Aturan Media Sosial untuk Pengasuh Anak

Aturan Media Sosial untuk Pengasuh Anak

  Rabu, 6 December 2017 10:00

Berita Terkait

Tak jarang kebutuhan keluarga membuat orang tua memutuskan bekerja dan memilih menyewa pengasuh untuk menjaga anak. Seiring perkembangan teknologi, pengasuh juga  tak luput dari penggunaan media sosial seperti mengunggah foto. Bahkan, terkadang menjadikan anak yang sedang diasuhnya sebagai objek foto. Lantas, bagaimana orang tua menyikapinya?

Oleh : Ghea Lidyaza Safitri

Orang tua tetap jadi posisi pertama pengasuhan terbaik seorang anak. Namun, kesibukan dalam pekerjaan membuat orang tua memercayakan pengasuhan anaknya pada pengasuh. Psikolog Isyatul Mardianti, M.Psi. mengatakan idealnya sosok pengasuh yang dibutuhkan orang tua adalah yang mampu melakukan pedekatan pada anak. Dia juga diharapkan memiliki pengetahuan tentang perkembangan dan keterampilan dalam mengasuh anak. 

Namun, sosok pengasuh ideal itu sangat sulit dicari saat ini.  Kondisi tersebut membuat orang tua dilema dan langsung menerima pengasuh yang mendaftar. Padahal, tak mengetahui latar belakang, baik kehidupan maupun pendidikan calon pengasuh, serta baik atau tidaknya pengalaman bekerja pengasuh di masa itu dan niat pengasuh saat mendaftar. Contoh-contoh seperti inilah kedepannya akan menjadi risiko dan dapat membahayakan anak di masa mendatang. Sehingga, sebaiknya orang tua sangat selektif untuk meminimalisir hal yang tak diinginkan.

Dosen IAIN Pontianak ini menuturkan dalam kesepakatan suami dan istri sangat penting dalam memilih pengasuh. Keduanya harus kompak dalam mengambil keputusan, meski beberapa diantaranya lebih menitik beratkan pada peran ibu. Adanya kesepakatan bersama meminimalisir sikap saling menyalahkan, jika terjadi sesuatu di kemudian hari. 

“Banyak pasangan yang ujung-ujungnya saling menyalahkan, karena pemilihan pengasuh hanya disepakati satu pihak. Cari, pilih dan putuskan lah bersama,” ujarnya.

Isyatul menjelaskan dalam memberikan kepercayaan pengasuhan anak, orang tua memiliki pertimbangan yang berbeda-beda. Ada orang tua yang memberikan pengasuhan 100 persen, tetapi ada juga yang memberikan kepercayaan hanya untuk urusan tertentu. Misalnya, ketika sedang berpergian jauh dengan kondisi anak yang banyak, sehingga membutuhkan peran pengasuh dalam menjaga. 

“Atau sekadar membantu urusan bersih-bersih, mengurus anak dari memberi makan, memandikan, bermain atau hal lainnya,” tutur Isyatul. 

Seiring perkembangan teknologi, pengasuh tidak luput dari penggunaan media sosial, seperti memposting dan membuat caption foto. Objek foto dan caption juga kerap mengarah pada anak yang sedang diasuhnya. Isyatul menuturkan hal ini tidak hanya bisa dilihat dari aktivitas pengasuh anak saja. Karena tidak jarang, orang tua, keluarga atau saudara yang berada di sekitar anak melakukan aktivitas tersebut.

Ketika memposting hal tersebut di media sosial, pengasuh harus pandai memilah foto dan caption yang tepat. Selain itu, jangan langsung mempostingnya, karena tanpa disadari ada risiko atau bahaya yang mengintai. Sebelum posting, pengasuh harus memikirkan aman tidaknya foto untuk dikonsumsi khalayak ramai. Hindari memposting foto anak tanpa busana. Foto seperti ini akan mengundang predator atau pedofil online.

Sebaiknya  tidak mengabadikan aktivitas yang dilakukan dalam aplikasi live di salah satu media sosial. Sebab, berpotensi terjadinya penculikan. Apalagi, jika anak sedang berada berdua saja dengan pengasuh. 

Seorang pengasuh juga perlu meminta izin saat akan memposting foto anak yang diasuh dalam akun media sosialnya. Jika anak sudah berusia cukup besar, pengasuh juga bisa menanyakan pendapat anak. Anak berhak menentukan boleh tidaknya untuk memposting foto di media sosial.

“Sebelum memposting, pikirkan lebih dulu dampak negatif dan positif. Begitu pula dalam memberikan caption atau komentar. Hindari menjelekkan atau membuat caption negatif tentang anak,” ujarnya. 

Isyatul juga menyarankan agar memikirkan kembali kembali tujuan mengunggah foto. Jika tidak bermanfaat dan terkesan berbahaya, urungkan niat untuk memposting foto tersebut. 

Ketika orang tua merasa kecolongan terhadap unggahan foto oleh pengasuh, orang tua bisa langsung mengambil kebijakan. Apakah dengan menasehati atau langsung memecat. Orang tua harus tegas dalam bertindak. Tidak ada salahnya sejak awal, ketika menitipkan anak pada pengasuh orang tua sudah memberikan rambu-rambu. Pemberian sanksi kembali pada kebijakan orang tua. Cara berkomunikasi bisa langsung diberikan orang tua pada pengasuh. 

“Tidak menutup kemungkinan adapula pengasuh yang tidak mengetahui dampak yang ditimbulkan dari postingannya. Dia tidak mengerti pedofil atau hal lainnya. Sehingga, perlu dijelaskan,” ungkap Isyatul.  

Orang tua perlu dapat memantau aktivitas yang dilakukan pengasuh dengan ikut mem-follow media sosial pengasuh, atau melihat aktivitas di rumah. Bagi orang tua yang cukup mampu, bisa memfasilitasi rumahnya dengan CCTV. Sedangkan untuk rumah tanpa CCTV, orang tua bisa  menanyakan apa saja yang dilakukan setiap harinya pada pengasuh dan anak,setelah pulang bekerja.

“Dengan begitu, orang tua dapat mengetahui apakah antara jawaban pengasuh dan anak sama. Apalagi untuk anak-anak yang sudah bisa diajak komunikasi,” tambahnya. 

Orang tua juga bisa membuat kesepakatan dengan pengasuh berkenaan dengan unggahan maupun postingan di media sosial. Sebaiknya, tidak sering memposting hal-hal pribadi karena dikhawatirkan bisa dimanfaatkan oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab. Terlebih jika postingan menyertakan alamat dan kondisi rumah secara lengkap. 

“Atau hal-hal apa saja yang dapat memancing dan menjadi data, sehingga bisa dijadikan objek dalam melakukan kejahatan,” pungkasnya.**

Berita Terkait