Atbah Romin Suhaili Calon Bupati Sambas, Bangun Sambas Tanpa Korupsi

Atbah Romin Suhaili Calon Bupati Sambas, Bangun Sambas Tanpa Korupsi

  Sabtu, 12 December 2015 08:38

Berita Terkait

Tak banyak yang tahu siapa sosok Atbah Romin Suhaili sebelumnya. Beredar kabar ia hanya dikenal jasanya dalam sejumlah pembangunan masjid bantuan dari Arab Saudi. Kini calon Bupati Sambas yang berpasangan dengan Hairiah ini kini menjadi buah bibir seantero Bumi Terigas. Berhasil unggul dalam perolehan suara dalam pilkada serentak di Kabupaten Sambas.HARI KURNIATHAMA, Sambas

Siang kemarin, Jumat (12/11) cuaca panas menyelimuti Kota Sambas. Umat Islam berbondong-bondong ke masjid untuk menunaikan salat Jumat. Tak seperti biasa, ada yang tampak beda di Masjid Babul Jannah, tepatnya di Jalan Gusti Hamzah. Lengkingan suara menyeru kebaikan keluar dari bibir seorang khatib di atas mimbar. Khatib itu adalah Atbah Romon Suhaili.

Secara umum, ia menyampaikan pesan persaudaraan, makna ukhuwah Islamiyah dan mengimbau agar tidak ada lagi perpecahan dalam masyarakat. Persatuan menjadi topik utama yang ia sampaikan. “Meski warna warni itulah keberagaman. Keberagaman itu kekayaan untuk kita bersatu,” itulah salah satu pesan yang disampaikannya.  Setelah berkhutbah, dengan berpakaian teluk belanga warna kuning dan berpeci hitam bermotif, Atbah mengimami ribuan jemaah. Usai salat, bersama sebagian jemaah Atbah melakukan sujud syukur.

Pria kelahiran Sajad, 20 Januari 1970 itu sosok murah senyum. Jika bicara senantiasa antusias. Selain itu, yang khas dari Alumnus Islamic University Of Madinah Al Munawarrah Saudi Arabia itu adalah gaya bicara kearab-araban bercampur logat Sambas. Dalam berbagai pertemuan dengan masyarakat, Atbah senantiasa tampil bersajaha dan apa adanya.

Salah satu rekan kelasnya di sekolah dasar, Latif, menceritakan, Atbah kecil merupakan anak kampung kebanyakan. Mengail dan menangkap ikan di sungai menjadi kesehariannya sepulang sekolah. Namun di balik kebanyakan anak kampung, Atbah dikenal memiliki tekad keras mencapai keinginannya. “Bahkan kalau sedang belajar di rumah diajak bermain ia tidak mau, selesai belajar baru bermain. Saya kenal dia disiplin waktu,” ungkap Latif mengenang Atbah.

Bahkan Latif yang kini berusia 46 tahun cukup mengenal keluarga Atbah. Ayahnya seorang tukang jahit dan ibunya bidan kampung serta tukang urut, tak heran sejak Atbah kecil membiayai sekolahnya sendiri karena tergolong keluarga tak mampu. “Bahkan sejak usianya mengenyam pendidikan SMP, kedua orangtuanya sudah meninggal. Sejak itulah Pak Atbah sudah yatim piatu,” ungkapnya.

Namun, Latif melihat kondisi ini tak membuat Atbah putus asa. Bahkan belajar menjadikannya orang seperti saat ini. Dari sekolah ke sekolah ia terus mendapat beasiswa dari rajin belajar itu. Sebagai teman ia berharap Kabupaten Sambas dibawah kepemimpinannya lima tahun mendatang bisa lebih baik. “Jika dulu dari keluarga kurang mampu dan yatim piatu, siapa sangka sekarang Pak Atbah bakal menjadi orang nomor satu di Sambas,” ujarnya.

Hal senada diceritakan Eko Suprihatino yang juga teman kecil Atbah. Ia melihat Atbah sebagai sosok sederhana, pintar, religius. “Bahkan beliau ini ustaz gaul, dekat dengan masyarakat, jiwa sosial yang tinggi terhadap masyarakat,” ceritanya.

Menurut Eko, Atbah sangat dekat dengan orang-orang miskin. Dia biasanya kerap menginap di rumah warga untuk mengetahui jelas kondisinya seperti apa.Atbah memperistrikan Lusyanah Kosasih dan dikarunia empat putra, yakni Fida` Azzam Madania, Dzaka` Azzam Jakartia, Ala` Azzam Sambasia, Risa` Azzam Emiratia dan satu putri Hilwa` Azzam Mecciya. Nama belakang anak-anaknya itu diambil dari tempat kelahiran buah hatinya. Atbah sosok yang agamis. Ia dan istrinya ini membimbing anak-anaknya menjadi seorang hafiz, penghafal Alquran.

Masa pendidikannya sebagian dihabiskan di pondok pesantren. Tamat dari SDN Tengguli Sambas, ia masuk pesantren Ussuludin Singkawang, ponpes M Basuni Imran Sambas, Ponpes Alquran Al-Faizin Pontianak, dan Madrasah Aliyah Mujahidin Pontianak. Kecintaannya mendalami ilmu agama membawa ia menjani hari-harinya sebagai pendakwah. Tercatat ia merupakan dai, dosen, guru bahkan menjadi penghafal Alquran.

Ke depan, Atbah menyatakan akan berusaha mewujudkan kesejahteraan masyarakat dengan niat yang baik, jujur, dan amanah. Dan yang lebih penting, kata dia, dia akan berusaha mencintai semua etnis, agama, dan seluruh elemen masyarakat di Kabupaten Sambas ini .

“Kami akan mengakomodir seluruh masyarakat yang ada di kabupaten Sambas. Karena banyak suku dengan berlatar agama yang berbeda. Kami peduli akan hal itu dan akan merangkul semua masyarakat Sambas tanpa terkecuali dan tanpa diskrimasi. Kami ingin menjadi pemimpin yang religius dan nasionalis,” ucapnya. Apa yang dia capai, diakuinya merupakan dukungan seluruh masyarakat Sambas. Secara pribadi dirinya sejak tiga tahun lalu sudah bermunajat kepada Allah SWT seperti doanya Nabi Sulaiman yang kira artinya: "Ia berkata: Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahilah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seseorang pun sesudahku." (QS. Shad: 35).

Doa ini lebih keinginannya untuk berbuat lebih besar dan bermanfaat bagi orang banyak, mulai dari rumah tangga, organisasi, hingga sebuah wilayah atau daerah. “Doa ini saya panjatkan, saya serahkan kepada Allah SWT, biarlah mengalir tanpa adanya ambisi. Karena ambisi ini sifatnya memaksa dan itu tidak diperbolehkan," katanya. Tak disangka, doa itu diijabah oleh Allah SWT tiga tahun kemudian.

 Atbah menyatakan siap membangun Sambas tanpa korupsi. Di mana ia mengatakan korupsi lebih kejam dari dari aksi terorisme, karena bisa membuat rakyat miskin dan menderita. Atbah yang juga Sekjen Lembaga Sosial DPP PKS ini memiliki jaringan yang luas bisa membawa program-program untuk kemajuan kabupaten Sambas, baik pembangunan infrastruktur dasar, mental, kesehatan dan pendidikan, bahkan itu tidak menggunakan dana APBD, dan transparansi dana yang ada.Bahkan, kata Eko Suprihatino, Atbah pernah mengutarakan langsung kepada dirinya berniat akan bermalam di rumah warga paling miskin dari desa ke desa. “Semoga apa yang menjadi visi dan misi Atbah-Hairiah bisa terlaksana dengan baik dan itu semua butuh dukungan masyarakat,” katanya. (*)  

 

Berita Terkait