahaman. Menteri Mohammad Natsir dan Anies baswedan berkomitmen menjadikan tingkat integritas atau kejujuran unas, salah satu pertimbangan untuk diterima menjadi mahasiswa baru, terutama bagi siswa yang ingin menempuh jalur SNMPTN. “Jadi memang, dalam ujian, kejujuran ada di atas segala-galanya,” tegas Aswandi. (mif)

Berita Terkait