Awas Provokasi Agra

Awas Provokasi Agra

  Selasa, 16 February 2016 11:44
BALAI ADAT: Rumah di Matalunai yang ditempati anggota Agra.

Berita Terkait

PUTUSSIBAU—Berbagai organisasi yang mengaku fokus pada masalah lingkungan hidup masuk daerah hulu Kapuas. Untuk itu, Bagian Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Setda Kapuas Hulu meminta seluruh masyarakat hulu Kapuas waspada kepada setiap organisasi atau lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang masuk ke desa masing-masing, apalagi memprovokasi masyarakat setempat.

“Kami memang telah mendata sebagian anggota Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA) di Hulu Kapuas, kecamatan Putussibau Selatan yang selama ini dicari Pemerintah setempat,” tutur Pius Buda Kasubag Pembinaan Wawasan Kebangsaan, Kesbangpol Sekda Kapuas Hulu, Senin (15/2).

Kelompok atau LSM Agra ini disinyalir memprovokasi masyarakat hulu Kapuas melawan kebijakkan Pemerintah. Lebih lanjut Pius mengatakan, pihaknya telah bertemu dengan pengurus Agra di salah satu desa Hulu Kapuas. Mereka ada tiga orang dan mengaku bernama Andi, Heru dan Masdi.

"Kami bertemu mereka baru-baru ini di Mata Lunai. Nama mereka ini berubah-ubah. Mereka tidak mau memberi tahu identitas aslinya. Bahkan nama mereka itu berubah-berubah" uangkapnya.

Menurut Pius, dari tiga orang anggota Agra itu, dua orang mengaku asal Pontianak dan satu orang mengaku berasal dari Sambas. Bahkan mereka tidak memiliki kartu tanda penduduk. Dari pengakuan anggota Agra tersebut, mereka melakukan penelitian sosial budaya dan ekonomi. Tapi saat ditanya dasar penelitian, mereka tak bisa memberi kepastian.

"Mereka tak mau memberi tahu," terang Pius.

Dikatakannya, Agra sudah berada di hulu kapuas sejak tahun 2014. Tapi dari pengakua anggota yang berhasil ditemukan, mereka baru tiga bulan disana.

"Mereka ini sudah lama kita kejar, namun baru ketemu kemaren," ujarnya. Agra di Hulu Kapuas berada di desa Mata Lunai, Bungan Jaya, Lapung dan Tanjung Lokang.Tahun lalu masyarakat Lapung sempat menghalang Pemda melakukan sosialisasi.

Saat itu, kata Pius, Pemkab akan melakukan sosialisasi wawasan kebangsaan.

"Ternyata mereka Agra ini berada dibelakang masyarakat yang menolak kebijakan pemerintah itu," terangnya.

Tahun 2014, diketahui ada 6 orang anggota Agra di Hulu Kapuas. Dulunya mereka masuk dengan alasan untuk menggali adat istiadat suku Punan, di desa Bungan Jaya, tetapi kenyataan dilapangan tidak demikian.

"Mereka sudah kami surati tahun 2014, mereka sudah kami ajak ketemu, namun justru masyarakat yang menghadang. Muncul pro dan kontra di lapangan," ucapnya.

Agra memprovokasi masyarakat, lalu membentuk pengurus adat sendiri.

Kemudian membangun organisasi dan menerapkan iuran, bisa berbentuk beras atau ayam. Di Bungan Jaya, Tanjung Lotang, Lapung sudah besar organisasinya.

Seperti di Bungan Jaya, seperti ada ketemenggungan tandingan, pemerintahan desa tandingan. Beda dengan Desa Mata Lunai belum terlalu berpengaruh Agra.

Untuk mengembangkan organisasinya, Agra mengiming-imingkan masyarakat kesejahteraan. "Dibalik itu mereka memotori pertambangan emas. Jadi kalau masyarakat mau bertambang emas, ada semacam surat peringatan dari mereka," ungkap Pius.

Selama ini, personil AGRA tinggal di balai adat. Mereka tidak diperbolehkan nginap d irumah warga.

"Dari pertemuan kemaren. Mereka AGRA ini sudah kami laporkan ke Polres Kapuas Hulu, untuk mendalami aktifitasnya selama ini,"ujar Pius.Garis besar pengaruh Agra di Hulu Kapuas adalah upaya menggerakan masyarakat melawan pemerintah. Untuk masalah agama ini belum ada indikasi.(aan)

Berita Terkait