Asrori, Mantan PNS jadi Pemijat Keliling Indonesia

Asrori, Mantan PNS jadi Pemijat Keliling Indonesia

  Kamis, 5 November 2015 08:14
PIJAT KELILING: Asrori, mantan guru asal Tulungagung berkeliling menawarkan jasanya sebagai tukang pijat di Kota Pontianak kemarin. Setiap hari Asrori berkeliling dari kantor ke kantor. SHANDO SAFELA/PONTIANAK POST

Demi menghidupi keluarga selama hampir 20 tahun Asrori berpindah-pindah dari suatu daerah ke daerah lain sebagai tukang pijat refleksi. Pria asal Tulungagung yang kini menawarkan jasanya di Pontianak ini ternyata mantan guru TK (PNS).IDIL AQSA AKBARY, Pontianak

Sudah menjadi rutinitasnya sehari-hari, Isak Asrori (46 tahun) berkeliling menawarkan jasa pijit refleksi di Kota Pontianak. Ayah satu anak itu menggunakan sepeda motor matik. Sebuah bak dari rotan terbonceng di jok bagian belakang. Di sana tertulis lengkap penjelasan tentang jasa yang ditawarkannya.Saat ditemui di kawasan Jalan Sultan Syarif Abdurrahman, kemarin Asrori sapaan akrabnya mengaku baru lima bulan berada di Pontianak. Proses sampainya di Kota Khatulistiwa memang cukup panjang. Hampir 20 tahun dia menekuni jasa pijat refleksi dan berpindah-pindah. Sudah banyak kota di Indonesia disinggahinya demi mencari peruntungan hidup yang lebih baik.

 

Tak disangka pria berkumis yang ramah ini ternyata mantan guru di Taman Kanak-kanak (TK), bahkan sempat menyandang status Pegawai Negeri Sipil (PNS). “Saya lulus PNS tahun 1990, sampai sekarang masih ingat dengan NIP saya 131908308,” sebutnya meyakinkan.

 

Pria yang kini tinggal di Jalan Prof M Yamin Gg Melati 2 No.6 A Kota Baru ini pun banyak bercerita. Dari daerah asalnya di Tulungagung, pada awal 90-an dia merantau ke Kota Sorong Papua untuk mengajar TK di Pertamina. Setahun mengajar dia pun ikut tes PNS dan lolos. Meski demikian, gajinya sebagi guru yang PNS dirasa belum cukup. “Waktu itu gaji saya hanya Rp44 ribu per bulan, untuk bayar kost saja satu bulan Rp75 ribu, sangat kurang,” ungkapnya.

 

Hingga akhirnya ada penawaran menjadi karyawan di Pertamina. Karena gajinya lebih besar, dengan harapan lambat laun bisa menjadi pegawai tetap dan menjabat posisi lebih baik, dia memutuskan pindah. “Saya berhenti jadi PNS, di perusahaan gaji saya waktu itu sudah Rp400 ribu,” tarangnya.

 

Ternyata dalam perjalanannya, hampir 10 tahun jadi karyawan posisi yang lebih tinggi tak juga didapat. Hal itu membuat Asrori kembali mengambil keputusan untuk berhenti. Sebelumnya dia sudah lebih dulu belajar dan memiliki keterampilan memijat. Gurunya seoarang tukang pijat asal Manado. “Awalnya saya hanya membantu guru pijat saya itu menawarkan jasanya ke orang-orang, sampai suatu saat saya dikasi buku untuk belajar,” jelas pria yang menikah sejak 1999 ini.

 

Dari sanalah Asrori memiliki kemampuan memijat sebagai mata pencahariannya hingga sekarang. Bermula dari teman-teman terdekat hingga membuka praktek sendiri. “Alhamdulillah mereka merasa enak dengan cara mijat saya,” katanya. Sampai pada suatu waktu kepercayaan dirinya semakin tinggi, dimana dia berhasil mengobati seorang yang lumpuh sampai akhirnya bisa berjalan. “Awalnya dia sudah sembilan bulan tak bisa berjalan, saya bantu akhirnya sembuh, itu semua juga tidak terlepas dari kekuasaan Allah SWT, kita sebagai manusia hanya bisa berusaha,” imbuhnya.

 

Mulai membuka praktek tahun 1995 hinggga sekarang ia kerab berpindah-pindah tempat. Alasannya hanya satu, untuk mendapatkan penghasilan lebih baik. Dari Sorong pada 1998 Asroro pindah ke Nabire, Maluku. Saat terjadi kerusuhan 1999 di Ambon pindah ke Serui lalu kemudian ke Biak, Papua. Sampai akhirnya memutuskan kembali ke Jawa pada tahun 2000.

 

Tak lama kembali ke kampungnya di Tulungagung pria kelahiran Ponorogo ini pindah ke Batam. Bahkan anak dan istrinya dibawa ikut merantau di sana. “Anak saya lulus SD di Batam, selama di Batam saya hanya mijat, malah sampai ke Singapura karena dekat,” katanya lagi. Karena kondisi masyarakat di sana yang kian berubah pasien Asrori sepi. Kembali mencari tempat yang lebih baik, dia pindah ke Jakarta.

 

Di Jakarta sejak 2005 nasibnya lumayan baik. Dia sempat menjadi tim pijat refleksi untuk Tim Tenis TNI Angkatan Darat. Karena sering mijat di lingkungan TNI, banyak pejabat TNI berpangkat tinggi yang berlangganan. Namuan karena padatnya ibukota, untuk pertamakalinya Asrori memutuskan pindah ke Kalimantan. Di Balikpapan setahun pindah ke Bontang. “Di sana daerahnya susah air saya sempat balik lagi ke kampung, terus ke Bali, NTT dan NTB hanya dalam setahun,” jelasnya.

 

Lalu berita duka harus dihadapinya, saat istri tercinta tutup usia akibat kanker ovarium pada 2014 lalu. “Sudah berusaha berobat kemana-mana tapi tuhan berkata lain,” ucapnya. Mencoba memulai segalanya dari nol, sampailah dia di Pontianak. “Di sini kebetulan saya punya teman ngaji waktu SD yang sudah sukses, segalanya saya dibantu, motor saja dipinjamkan, saya juga bantu jaga kost-kostan miliknya,” ungkapnya.

 

Baru sekitar lima bulan di sini dia mengaku pendapatannya lumayan baik. Dia pun rutin berkeliling dari kantor, masjid dan tempat umum lainnya. “Setiap Jumat saya di Lapangan Tenis Palapa mijat anggota TNI yang berolahraga, kadang juga ada panggilan ke beberapa tempat,” tuturnya. Penghasilannya selain untuk kehidupan sehari-hari juga membiayai kuliah anaknya.

 

Menurutnya keyakinan untuk sembuh penting bagi pasien yang dipijatnya. Dalam memijat juga harus tepat sasaran serta memperhatikan kemampuan orang yang dipijat. “Jika sakit jangan dipaksakan harus senyaman mungkin, selain itu keyakinan untuk sembuh adalah sugesti yang sangat membantu proses penyembuhan,” tandas pemijat yang menggunakan alat pijat tanduk rusa ini. **